Kenaikan Utang PLN Berbanding Lurus dengan Jumlah Aset
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Kenaikan Utang PLN Berbanding Lurus dengan Jumlah Aset

Sabtu, 12 Juni 2021 | 13:24 WIB
Oleh : Lona Olavia / WBP

Jakarta, Beritasatu.com- Ramai perbincangan mengenai utang PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero yang tembus di atas Rp 500 triliun membuat publik bertanya-tanya di tengah BUMN itu sebagai pemain tunggal dalam bisnis listrik di Indonesia. Namun Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan menilai, pinjaman tersebut wajar karena digunakan untuk kegiatan produktif.

”Memang utang PLN mengalami peningkatan dalam 5 tahun terakhir ini, tapi berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan kenaikan ini berbanding lurus dengan jumlah aset yang dimiliki oleh PLN. Hal ini membuktikan bahwa dana pinjaman tersebut digunakan untuk kegiatan produktif. Periode 2015 – 2020, aset PLN mengalami peningkatan menjadi Rp 1.589 triliun, naik sebesar Rp 275 triliun,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (12/6/2021).

Menurut dia, sesuai dengan Perpres No 4/2016, PLN mendapatkan penugasan untuk Percepatan Pembangunan Infrastruktur Kelistrikan seperti FTP-1 dan 35.000 MW yang membutuhkan dana tidak sedikit. PLN harus memutar otak agar penugasan tersebut bisa berjalan. ”Kebutuhan untuk program 35.000 MW sebesar Rp 1.200 triliun, di mana PLN harus mengeluarkan dana kurang lebih Rp 600 triliun, selebihnya menggunakan dana swasta. Untuk kebutuhan tersebut, PLN harus menggunakan dana internal, PMN (penyertaan modal negara) dan pinjaman dari luar,” paparnya.

Dana pinjaman tersebut, kata dia, saat ini sudah terkonversi menjadi aset PLN, di mana infrastruktur tersebut bisa dinikmati oleh masyarakat. ”Sampai Maret 2021, progres pembangunan 35 GW yang sudah beroperasi adalah 10 GW, jumlah transmisi 23.445 kms serta gardu induk dengan kapasitas 83.947 MVA. Rasio elektrivikasi juga sudah meningkat dalam 5 tahun terakhir dari 88,3% pada 2015 menjadi 99,2% pada 2020,” sebutnya.

Melalui infrastruktur tersebut, saat ini daerah yang dahulu kekurangan pasokan listrik, saat ini sudah terpenuhi. “Keandalan pasokan listrik PLN saat ini sudah sangat bagus, karena PLN menyadari bahwa saat ini listrik merupakan kebutuhan utama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat,” jelas dia.

Di tengah gencarnya pembangunan, PLN masih memberikan kontribusi kepada negara sejak tahun 2015 melalui dalam bentuk pajak dan dividen mencapai Rp 199,5 triliun. “Patut kita apresiasi apa yang sudah dilakukan oleh PLN saat ini. Mereka pada tahun ini berhasil membukukan keuntungan sebesar Rp 5,9 triliun dengan berbagai macam inovasi dan efisiensi yang dilakukan,”katanya.

Dia menyampaikan, efisiensi yang dilakukan saat ini tidak mengurangi keandalan pasokan listrik kepada masyarakat. ”Jangan sampai nanti terjadi black out kembali, karena listrik saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bisa terganggu nanti roda perekonomian,”ucap Mamit.

Terkait dengan tarif adjustment, dia meminta agar pemerintah dan DPR mengkaji kembali tarif saat ini. Menurut dia, saat ini tarif listrik PLN sudah sangat murah jika dibandingkan biaya pokok produksinya. ”Beban keuangan PLN sudah semakin berat, sudah saatnya pemerintah melakukan evaluasi tarif listrik PLN. Sejak tahun 2017 tarif listrik tidak pernah mengalami kenaikan untuk semua golongan,” pungkas Mamit.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Selain Beras, Sembako Ini Juga akan Dikenakan PPN

Mulai dari jagung, garam, telur, daging, sayur dan buah hingga aneka bumbu dapur.

EKONOMI | 12 Juni 2021

Ini Daftar Kegiatan dan Jenis Pendidikan yang Akan Dikenakan PPN

Jasa pendidikan akan segera dikenakan PPN jika revisi KUP disahkan.

EKONOMI | 12 Juni 2021

Pengenaan PPN Jasa Pendidikan Ancam Upaya Majukan SDM

Rencana PPN bertentangan dengan upaya memulihkan dampak pandemi pada sektor pendidikan.

EKONOMI | 12 Juni 2021

Selain Sektor Pendidikan, Ini Daftar Jenis Jasa yang Juga Akan Dikenakan PPN

Pemerintah keluarkan 11 jenis jasa yang sebelumnya tidak dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN.

EKONOMI | 12 Juni 2021

Sejak Awal Tahun, Obligasi dan Sukuk di BEI Rp 37,4 Triliun

Sepanjang tahun 2021 ada 33 emisi dari 27 emiten senilai Rp 37,43 triliun.

EKONOMI | 12 Juni 2021

Perusahaan Perantara Transaksi Kripto Zipmex Tertarik IPO di BEI

Selain di Indoneia, Zipmex juga memiliki rencana menjadi tercatat di Bursa Nasdaq, Amerika Serikat dan Bursa Hong Kong.

EKONOMI | 12 Juni 2021

Sepekan Transaksi, Kapitalisasi Bursa Bertambah Rp 33 Triliun

Peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata volume transaksi harian bursa sebesar 23,4% menjadi 24,161 miliar saham.

EKONOMI | 12 Juni 2021

Harga Emas Melemah karena Penguatan Dolar

Harga emas di pasar spot turun 1,2% menjadi US$ 1.875,31 per ons.

EKONOMI | 12 Juni 2021

Harga Minyak Tembus Rekor Baru karena Pulihnya Permintaan

Minyak mentah berjangka Brent mencapai US$ 72,69 per barel, naik 17 sen.

EKONOMI | 12 Juni 2021

Negara G7 Semakin Dekat dengan Rencana Pajak Digital Global

Negara G7 yang mencakup Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan AS, memiliki visi tarif pajak global minimal 15% pada raksasa teknologi multinasional.

EKONOMI | 12 Juni 2021


TAG POPULER

# PPKM Level 4


# Makanan Sembuhkan Covid-19


# Cuaca Ekstrem


# Olimpiade Tokyo


# Kematian Nakes



TERKINI

Satgas: Tersedia 21.882 Tempat Tidur Isolasi Terpusat

KESEHATAN | 7 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS