Impor Baja Mengalir karena KS Tidak Mampu Produksi Bahan Baku
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Impor Baja Mengalir karena KS Tidak Mampu Produksi Bahan Baku

Minggu, 19 September 2021 | 13:04 WIB
Oleh : Siprianus Edi Hardum / EHD

Jakarta, Beritasatu.com – Ketua Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), Silmy Karim, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Krakatau Steel (KS), mengatakan, sampai saat ini impor baja sebesar 66 % yang terjadi pada Januari sampai Agustus 2021. Nilai tersebut meningkat dibanding periode yang sama tahun 2020.

Menurut pengamat kebijakan publik dan juga aktivis ‘98, Fernando Emas, persoalan impor baja ini adalah bentuk kegagalan KS yang tidak mampu menyediakan bahan baku baja di dalam negeri, walaupun investasi yang ditanam di BUMN ini sudah triliunan rupiah.

Menurut Fernando proyek mangkrak PT Meratus Jaya Iron and Steel, anak perusahaan KS yang ada di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan yang sudah menyerap dana negara 2 triliunan lebih dari target 3,9 triliun seharusnya bisa menutup defisit impor baja nasional.

Jika terealisasi pabrik tersebut dapat menghasilkan slab, billet, dan bloom dari pengolahan biji besi. Saat ini impor slab, billet, dan bloom nasional mencapai 3 juta ton yang diimpor oleh KS dan Anggota ISIA lainnya dengan nilai miliaran dollar per tahunnya.

Slab, billet, dan bloom merupakan bahan baku utama industri baja dan semuanya belum dapat diproduksi di dalam negeri. “Hal ini merupakan bentuk kegagalan KS yang dipimpin Silmy Karim. Negara mengandalkan BUMN ini tetapi tidak dapat terwujud,” kata Fernando Minggu (19/9/2021).

Ia mengatakan, KS juga tidak mampu menghasilkan produk-produk baja engineering steel yang dibutuhkan sebagai bahan baku produk-produk bernilai tambah tinggi seperti otomotif, permesinan, pertahanan, penerbangan, pengeboran minyak dan peralatan-peralatan khusus.

Industri-industri tersebut tidak akan berkembang secara maksimal selama bahan baku bajanya tidak dapat dipasok dari dalam negeri.

“Alih-alih berusaha untuk melakukan diversifikasi produk, KS justru melakukan ekspansi ke sektor konstruksi yang merupakan sektor hilir. Hal ini dikhawatirkan akan menciptakan iklim usaha yang tidak sehat pada sektor hilir, mengingat saat ini sektor tersebut banyak diisi oleh industri berskala kecil-menengah (IKM),” kata dia.

Selain itu, KS juga telah menikmati uang negara yang besar termasuk perlindungan BMAD. Oleh karena itu, kinerja KS perlu dievaluasi lebih mendalam, mulai dari kebijakan perusahaan hingga operasionalnya.

“Saran saya, sudah saatnya KS memperoleh pimpinan baru yang mampu berpikir secara strategis dan visioner,” imbuh Fernando.

Sebelumnya Silmy Karim mengatakan impor baja yang berasal dari Tiongkok terindikasi dumping dan pengalihan pos tarif (circumvention). Silmy juga menerangkan impor tersebut banyak menggunakan unsur Boron sebagai unsur paduan yang digunakan untuk mengubah pos tarif HRC carbon dengan HS Code 7208 ke HRC Alloy dengan HS Code 7225.

Positif

Lebih jauh Fernando mengatakan, meningkatkan impor baja ke Indonesia menunjukkan bahwa industri nasional mampu bergeliat pada masa pandemi Covid-19.

Baja, kata dia, merupakan bahan baku berbagai produk konsumsi, baik yang berada dalam lingkup produk turunan baja itu sendiri, maupun produk-produk lain yang lebih kompleks seperti otomotif, elektronika, hingga kemasan makanan.

“Jangan dilihat impornya saja, mari kita lihat juga bahwa ekspor produk baja meningkat tajam dibanding periode tersebut, mencapai lebih dari 1.500%. Angka itu belum memperhitungkan nilai tambah yang diperoleh sektor industri penggunanya, juga substitusi impor pada produk turunannya. Ini yang seharusnya dianalisis,” kata Fernando.

Fernando menerangkan, di tengah masa pandemi Covid-19, ketika perekonomian nasional masih berangsur pulih, sektor industri logam justru mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Pada semester 1 tahun 2021 sektor industri logam ini berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 18,3 %, jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya tercatat sebesar 7,01 %.

Tingginya laju pertumbuhan sektor industri logam tersebut didorong oleh meningkatnya utillisasi produksi dari 51,2% pada Januari 2021 menjadi 79,9% pada Juli 2021.

Selain itu masuknya investasi baru baik dari dalam maupun luar negeri turut mendukung laju pertumbuhan tersebut, terangnya.

Berdasarkan data yang dilansir BKPM, pertumbuhan investasi sector industri logam pada Triwulan II tahun 2021 sebesar 31,35% atau senilai US$ 1,78 miliar dan Rp 1,67 triliun.

Dukungan kebijakan pemerintah saat ini sangat tepat terutama pada pengembangan industri logam seperti supply and demand yang terukur merupakan faktor kunci tingginya laju pertumbuhan tersebut.

Kalangan pengusaha memandang bahwa kebijakan pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasok dan kebutuhan baja nasional saat ini sudah tepat untuk menjaga laju pertumbuhan dan berharap agar kebijakan tersebut dapat terus dilakukan secara konsisten pada masa mendatang.

Di tengah fenomena kenaikan impor baja yang terjadi pada paruh pertama tahun 2021, neraca perdagangan besi dan baja nasional justru mengalami surplus sebesar US$ 2,7 miliar. “Hal ini mengindikasikan bahwa impor dilakukan untuk menciptakan nilai tambah produk besi dan baja,” kata Fernando.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Sektor Properti Mulai Rebound, Lippo Sasar Segmen Milenial

CEO LPKR John Riady mengemukakan bahwa sejak semula LPKR fokus kepada segmen market milenial.

EKONOMI | 21 Oktober 2021

Terobosan Erick Thohir Gabungkan BUMN Pangan Dapat Dukungan

Terobosan Erick Thohir menggabungkan BUMN Pangan didukung Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP).

EKONOMI | 21 Oktober 2021

Sesi I IHSG Turun, Ini 5 Saham Paling Cuan

Harga FOOD menguat 28,28%, BBHI naik 24,74%, EAST meningkat 14,29%, MPPA melonjak 9,91%, WINS terangkat 7,28%.

EKONOMI | 21 Oktober 2021

Hipmi Jaya Dorong Anggotanya Tembus Pasar Ekspor

Pengusaha anggota Hipmi Jaya disediakan wadah agar bisa naik kelas dan berorientasi ekspor.

EKONOMI | 21 Oktober 2021

IHSG Datar di Akhir Sesi Pertama

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,06% ke 6.652 pada akhir sesi pertama perdagangan hari ini, Kamis (21/10/2021).v

EKONOMI | 21 Oktober 2021

AEON Mall Southgate Residence Jakarta Selatan Mulai Dibuka November

Sinar Mas Land (SML) berencana akan melakukan soft opening atau pembukaan AEON Mall Southgate Residence Jakarta Selatan pada November 2021 mendatang.

EKONOMI | 21 Oktober 2021

PGN Gandeng Badak NGL Manfaatkan Hub Terminal LNG Bontang

PGN bersinergi dengan PT Badak Natural Gas Liquefaction (PTB) dalam rangka pemanfaatan dan pengembangan bisnis LNG di lingkup holding migas.

EKONOMI | 21 Oktober 2021

Dukung Ajang MotoGP Mandalika, Kempupera Tuntaskan 300 Sarhunta

Kempupera sulap 300 hunian tidak layak huni menjadi Sarana Hunian Pariwisata (Sarhunta), guna mendukung pelaksanaan ajang MotoGP Mandalika.

EKONOMI | 21 Oktober 2021

Kurs Rupiah Melemah ke Rp 14.110 Pagi Ini

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi hari ini, Kamis (21/10/2021), terpantau melemah ke kisaran Rp 14.110.

EKONOMI | 21 Oktober 2021

IHSG Dibuka Menguat 0,3%

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,36% ke 6.679,9 pada awal perdagangan hari ini, Kamis (21/10/2021).

EKONOMI | 21 Oktober 2021


TAG POPULER

# Losmen Bu Broto


# Pedang Perang Salib


# Syarat Perjalanan Domestik


# Aipda Ambarita


# Anies Baswedan



TERKINI
Dideklarasikan Jadi Capres, Wagub Riza: Pak Anies Tidak Pernah Bahas Pilpres

Dideklarasikan Jadi Capres, Wagub Riza: Pak Anies Tidak Pernah Bahas Pilpres

MEGAPOLITAN | 11 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings