Logo BeritaSatu

Pegiat Lingkungan Tuntut Keterbukaan Informasi Peta Jalan Pengurangan Sampah Plastik

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 09:42 WIB
Oleh : Siprianus Edi Hardum / EHD

Jakarta, Beritasatu.comGreenpeace Indonesia menyayangkan tidak adanya keterbukaan informasi terkait roadmap (peta jalan) yang telah dikirim oleh 30 produsen. Greenpeace saat ini sedang membuat petisi untuk bisa mengakses peta jalan yang dibuat oleh produsen.

“Harapannya, roadmap ini bisa diakses secara mudah oleh publik, sehingga publik bisa menjadikan tanggung jawab produsen atas kemasan dan sampahnya mereka sebagai salah satu pertimbangan ketika membeli,” ujar Muharram Atha Rasyadi, juru bicara Greenpeace Indonesia pada webinar media “Efektivitas Peraturan Menteri (Permen) KLHK 75/2019 Dalam Mengurangi Sampah Plastik Sekali Pakai”, di Jakarta, Jumat (22/10/2021).

Muharram mengapresiasi keberadaan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. “Namun kami menyayangkan tidak adanya keterbukaan informasi terkait roadmap yang telah dikirim oleh 30 produsen,” kata dia.

Harapannya, kata Muharram, roadmap ini bisa diakses secara mudah oleh publik, sehingga publik bisa menjadikan tanggung jawab produsen atas kemasan dan sampahnya mereka sebagai salah satu pertimbangan ketika membeli.

Muharram mengatakan, keseriusan KLHK untuk menyelesaikan permasalahan sampah plastik di Indonesia juga dipertanyakan pegiat dan pengamat regulasi persampahan yang juga Ketua Komisi Penegakan Regulasi Satgas Sampah Nawacita Indonesia, Asrul Hoesein.

Menurutnya, Peraturan Menteri LHK Nomor 75 tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen yang pemberlakuannya pada 2030 mendatang merupakan waktu yang cukup lama.

“Produsen-produsen tertentu juga masih belum dilarang untuk memproduksi kemasan-kemasan baru plastik sekali pakai seperti galon sekali pakai,” kata dia.

Menurut Asrul, pelaksanaan EPR (extended producer responsibilty) ini harusnya melalui peraturan pemerintah, yang di dalamnya diatur semua stakeholder, bukan hanya KLHK saja yang membuat peta jalan.

Ini merupakan mandat pasal 16 UU 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. “Sebenarnya dibuat dasarnya dulu, baru peta jalannya di bawah. Itu persoalannya, makanya apa yang terjadi seperti sekarang, simpang siur, galon isi ulang diserang oleh galon sekali pakai. Plastik sekali pakai ini di satu sisi dilarang, tapi satu sisi seakan-akan didukung. Makanya kenapa terjadi perang antara galon isi ulang dengan galon sekali pakai yang akhir-akhir ini muncul, itu sudah perang industri di sini. Kenapa terjadi, karena sistem EPR ini nggak ada,” ujar Asrul.

Menurutnya, KLHK seharusnya tidak perlu menunggu perusahaan mau berkomitmen atau tidak dalam melakukan tanggung jawabnya terhadap sampah-sampah plastik yang mereka hasilkan mengingat itu sudah kewajiban mereka untuk mengelolanya dengan baik.

“Jadi tidak boleh takut, karena EPR itu bukan duit perusahaan tapi duitnya konsumen. Sangat jelas bahwa mekanisme EPR itu dimasukkan dalam mekanisme harga produk,” ucapnya.

Jadi, kata Asrul, tidak heran kenapa KLHK saat ini membiarkan saja produsen yang dengan seenaknya memproduksi kemasan baru plastik sekali pakai dengan masif seperti galon sekali pakai itu.

“Ini kan aneh, kenapa pada saat muncul pelarangan plastik sekali pakai, mereka justru membiarkan salah satu industri memproduksi kemasan galon sekali pakai. Harusnya KLHK kan menegur mereka karena produk itu jelas akan menambah tumpukan sampah plastik terhadap lingkungan,” tandasnya.

Menurut Atha, Greenpeace telah melakukan survei di kota besar Jakarta Medan dan Makassar. Hasilnya banyak orang sudah sadar bahwa masalah sampah plastik berbahaya bagi lingkungan dan ini senada juga sama survei yang dilakukan oleh LIPI yang menyatakan tingkat kesadaran masyarakat kota terhadap masalah sampah khusus plastik itu tinggi tapi permasalahannya adalah ini tidak berlanjut menjadi sebuah perubahan perilaku.

“Menurut konsumen, mereka memiliki keterbatasan untuk bisa mencari kemasan-kemasan plastik yang bisa digunakan secara berulang. Itu yang menyebabkan sekalipun mereka sudah sadar akan bahaya plastik terhadap lingkungan, tapi mereka tetap menggunakannya,” tuturnya.

Begitu juga halnya dengan pelarangan plastik sekali pakai di masyarakat. Menurut Atha, di satu sisi KLHK membuat peraturan untuk pengurangan sampah plastik sekali pakai ini, tapi di sisi lain mereka juga seakan membiarkan produsen-produsen tertentu dengan seenaknya memproduksi produk-produk kemasan baru plastik sekali pakai seperti galon sekali pakai.

“Ini kan nggak selesai masalahnya. Apalagi produsen itu mengiming-iming masyarakat bahwa produk mereka lebih higienis dari galon yang guna ulang. Padahal selama ini kita nggak kenapa-kenapa mengkonsumsi air galon guna ulang ini,” ujarnya.

Jadi, Atha menegaskan bahwa yang menjadi catatan di Permen 75 itu adalah ada beberapa opsi pembatasan timbulan, pendauran ulang, dan pemanfaatan kembali.

“Sayangnya, yang kita lihat selama ini yang paling ditonjolkan adalah produsen galon sekali pakai itu bicara soal daur ulang. Saya bukannya tidak mendukungnya, tapi jangan itu dijadikan prioritas. Karena daur ulang itu jelas-jelas memiliki banyak keterbatasan, dan recycling rate global saja masih rendah. Itu artinya, kalau kita hanya bicara di hilir saja tapi tidak mengandalkan hulunya, permasalahan sampah plastik di negara kita tidak akan selesai,” katanya.

Menanggapi hal itu, Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Novrizal Tahar, mengatakan, Indonesia baru menjalankan EPR itu pada tahun 2019. “Jadi, bagaimanapun yang namanya sesuatu yang baru semua juga berjalan meraba-raba juga,” katanya.

Dia menegaskan, hirarki pengelolaan sampah itu adalah reduce, reuse, recycle. Jadi, katanya, reduce itu paling tinggi tingkatannya, baru diikuti reuse dan recycle. “Kita tahu kan bahwa selama ini galon itu reuse, berulang kali dipakai. Jadi, artinya secara hierarki, secara filosofis, itu lebih tinggi dari recycle,” ucapnya.

Seperti diketahui produk galon sekali pakai saat ini dipromosikan oleh produsennya seolah-olah lebih baik dari galon yang bisa dipakai berulang dan mudah diakses oleh masyarakat, padahal sangat bertentangan dengan hirarki pengelolaan sampah di mana pengurangan atau reduksi itu yang utama.

Arief Susanto, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) bidang Sustainability & Social Impact, mengatakan, selalu membagi apa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dalam program pengurangan sampah daur ulang dan sebagainya. “Seperti perusahaan-perusahaan besar, itu kemudian kita sharing bagaimana itu bisa diterapkan ke perusahaan-perusahaan yang lebih kecil,” katanya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Masalah Asuransi Kredit Berpotensi Berdampak Sistemik

Sejumlah perusahaan reasuransi dikabarkan mulai kesulitan membayar klaim imbas praktik tidak sehat dari bisnis asuransi kredit.

EKONOMI | 3 Oktober 2022

Digitalisasi Warung Berpeluang Tingkatkan Pendapatan 100%

Flourish Ventures merilis studi soal pentingnya toko kelontong di Indonesia (warung), sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi di masa depan.

EKONOMI | 3 Oktober 2022

Mahkota Alam Berdayakan Tenaga Lokal untuk Kurangi Pengangguran

Mahkota Alam Selayar berupaya membantu pembangunan ekonomi daerah dengan mempekerjakan mayoritas tenaga kerja lokal di perusahaannya.

EKONOMI | 2 Oktober 2022

Pacu DPK, Bank BTN Road Show Tabungan Bisnis di Surabaya

Direktur Distribution and Funding Bank BTN Jasmin mengatakan, Tabungan BTN Bisnis ditargetkan mampu meraih dana murah mencapai Rp 7 triliun.

EKONOMI | 2 Oktober 2022

Mindset Positif Modal Utama Startup Hadapi Masa Sulit

CEO Tancorp, Hermanto Tanoko, mengatakan, agar startup bisa bertahan dan berkembang di masa sulit, harus memiliki mindset atau pola pikir positif.

EKONOMI | 2 Oktober 2022

Mitra Driver Minta Potongan Komisi Dipangkas, Ini Kata Grab

Triza menegaskan, penyesuaian tarif telah dihitung sesuai aturan pemerintah, sekaligus dirancang untuk menjaga kesejahteraan mitra pengemudi Grab.

EKONOMI | 2 Oktober 2022

Soroti Isu Perempuan, G-20 Empower Rumuskan Draf Leaders Declaration

Ajang Presidensi G-20, melalui G-20 Empower memiliki misi mendukung perempuan, terutama pelaku UMKM.

EKONOMI | 2 Oktober 2022

Laba BUMN Meroket hingga 838,2%, Kinerja Erick Diapresiasi

Kinerja Erick Thohir yang sukses membawa perusahaan BUMN meraih laba bersih secara fantastis diapresiasi ekonom CORE Indonesia. 

EKONOMI | 2 Oktober 2022

Menperin: Pakai Batik Bisa Memperkokoh Ekonomi Indonesia

Menurut Menperin, memakai batik selain menunjukkan kecintaan terhadap produk dalam negeri, juga dapat membantu memperkokoh perekonomian nasional.

EKONOMI | 2 Oktober 2022

Bahlil: Tidak Ada 1 Orang Pun Bisa Ramal Ekonomi Global

Bahlil Lahadalia mengomentari kondisi ekonomi global yang dinilai banyak pihak semakin menantang.

EKONOMI | 2 Oktober 2022


TAG POPULER

# Tragedi Kanjuruhan


# Lesti Kejora


# Pembantaian di Papua Barat


# Arema FC


# Raja Charles III


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Masalah Asuransi Kredit Berpotensi Berdampak Sistemik

Masalah Asuransi Kredit Berpotensi Berdampak Sistemik

EKONOMI | 5 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings