Logo BeritaSatu

Bagi Dividen, Operasional Indosat Berpotensi Terganggu

Rabu, 1 Desember 2021 | 12:43 WIB
Oleh : Kunradus Aliandu / KUN

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat pasar modal dari Nusantara Investama Kuntho Priyambodo menilai, langkah PT Indosat menebar dividen Rp 9,5 triliun menjelang merger dengan Hutchison 3 Indonesia (H3I) berpotensi mengganggu kas dan operasional perusahaan.

Ia mengatakan, pembagian dividen ini merupakan yang terbesar selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Jika di 2017 Indosat membagikan dividen Rp 1,1 triliun, di 2018 hanya bagikan dividen Rp 397 miliar. Setelah itu, hingga 2021 Indosat tak lagi membagikan dividen.

“Menghabiskan kas perusahaan lazim dilakukan perusahaan menjelang merger. Meski wajar, harusnya pembagian dividen tidak mengganggu kas dan operasional perseroan, kewajiban ke karyawan dan pelanggan IM2, komitmen pembangunan ke negara serta kewajiban membayar uang pengganti di kasus korupsi IM2,”ujarnya dalam keterangan yang diterima, Selasa (1/12).

Mengacu laporan keuangan September 2021, kas di Indosat hanya Rp 11 triliun. Artinya, pasca tebar dividen, kas Indosat hanya tersisa Rp 1,5 triliun. Padahal Capex tahunan Indosat selama ini Rp 8 triliun. "Pembagian dividen interim memang sudah diumumkan sebelumnya. Namun dividen tahunan yang ditarik dari laba ditahan, tak ada disclosure di rencana merger. Dengan disisakan kas Rp 1,5 triliun, operasional Indosat dipastikan terseok-seok. Alangkah baik jika perusahaan tetap menjaga retain earnings besar agar bisa bersaing di tengah kompetisi yang tinggi di industri telko,"ungkap Kuntho.

Menurutnya, Indosat bisa menambah likuiditas dengan terbitkan obligasi atau meminjam uang dari bank. Dengan rasio hutang dan ekuitas (debt to equity ratio) 2,7x, Kuntho percaya tak akan mudah bagi Indosat untuk mendapatkan pendanaan dengan bunga yang kompetitif. Sebenarnya Indosat memiliki pilihan untuk menggembangkan usahanya melalui dana murah dengan menjaga retain earnigs dari hasil penjualan aset perusahaan yang bisa diinvestasikan kembali. Bukan malah bagi dividen dan pinjam ke bank atau terbitkan obligasi yang dapat menaikan rasio hutang.

"Dengan dividen tahunan yang ditarik dari retain earnings, maka DER Indosat akan melesat menjadi 3,6x. Ini jauh di atas rival terberat mereka, XL yang memiliki DER 2,45x. Kinerja kinclong Indosat tahun ini karena penjualan tower. Bukan dari operasional organik. Ketika penjualan tower dihilangkan, laba perseroan masih merah,"ungkap Kuntho.

Strategi mengeluarkan banyak cash disisi operasi perusahaan memang umum dilakukan melalui parent atau pemegang saham utamanya. Selain itu, skema “Tax Evasion atau Tax Engineering” dengan selalu mengkerdilkan emiten, juga lazim dilakukan managemen untuk menghindari kewajiban ke negara. Ini menjadi hal yang sangat tidak baik dan merugikan pemegang saham minoritas/publik serta negara sebagai penerima manfaat pajaknya.

Untuk hal ini SRO serta Kemenkeu harus bisa melihat dan me-labeling perusahaan yang melakukan rekayasa pendapatan/rekayasa perpajakan sebagai bad ethics management company. "Laporan keuangan operator telekomunikasi yang terus merugi patut diduga lakukan tax evasion atau tax engineering. Kemenkeu melalui Ditjen Pajak dan SRO (self regulatory organization) atau regulator pasar modal harus jeli melihat modus tax evasion atau tax engineering ini,"ungkap Kuntho.

Dengan kondisi keuangan yang berat, Kuntho menilai rencana merger Indosat H3I yang dibuat Kantor Jasa Penilai Publik Ruky, Safrudin & Rekan (RSR) sebagai penilai independen, akan meleset jauh. Sebab dua perusahaan ini merupakan perusahaan 'sakit'. Bila melihat laporan keuangan Maret 2021, ekuitas H3I minus Rp 257 miliar. Ekuitas H3I terus tergerus akibat akumulasi kerugian di 3 tahun terakhir. Rugi bersih H3I juga terbilang spektakuler yaitu Rp 1,7 triliun. Bahkan 3 tahun terakhir H3I tak pernah membukukan keuntungan. Akibat perusahaan yang terus merugi, kemampuan mereka menggelar jaringan dan pertahankan kualitas layanan juga terbatas. Ini tercermin dari penjualan H3I yang stagnan hanya Rp 3,3 triliun. Sehingga merger ini tidak membawa ke arah perbaikan baik untuk Indosat maupun H3I.

"Dengan memaksakan pembagian dividen Indosat yang besar, beban perseroan akan semakin berat. Ditambah dengan beban kinerja keuangan H3I yang jauh lebih sulit dari Indosat. SRO, Kominfo, dan KPPU harus melihat dengan jeli dalam memberikan izin merger Indosat H3I,"kata dia.

Dengan potensi tekanan likuiditas ini, Kuntho melihat komitmen pembangunan jaringan telekomunikasi yang dilakukan Indosat H3I akan meleset dari dokumen merger mereka. Hampir pasti janji untuk menggelar jaringan ke negara juga akan sulit mereka penuhi. "Sudah tepat jika Kominfo tarik frekuensi perusahaan hasil merger Indosat H3I. Dengan perseroan yang berpotensi mengalami kesulitan cash flow, harusnya Kominfo dapat menarik lebih banyak lagi frekuensi Indosat H3I,"tutup Kuntho.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Ekonom Apresiasi Keberlanjutan Program Kartu Prakerja Pemerintah pada 2023

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan Kartu Prakerja akan dilanjutkan pada 2023.

EKONOMI | 5 Oktober 2022

Kolaborasi Majoo dan BRI Mudahkan Transaksi Digital UMKM

Komitmen aplikasi Majoo mewujudkan transformasi digital UMKM Indonesia diwujudkan dengan kolaborasi bersama BRI.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Fintech Teregulasi di Bahrain Fasilitasi Pembayaran Kripto dengan Binance

Adopsi kripto terus berkembang di Kerajaan Bahrain dan ini ditunjukkan dengan banyak perusahaan lokal memfasilitasi pembayaran dalam kripto seperti Bitcoin.

EKONOMI | 5 Oktober 2022

Holding PTPN Bangun Pengolahan Kelapa Sawit Mini di Bogor

Rektor IPB, Prof Arif Satria, memberikan apresiasi kepada PTPN Group yang telah mendukung pembangunan unit Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) Mini.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Strategi Duta Intidaya Tingkatkan Loyalitas Pelanggan

PT Duta Intidaya Tbk (DAYA) atau yang lebih dikenal dengan Watsons Indonesia meluncurkan kembali Watsons Club membership dalam menjaga loyalitas pelanggan.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Napindo Hadirkan Pameran Solusi Kota Cerdas

Pameran dan Forum Teknologi Terpadu yang digelar Napindo menampilkan pameran Indo Water, Indo Waste, dan Indo Renergy, dan IISMEX 2022 Expo & Forum.

EKONOMI | 5 Oktober 2022

Jelang KTT G-20, 25 Maskapai Layani Penerbangan ke Bali

Sandiaga Uno menyatakan 25 maskapai internasional melayani penerbangan ke Denpasar, Bali, menjelang KTT G-20.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Minyak Makan Merah Raih SNI, Menkop UKM: Tak Perlu Ragu Lagi

Teten Masduki menegaskan, dengan dikeluarkannya SNI dari BSN, tidak perlu lagi ada yang meragukan minyak makan merah layak dikonsumsi atau tidak.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Kebijakan Satu Peta Dorong Pemerataan Pertumbuhan Ekonomi

Menko Airlangga menegaskan, kebijakan satu peta menjadi landasan pemerataan dan pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Kolaborasi LandX-Moka Akselerasi Pertumbuhan Bisnis UMKM

LandX menggandeng Moka, sebagai mitra penyaluran modal usaha pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).

EKONOMI | 4 Oktober 2022


TAG POPULER

# Mamat Alkatiri


# Lesti Kejora


# Timnas U-17


# Formula E


# Tragedi Kanjuruhan


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Prevalensi Tertinggi Covid-19 di 10 Provinsi pada 4 Oktober

Prevalensi Tertinggi Covid-19 di 10 Provinsi pada 4 Oktober

NEWS | 22 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings