Bank Indonesia Proyeksi Tapering Akan Dimulai November
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Bank Indonesia Proyeksi Tapering Akan Dimulai November

Selasa, 14 September 2021 | 17:46 WIB
Oleh : Triyan Pangastuti / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pengetatan kebijakan moneter (tapering off) yang dilakukan Federal Reserve (The Fed) akan mulai dilakukan pada November 2021.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa pengurangan pembelian obligasi atau tapering off oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) akan dikurangi secara bertahap, tidak akan sekaligus. Meski begitu, BI akan tetap mengantisipasi dampak dari tapering tersebut.

“Kami antisipasi ke market. Karena sudah mulai terlihat gejolak, khususnya di emerging market. Tekanan di mata uang emerging market tinggi, termasuk nilai tukar rupiah,” jelas Destry kepada Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Selasa (14/9/2021).

Kendati begitu, Destry menegaskan bahwa kondisi tapering pada saat ini tidak akan separah kondisi di tahun 2013 silam. Pada saat itu, the Fed melakukan tapering secara mendadak tanpa melakukan komunikasi terlebih dahulu sehingga memicu tekanan di pasar keuangan global.

Apalagi saat itu, kondisi fundamental ekonomi Indonesia tidak sekuat saat ini dan Indonesia juga belum memiliki instrumen keuangan yang lengkap dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah saat taper tantrum terjadi.

Sementara di tahun ini, dia melihat komunikasi The Fed lebih jelas dan terbuka, sehingga pasar sudah mengantisipasinya.

Tak hanya itu, sisi fundamental ekonomi juga sudah semakin baik, tercermin dari posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Agustus lalu mencapai US$ 144 miliar. Sehingga diklaim ampuh untuk menjaga stabilitas eksternal termasuk kinerja rupiah.

“Cadangan devisa Indonesia terus meningkat sehingga mendukung ketahanan faktor eksternal Indonesia,” tuturnya.

Kemudian untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, Bank Sentral terus melakukan Triple Intervention di pasar spot, DNDF dan pembelian SBN di pasar sekunder di tengah ketidakpastian pasar keuangan.

Destry menjelaskan pembelian SBN di pasar sekunder untuk menstabilkan rupiah dikarenakan aksi jual (sale-off) para investor. Intervensi BI di pasar SBN juga untuk mengantisipasi tekanan terhadap pasar keuangan domestik dan mencegah imbal hasil surat utang pemerintah meningkat signifikan.

Ia mencontohkan sejak pandemi Covid-19, BI telah melakukan pembelian di pasar SBN untuk mengatasi terjadinya sale-off atau keluarnya asing dari pasar domestik.

“Saat tahun 2020 dan 2021 awal kemarin (BI) sempat masuk pasar SBN sebab saat itu, terjadi sale off asing keluar cukup besar, sehingga jika tidak dukung di SBN yield akan terbang, dan kalau yield terbang maka pengaruhnya ke nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa intervensi BI di pasar akan dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kapasitas dan berjalannya mekanisme pasar. Jadi tidak serta merta BI selalu melakukan intervensi secara besar.

“Kalau BI (tidak) melakukan intervensi besar-besaran saat terjadi sale off maka cadangan devisa dipastikan akan turun dalam. Kami bisa pertahankan cadev dengan instrumen instrumen yang ada dan kondisi pasar cepat berbalik karena adanya percaya confidence (kepercayaan) pasar terkait penanganan pandemi Covid-19,” tuturnya.

Dihubungi terpisah, Ekonom Ryan Kiryanto menyebut posisi cadangan devisa Agustus yang meningkat menjadi US$ 144,8 miliar karena didukung Special Drawing Rights (SDR) atau fasilitas Hak Penarikan Khusus dari Dana Moneter Internasional (IMF) sebesa 4,46 miliar SDR atau setara dengan US$ 6,31 miliar dapat digunakan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah isu tapering.

Meski begitu, Ryan menjelaskan bahwa pengurangan pembelian obligasi atau tapering oleh the Fed akan dikurangi secara bertahap, tidak akan sekaligus. Hal ini untuk mengantisipasi adanya guncangan global atau global shock.

“Pembelian obligasi dikurangi pelan pelan sampai akhirnya stop, pembeliannya dikurangi bertahap. Sebab The Fed mengetahui, jika mereka lakukan tapering off mendadak secara frontal potensi global shock akan besar, terutama negara berkembang di Asia,” tuturnya kepada Investor Daily.

Menurutnya isu tapering sudah diantisipasi oleh pasar karena sudah gencar sejak awal tahun.

Tapering sudah price in, dan sudah disiapkan resep sedia payung sebelum hujan dan saya sepakat Gubernur BI (Perry Warjiyo) yang mengatakan BI bersama Kementerian Keuangan sudah siap jika tapering akan diterapkan,” tegasnya.

Tak hanya melihat tapering, investor juga akan melihat efektivitas pengendalian pandemi covid-19 yang dilakukan setiap negara, semakin baik pengendalian Covid-19 di suatu negara maka investor akan semakin berminat menanamkan modalnya ke negara tersebut.

Untuk Indonesia, Ryan menilai pengendalian Covid-19 semakin baik, hal ini tercermin dari kasus Covid-19 yang semakin melandai, bahkan angka fatality rate Indonesia saat ini sudah berada di bawah 5% dan di bawah batas WHO.

“Investor melihat (pengendalian pandemi Covid-19). Fatality rate semakin tinggi, maka investor enggak akan masuk negara itu. Investor akan melihat negara mana yang pengendalian inflasi lebih bagus dan Indonesia dalam sebulan terakhir penurunannya sangat bagus,” tegasnya.

Dengan demikian Ryan mengingatkan bahwa bahwa terdapat tiga faktor utama game changer pemulihan ekonomi, yakni disiplin menjalankan protokol kesehatan kesehatan 3 M secara ketat, penguatan testing, tracing dan treatment, dan mempercepat serta memperluas vaksinasi.

“Dengan peningkatan cadangan devisa Agustus US$ 144,8 miliar, maka proyeksi cadev akhir tahun akhir tahun di kisaran US$ 138 hingga US$ 145 miliar akhir tahun,” tuturnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Jakarta Garden City Borong 2 Penghargaan Golden Property Awards 2021

Jakarta Garden City meraih penghargaan Golden Property Awards 2021 untuk kategori Best Large Scale Development dan Best Of The Best Large Scale Development.

EKONOMI | 21 Oktober 2021


Ciptakan Bisnis yang Sehat, Teten Harap Semua Koperasi Kecil Segera Merger

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki berkomitmen menumbuhkan koperasi-koperasi sehat di Indonesia.

EKONOMI | 21 Oktober 2021

Miliki Komitmen K3, Polteknaker Raih Penghargaan Internasional

Polteknaker berhasil meraih penghargaaan internasional kategori pendidikan yaitu penghargaan dalam ajang World Safety Organization (WSO) Award 2021.

EKONOMI | 21 Oktober 2021

Jubir Presiden: Selama 2 Tahun, Jokowi Lanjutkan Pembangunan Infrastruktur

Selama 2 tahun ini, Presiden Jokowi) melanjutkan pembangunan infrastruktur jalan tol, jembatan, dan lain-lain agar tercipta keterhubungan antardaerah

EKONOMI | 21 Oktober 2021

Indonesia dan Inggris Bahas Kerja Sama Bilateral Bidang Ketenagakerjaan

Menaker mengadakan pertemuan virtual dengan Therese Coffey selaku Sekretaris Negara Departemen Pekerjaan dan Pensiun Inggris, Kamis (21/10/2021).

EKONOMI | 21 Oktober 2021

Kadin Dorong Peran Swasta Jadi Katalisator dalam Upaya Dekarbonisasi

Dinamika dan keseimbangan antara pemerintah dan swasta merupakan hal yang penting bagi pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.

EKONOMI | 21 Oktober 2021

Bitcoin ETF Resmi Diperdagangkan, Bitcoin Tembus ke Rp 932 Juta

Harga Bitcoin (BTC) terus menguat tembus Rp 900 juta atau lebih, tepatnya Rp 932 juta.

EKONOMI | 21 Oktober 2021

Indonesia Perlu Tingkatkan Kinerja untuk Jadi Pusat Keuangan Syariah Dunia

Indonesia diharapkan bisa menjadi pusat keuangan syariah di dunia sejalan peningkatan indeks syariah dan kinerja industri keuangan syariah nasional.

EKONOMI | 21 Oktober 2021

Bachtiar Soeria Atmadja Jadi Dirut Baru Bank Universal BPR

Bachtiar Soeria Atmadja mengungkapkan bahwa dirinya akan membantu mewujudkan misi Universal BPR.

EKONOMI | 21 Oktober 2021


TAG POPULER

# Losmen Bu Broto


# Pedang Perang Salib


# Syarat Perjalanan Domestik


# Aipda Ambarita


# Anies Baswedan



TERKINI
Kasus Sanksi Antidoping, Tim Investigasi Libatkan Polri dan Kejaksaan

Kasus Sanksi Antidoping, Tim Investigasi Libatkan Polri dan Kejaksaan

OLAHRAGA | 2 jam yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings