Evergrande Lewati Tenggat Waktu Pembayaran Bunga Obligasi
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Evergrande Lewati Tenggat Waktu Pembayaran Bunga Obligasi

Sabtu, 25 September 2021 | 05:09 WIB
Oleh : Grace Eldora / WBP

Shanghai, Beritasatu.com- Batas waktu Evergrande untuk membayar US$ 83,5 juta bunga obligasi dengan mata uang dolar berlalu tanpa komentar dari perusahaan. Sementara pemegang obligasi belum menerima pembayaran dan belum mendengar pernyataan dari perusahaan properti, menurut dua orang yang mengetahui situasi tersebut. Perusahaan memiliki masa tenggang 30 hari dan akan gagal bayar jika masa itu berlalu tanpa pembayaran.

Keheningan manajemen Evergrande tentang pembayaran bunga obligasi dolar dan pembayaran US$ 47,5 juta yang akan jatuh tempo minggu depan kontras dengan perlakuannya terhadap investor domestik. Pekan ini, perusahaan menyelesaikan satu pembayaran kupon pada obligasi domestik.

Raksasa properti Tiongkok Evergrande telah membuat investor global menebak-nebak apakah perusahaan akan melakukan pembayaran bunga utama. Hal ini menambah kekhawatiran bahwa pemerintah Tiongkok akan membiarkan pemegang obligasi luar negeri menelan kerugian besar karena krisis likuiditas utang semakin dalam.

Evergrande berutang US$ 305 miliar dengan kondisi perusahaan kehabisan uang tunai. Investor khawatir keruntuhan dapat menimbulkan risiko sistemik keuangan Tiongkok dan berdampak ke seluruh dunia. "Ini adalah bagian taktik dari setiap proses restrukturisasi yang didorong oleh kedaulatan, menjaga orang-orang dalam kegelapan atau menebak-nebak," kata Firma hukum internasional Addleshaw Goddard Karl Clowry di London, Jumat (24/9/2021).

"Pandangan dari pemerintah Tiongkok adalah pemegang obligasi luar negeri sebagian besar adalah institusi Barat. Dan karenanya dapat dibenarkan diberikan perlakuan yang berbeda. Saya pikir orang-orang berpikir itu masih penurunan cepat (dalam harga atau nilai sekuritas)," jelasnya.

Bank sentral Tiongkok (PBoC) kembali menyuntikkan uang tunai ke dalam sistem perbankan pada Jumat, sebagai sinyal dukungan untuk pasar. Namun pihak berwenang diam tentang kesulitan Evergrande dan media pemerintah Tiongkok tidak menawarkan petunjuk pada paket penyelamatan.

"Ini adalah periode keheningan yang menakutkan karena tidak ada yang mau mengambil risiko besar pada tahap ini," kata Kepala Fixed Income Asia Principal Global Investors, Howe Chung Wan, Singapura, dilansir dari Reuters.

"Tidak ada preseden untuk ini pada ukuran Evergrande ... kita harus melihat dalam sepuluh hari ke depan atau lebih, sebelum Tiongkok memasuki hari libur, bagaimana ini akan diatasi," kata dia.

Evergrande menunjuk penasihat keuangan dan memperingatkan kemungkinan gagal bayar minggu lalu dan pasar dunia anjlok pada perdagangan Senin (20/9/201) di tengah kekhawatiran penularan, meskipun kini telah stabil.

Teka-teki bagi para pemimpin Tiongkok adalah bagaimana menerapkan disiplin keuangan tanpa memicu kerusuhan sosial. Pasalnya, keruntuhan Evergrande dapat menghancurkan pasar properti yang menyumbang 40% dari kekayaan rumah tangga Tiongkok.

Aksi protes oleh pemasok, pembeli rumah, dan investor yang tidak puas minggu lalu menggambarkan ketidakpuasan yang dapat meningkat jika gagal bayar memicu krisis pengembang properti lain.

Pasar global pada perdagangan Jumat tampak terguncang oleh pembayaran yang terlewat.

Bermain dengan Waktu
Saat ini, hanya sekitar US$ 20 miliar utang Evergrande di luar negeri. Namun risiko di dalam negeri cukup besar karena ancaman terhadap sektor properti Tiongkok dan karena kewajiban perusahaan tersebar di neraca bank dan seterusnya.

Sejauh ini hanya ada sedikit tanda-tanda intervensi resmi. Suntikan dana PBoC senilai 270 miliar yuan (US$ 42 miliar) minggu ini adalah jumlah mingguan terbesar sejak Januari 2021,

Bloomberg Law juga melaporkan bahwa regulator telah meminta Evergrande untuk menghindari gagal bayar jangka pendek, mengutip orang yang tidak disebutkan namanya yang akrab dengan masalah ini.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

PIK2 Terapkan Sistem Polder yang Diadaptasi dari Belanda

Kekhawatiran tenggelamnya suatu wilayah bisa dihindari dengan adanya penerapan sistem polder.

MEGAPOLITAN | 19 Oktober 2021

Lewat Trade Expo Indonesia, UMKM Didorong Jadi Eksportir

Kementerian Perdagangan dan PT BNI(Persero) mendukung para pelaku UMKM untuk menjadi eksportir lewat penyelenggaraan Trade Expo Indonesia ke-36 Digital Edition.

EKONOMI | 19 Oktober 2021

Ketua OJK Minta Pinjol Legal Beri Bunga Murah

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso meminta pinjollegal yang sudah mendapat izin memberi pinjaman dengan suku bunga murah.

EKONOMI | 19 Oktober 2021

Covid-19 Dorong Pengembang Perumahan Berinovasi Penuhi Kebutuhan Konsumen

Mencuatnya pandemi Covid-19 pada Maret 2020 hingga kini, ikut mendorong para developer atau pengembang untuk terus berinovasi merespons kebutuhan konsumen.

EKONOMI | 19 Oktober 2021

Kingland Avenue Tunjuk Cushman & Wakefield Kelola Apartemen

Kerja sama dengan Cushman & Wakefield sebagai building management, menjadikan Kingland Avenue sebagai kawasan hunian dengan pelayanan berskala internasional.

EKONOMI | 19 Oktober 2021

Serius Garap Pasar Consumer Health, Pyridam Farma Gandeng Tokopedia

PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) semakin serius memasuki pasar consumer health dengan menggandeng Tokopedia.

EKONOMI | 19 Oktober 2021

Buka Kantor Cabang Baru, Surveyor Indonesia Perluas Layanan Bisnis di Jatim

Surveyor Indonesia mengembangan usaha jasa seperti kegiatan verifikasi dalam kebersihan, kesehatan dan keselamatan lingkungan di masa pandemi.

EKONOMI | 19 Oktober 2021

Ini Daftar 106 Pinjol Legal dari OJK

OJK merilis 106 daftar pinjol legal per 6 Oktober 2021. Data itu mencantumkan nama sistem elektronik, situs, nama perusahaan, dan jenis usaha.

EKONOMI | 19 Oktober 2021

Survei SMRC: Satu Tahun Terakhir, Kinerja Pemerintah Kurangi Pengangguran Makin Buruk

Sebanyak 47% masyarakat yang menilai kinerja pemerintah dalam mengurangi pengangguran selama satu tahun terakhir ini semakin buruk.

EKONOMI | 19 Oktober 2021


TAG POPULER

# Malala Yousafzai


# Tes PCR


# Liga Champions


# Singapura


# PPKM



TERKINI
Masuk PKPU, Perusahaan Pengembang Apartemen Gayanti

Masuk PKPU, Perusahaan Pengembang Apartemen Gayanti

NASIONAL | 1 jam yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings