Indonesia Perlu Tingkatkan Kinerja untuk Jadi Pusat Keuangan Syariah Dunia
Logo BeritaSatu

Indonesia Perlu Tingkatkan Kinerja untuk Jadi Pusat Keuangan Syariah Dunia

Kamis, 21 Oktober 2021 | 20:25 WIB
Oleh : Gita Rossiana / WBP

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia diharapkan bisa menjadi pusat keuangan syariah di dunia sejalan peningkatan indeks syariah dan kinerja industri keuangan syariah nasional.

Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holdings Primus Dorimulu menjelaskan, berdasarkan survei Bank Indonesia (BI), indeks literasi syariah Indonesia baru mencapai 16,3%. Artinya dari 100 penduduk Indonesia yang beragama Islam, baru 16,3 orang yang memahami ekonomi syariah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah menaruh perhatian cukup besar terhadap perkembangan ekonomi syariah. Hal ini bisa terlihat dari adanya payung hukum untuk surat berharga syariah negara, reksa dana syariah, sukuk syariah, serta master plan industri syariah. Pemerintah juga mendirikan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) pada 2020. "Lembaga ini dibentuk untuk meningkatkan pembangunan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah serta menjadikan Indonesia sebagai pusat halal dunia," kata dia di Jakarta, Kamis (21/10/2021).

Selain dari sisi indeks syariah, Indonesia juga perlu meningkatkan kinerja industri keuangan syariah nasional. OJK mencatat, aset keuangan syariah mencapai Rp 1.907,07 triliun pada Juli 2021. Aset ini memiliki pangsa pasar 11,46% dari total aset keuangan nasional. Adapun aset keuangan syariah itu terdiri dari bank syariah yang mencatatkan aset Rp 616,08 triliun pada Juli 2021. Ini berasal dari 11 bank umum syariah, 20 unit usaha syariah (UUS), dan 165 Bank Perkreditan Syariah (BPRS).

Perkembangan aset bank syariah ini seiring dengan rasio kredit bermasalah (non performing financing/NPF) yang terus menurun. Pada Juli 2021, NPF unit usaha syariah (UUS) menurun menjadi 1,41% dari 1,93% pada 2020. Begitu juga dengan NPF bank umum syariah yang menurun menjadi 1,34% dari 1,57% pada 2020.

Pembiayaan bank syariah juga meningkat menjadi Rp 394,9 triliun pada Juli 2021 dari Rp 385 triliun pada 2020. Pembiayaan yang meningkat ini ditopang rasio permodalan kuat, yakni mencapai 24,31% dan biaya operasional yang efisien, yakni BOPO mencapai 83,48%.

Kemudian, Industri Keuangan Non Bank (IKNB) syariah mencatat aset sebesar Rp 116,5 triliun pada Agustus 2021. Aset ini berasal dari 60 asuransi, 39 lembaga pembiayaan, delapan dana pensiun, 13 lembaga jasa khusus keuangan syariah, 600 lembaga keuangan mikro syariah dan 125 finansial teknologi syariah.

Selanjutnya, reksa dana syariah mencatatkan aset sebesar Rp 39,71 triliun pada Agustus 2021 yang berasal dari 291 reksa dana syariah. Aset sukuk syariah mencapai Rp 1.187,59 triliun pada Agustus 2021 yang berasal dari 72 sukuk negara outstanding dan 191 sukuk korporasi outstanding. Lalu, aset saham syariah mencapai Rp 3.440,21 triliun pada Agustus 2021 yang berasal dari 453 saham syariah.

Primus mengungkapkan, aset keuangan syariah ini akan terus bertumbuh. Pasalnya, Islamic Finance Development Report memproyeksi aset keuangan syariah global bisa mencapai US$ 3,69 triliun pada 2024 atau bertumbuh dari 2019 yang mencapai US$ 2,87 triliun.

Namun demikian, Indonesia masih tertinggal dengan negara lain dalam pengembangan keuangan syariah. Dari sisi aset, Indonesia berada dalam urutan ketujuh dibandingkan negara lain dengan total aset keuangan syariah sebesar US$ 99 miliar. Berada di posisi pertama adalah Iran dengan nilai aset sebesar US$ 698 miliar.

Isu Aktual
Menurut Primus, pengembangan keuangan syariah tersebut tidak terlepas dari isu aktual yang ada di industri keuangan syariah. Misalnya di industri asuransi syariah mengenai penetapan batas waktu rencana pemisahan (spin off) UUS asuransi yang awalnya ditetapkan maksimal pada 15 Oktober 2020 kemudian direvisi menjadi 15 Oktober 2021. Ada sekitar 15 UUS asuransi jiwa dan 15 UUS asuransi umum yang akan melakukan spin off.

Kemudian terkait penerapan ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) atau pasar bebas ASEAN pada 2025. Hal ini disinyalir bisa menjadi tantangan bagi asuransi domestik untuk bersaing dengan pelaku industri dari negara lain.

Asuransi syariah juga berharap bisa mencapai pertumbuhan pangsa pasar hingga 20% pada 2030 sehingga untuk mencapai pertumbuhan itu, asuransi syariah harus bertumbuh 25-30% setiap tahunnya. Kemudian, asuransi syariah mendapatkan kesempatan bergabung dalam konsorsium Asuransi Barang Milik Negara (ABMN) sehingga disinyalir bisa menambah cakupan bisnis reasuransi syariah.

Sementara di industri pasar modal syariah, isu aktualnya adalah masih perlunya pengembangan produk efek beragun aset (EBA) syariah, dana investasi real estate (DIRE) syariah, sukuk crowdfunding, sukuk berbasis wakaf dan sukuk daerah. Kemudian, pemanfaatan teknologi digital dan kolaborasi dengan organisasi yang memiliki basis massa besar. "Pelaku industri syariah juga diharapkan bisa memegang teguh nilai syariah supaya tidak menjadikan produk syariah sebagai kendaraan untuk melakukan transaksi yang dilarang," ucap dia.

Sedangkan di industri perbankan syariah, Primus melihat isu yang sedang hangat dibicarakan adalah tren akuisisi bank kecil dan BPRS dan peningkatan cadangan sebagai antisipasi kredit bermasalah akibat pandemi Covid-19. Kemudian, menjamurnya shadow banking yang bisa dimanfaatkan nasabah yang terganjal SLIK dalam mendapatkan kredit perbankan serta berhentinya relaksasi dari regulator yang bisa meningkatkan NPL perbankan syariah dan konvensional.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Fintech P2P Lending Jadi Sumber Pendanaan Alternatif UMKM

Menkop UKM Teten Masduki mendorong pelaku UMKM untuk memanfaatkan fintech peer-to-peer (P2P) lending sebagai alternatif pendanaan.

EKONOMI | 9 Desember 2021

Listing, Indo Pureco Pratama Siap Bangun Pabrik Baru

Usai listing di BEI, PT Indo Pureco Pratama Tbk (IPPE) siap ekspansi dengan bangun pabrik baru beserta infrastruktur pendukung.

EKONOMI | 9 Desember 2021

Mobil Listrik, Hyundai Investasi Rp 7,62 Triliun di India

Hyundai menginvestasikan US$ 530 juta (Rp 7,62 triliun) untuk membawa kendaraan listrik ke India.

EKONOMI | 9 Desember 2021

Ekspor Mi Instan Indonesia Tembus Pasar Non-Tradisional

Ekspor mi instan Indonesia tahun 2020 sebagian besar ditujukan ke Malaysia.

EKONOMI | 9 Desember 2021

Sssttt! Bank Ini Terapkan Work from Anywhere

PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) menjadi bank pertama di Indonesia yang menerapkan kebijakan work from anywhere (WFA) secara permanen.

EKONOMI | 9 Desember 2021

Sesi I IHSG Menguat,IPPE Kasih Cuan Lebar

PT Indo Pureco Pratama Tbk (IPPE) tercuan siang Ini saat IHSG menguat.

EKONOMI | 9 Desember 2021

Desain Arsitektur Samira Regency Bekasi Diapresiasi

PT Triyasa Propertindo, pengembang Samira Regency Bekasi meraih penghargaan.

EKONOMI | 9 Desember 2021

Sesi I, IHSG Naik 7 Poin ke Posisi 6.611

Indeks LQ45 melemah 0,7 poin (0,08%) ke level 944,8.

EKONOMI | 9 Desember 2021

Kewajiban Rp 32 Triliun, AP I Optimistis Bisa Pulih

PT Angkasa Pura (AP) I optimistis kinerja perusahaan bisa pulih pada tahun 2022 yang ditandai arus kas kembali positif Rp 1,15 triliun.

EKONOMI | 9 Desember 2021

UMKM Ingin Naik Kelas? Ini Saran Ekonom Milenial Indef

UMKM Indonesia ke depan harus beradaptasi dengan pandemi Covid-19 agar naik kelas.

EKONOMI | 9 Desember 2021


TAG POPULER

# Cynthiara Alona


# Omicron


# Kecelakaan di Ruas Semarang-Demak


# Hari Antikorupsi


# Ilham Habibie



TERKINI
Hoodie, Pilihan Outfit yang Sesuai untuk Musim Hujan

Hoodie, Pilihan Outfit yang Sesuai untuk Musim Hujan

GAYA HIDUP | 2 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings