Logo BeritaSatu

Empat Tantangan Industri Kendaraan Listrik di Indonesia

Rabu, 24 November 2021 | 22:45 WIB
Oleh : Leonard AL Cahyoputra / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah berusaha untuk membangun ekosistem kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dan baterai EV di Indonesia. Namun dalam perjalanan menuju kesana, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi dan tentu saja keuntungan bila berhasil melewatinya.

Direktur utama Industri Baterai Indonesia/Indonesia Battery Corporation (IBC) Toto Nugroho menerangkan, ada beberapa tantangan yang sudah diindentifikasi pihaknya. Tantangan pertama adalah dari segi aspek pasar atau market dari kendaraan listrik itu sendiri.

"Adapun yang paling penting adalah competitiveness dari kendaraan listrik. Kalau harga EV di dalam negeri bisa diturunkan menjadi level yang cukup kompetitif, mungkin untuk kendaraan roda empat sekitar Rp 250 jutaan dan kendaraan roda dua sekitar Rp 19-20 juta termasuk baterai, maka itu akan memberi dampak yang sangat baik," ujar Toto dalam acara Economic Outlook 2022 hari ke-3 yang digelar BeritaSatu Media Holdings, Rabu (24/11/2021).

"Selain itu, juga harus didukung dengan harga-harga yang kompetitif dari keberadaan charging station. Sehingga, dengan kompetitif itu seharusnya bisa menjadi benchmark biaya dari EV itu hampir 30% lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan basis BBM,” tambahnya.

Tantangan kedua, jelas Toto, adalah teknologi. Dia mengatakan, memang saat ini IBC mendapat bantuan teknologi dari CTL dan LG Chem. Namun di masa mendatang, Indonesia harus mempunyai teknologi yang didorong oleh research yang ada di Indonesia. “Nah ini Kerja sama kita dengan BRIN sangat penting untuk melakukan hal ini,” ucap Toto.

Tantangan ketiga adalah regulasi. Dia menerangkan regulasi yang mendorong baterai EV dan EV ini harus disinkronisasikan dari segala aspek, baik dari aspek pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

"Salah satu regulasi daerah yang mendukung EV yang ada di Jakarta, dimana masyarakat menggunakan EV di Jakarta dapat bebas dari kebijakan ganjil genap dan juga pajak barang mewah untuk EV itu 0% dibandingkan dengan mobil berbasis BBM. Kebutuhan untuk infrastruktur tadi juga disebutkan kita harus men-develop seluruh charging station,” ucap dia.

Tantangan keempat dan yang paling penting adalah mindset atau pola pikir. Toto menerangkan, mindset dari pengguna kendaraan EV tidak saja cukup karena ingin emission free, tetapi juga harus melihat bagaimana pemerintah menyakinkan bahwa di setiap titik transportasi ada charging station.

Selain itu, juga aspek keselamatan yang saat ini beberapa orang masih mengalami persepsi bahwa kendaraan EV lebih memiliki resiko. "Tapi hal itu sebenarnya sudah di mitigasi dengan teknologi terbaru. Jadi ini kalau kita lihat ada tantangan yang harus kita hadapi dan harus sama-sana mencari solusi sehingga tantangan-tantangan ini dapat kita atasi dengan baik,” ucap dia.

Ada tantangan ada juga keuntungan. Toto menerangkan, kehadiran kendaraan EV dan baterai EV memberikan multiplier effect. Dia mengungkapkan, jika hanya mengembangkan niko sulfat (bahan setengah jadi untuk baterai) GDP impact bisa mencapai Rp 53 triliun per tahun.

Namun, lanjut dia, kalau bisa mengembangkan sampai EV dan baterai EV secara lengkap, maka GDP impact yang dihasilkan bisa mencapai Rp 380 triliun per tahun. Begitu juga dari penciptaan lapangan kerja, akan menambah sekitar 23.000 hingga 33.000 lapangan kerja per tahun.

"Satu lagi yang tidak kalah penting adalah balance of trade. Jadi selain kita mengekspor dari baterai EV, kita juga bisa mengurangi impor BBM, dengan pengurangan 30% saja kita bisa dapat nilai minimal US$ 3-4 miliar per tahun. Kita bisa mengurangi emisi C02 yaitu hampir 560.000 ton per tahun untuk kendaraan yang saat ini kita gunakan,” ucap Toto.

Dia mengaku tetap optimis Indonesia dapat unggul dalam kendaraan EV meski tertinggal beberapa tahun dari negara lain yang lebih dulu terjun ke EV. Toto menjelaskan, dari kajian yang sudah mereka lakukan, saar ini ada 3 pusat EV dunia yaitu di Eropa, Tiongkok dan AS.

Pria berkacamata ini mengatakan, berdasarkan prhitungan yang dilakukan dari hulu hingga ke hilir, Indonesia dapat memproduksi baterai EV dengan harga yang kompetitif bahkan kalau kita bandingkan dengan pasar di eropa ataupun AS.

"Karena dari sisi bahan baku, kita sudah lebih murah harganya dibandingkan dengan lain. Kita juga terintergrasi dari hulu ke hilir. Jadi baterai yang akan diproduksi di Indonesia akan kompetitif untuk masuk ke pasar EV global. Apalagi nanti untuk kendaraan di Asean dan India yang merupakan demand center ke depan. Itu posisi Indonesia aka lebih kompetitif lagi,” ucap Toto.

Dia mengatakan, saat ini IBC telah bekerjasama dengan CTL dan LGChem, yang sama-sama memiliki keinginan untuk mengamankan dari hulu. Ini karena negara lain tidak ada yang memiliki kekayaan alam seperti Indonesia.

"Apakah nanti kita akan ada partner berikutnya tentu akan kami kaji ya, kita lihat seperti apa. Namun memang dari negara-negara lain atau perusahaan global memang ingin masuk ke Indonesia karena sumber daya nikel kita, yang menjadi basis untuk baterai kendaraan EV di dunia saat ini,” pungkas Toto.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Gerakan Kemitraan Inklusif untuk UMKM Naik Kelas Banyak Didukung

Gerakan Kemitraan Inklusif untuk UMKM Naik Kelas yang diluncurkan Presiden Jokowi mendapat dukungan dari Kadin dan Sinar Mas Group.

EKONOMI | 5 Oktober 2022

Ekonom Apresiasi Keberlanjutan Program Kartu Prakerja Pemerintah pada 2023

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan Kartu Prakerja akan dilanjutkan pada 2023.

EKONOMI | 5 Oktober 2022

Kolaborasi Majoo dan BRI Mudahkan Transaksi Digital UMKM

Komitmen aplikasi Majoo mewujudkan transformasi digital UMKM Indonesia diwujudkan dengan kolaborasi bersama BRI.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Fintech Teregulasi di Bahrain Fasilitasi Pembayaran Kripto dengan Binance

Adopsi kripto terus berkembang di Kerajaan Bahrain dan ini ditunjukkan dengan banyak perusahaan lokal memfasilitasi pembayaran dalam kripto seperti Bitcoin.

EKONOMI | 5 Oktober 2022

Holding PTPN Bangun Pengolahan Kelapa Sawit Mini di Bogor

Rektor IPB, Prof Arif Satria, memberikan apresiasi kepada PTPN Group yang telah mendukung pembangunan unit Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) Mini.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Strategi Duta Intidaya Tingkatkan Loyalitas Pelanggan

PT Duta Intidaya Tbk (DAYA) atau yang lebih dikenal dengan Watsons Indonesia meluncurkan kembali Watsons Club membership dalam menjaga loyalitas pelanggan.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Napindo Hadirkan Pameran Solusi Kota Cerdas

Pameran dan Forum Teknologi Terpadu yang digelar Napindo menampilkan pameran Indo Water, Indo Waste, dan Indo Renergy, dan IISMEX 2022 Expo & Forum.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Jelang KTT G-20, 25 Maskapai Layani Penerbangan ke Bali

Sandiaga Uno menyatakan 25 maskapai internasional melayani penerbangan ke Denpasar, Bali, menjelang KTT G-20.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Minyak Makan Merah Raih SNI, Menkop UKM: Tak Perlu Ragu Lagi

Teten Masduki menegaskan, dengan dikeluarkannya SNI dari BSN, tidak perlu lagi ada yang meragukan minyak makan merah layak dikonsumsi atau tidak.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Kebijakan Satu Peta Dorong Pemerataan Pertumbuhan Ekonomi

Menko Airlangga menegaskan, kebijakan satu peta menjadi landasan pemerataan dan pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

EKONOMI | 4 Oktober 2022


TAG POPULER

# Mamat Alkatiri


# Lesti Kejora


# Timnas U-17


# Formula E


# Tragedi Kanjuruhan


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia sampai 4 Oktober 2022

Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia sampai 4 Oktober 2022

NEWS | 1 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings