Bagi Dividen, Operasional Indosat Berpotensi Terganggu
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Bagi Dividen, Operasional Indosat Berpotensi Terganggu

Rabu, 1 Desember 2021 | 12:43 WIB
Oleh : Kunradus Aliandu / KUN

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat pasar modal dari Nusantara Investama Kuntho Priyambodo menilai, langkah PT Indosat menebar dividen Rp 9,5 triliun menjelang merger dengan Hutchison 3 Indonesia (H3I) berpotensi mengganggu kas dan operasional perusahaan.

Ia mengatakan, pembagian dividen ini merupakan yang terbesar selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Jika di 2017 Indosat membagikan dividen Rp 1,1 triliun, di 2018 hanya bagikan dividen Rp 397 miliar. Setelah itu, hingga 2021 Indosat tak lagi membagikan dividen.

“Menghabiskan kas perusahaan lazim dilakukan perusahaan menjelang merger. Meski wajar, harusnya pembagian dividen tidak mengganggu kas dan operasional perseroan, kewajiban ke karyawan dan pelanggan IM2, komitmen pembangunan ke negara serta kewajiban membayar uang pengganti di kasus korupsi IM2,”ujarnya dalam keterangan yang diterima, Selasa (1/12).

Mengacu laporan keuangan September 2021, kas di Indosat hanya Rp 11 triliun. Artinya, pasca tebar dividen, kas Indosat hanya tersisa Rp 1,5 triliun. Padahal Capex tahunan Indosat selama ini Rp 8 triliun. "Pembagian dividen interim memang sudah diumumkan sebelumnya. Namun dividen tahunan yang ditarik dari laba ditahan, tak ada disclosure di rencana merger. Dengan disisakan kas Rp 1,5 triliun, operasional Indosat dipastikan terseok-seok. Alangkah baik jika perusahaan tetap menjaga retain earnings besar agar bisa bersaing di tengah kompetisi yang tinggi di industri telko,"ungkap Kuntho.

Menurutnya, Indosat bisa menambah likuiditas dengan terbitkan obligasi atau meminjam uang dari bank. Dengan rasio hutang dan ekuitas (debt to equity ratio) 2,7x, Kuntho percaya tak akan mudah bagi Indosat untuk mendapatkan pendanaan dengan bunga yang kompetitif. Sebenarnya Indosat memiliki pilihan untuk menggembangkan usahanya melalui dana murah dengan menjaga retain earnigs dari hasil penjualan aset perusahaan yang bisa diinvestasikan kembali. Bukan malah bagi dividen dan pinjam ke bank atau terbitkan obligasi yang dapat menaikan rasio hutang.

"Dengan dividen tahunan yang ditarik dari retain earnings, maka DER Indosat akan melesat menjadi 3,6x. Ini jauh di atas rival terberat mereka, XL yang memiliki DER 2,45x. Kinerja kinclong Indosat tahun ini karena penjualan tower. Bukan dari operasional organik. Ketika penjualan tower dihilangkan, laba perseroan masih merah,"ungkap Kuntho.

Strategi mengeluarkan banyak cash disisi operasi perusahaan memang umum dilakukan melalui parent atau pemegang saham utamanya. Selain itu, skema “Tax Evasion atau Tax Engineering” dengan selalu mengkerdilkan emiten, juga lazim dilakukan managemen untuk menghindari kewajiban ke negara. Ini menjadi hal yang sangat tidak baik dan merugikan pemegang saham minoritas/publik serta negara sebagai penerima manfaat pajaknya.

Untuk hal ini SRO serta Kemenkeu harus bisa melihat dan me-labeling perusahaan yang melakukan rekayasa pendapatan/rekayasa perpajakan sebagai bad ethics management company. "Laporan keuangan operator telekomunikasi yang terus merugi patut diduga lakukan tax evasion atau tax engineering. Kemenkeu melalui Ditjen Pajak dan SRO (self regulatory organization) atau regulator pasar modal harus jeli melihat modus tax evasion atau tax engineering ini,"ungkap Kuntho.

Dengan kondisi keuangan yang berat, Kuntho menilai rencana merger Indosat H3I yang dibuat Kantor Jasa Penilai Publik Ruky, Safrudin & Rekan (RSR) sebagai penilai independen, akan meleset jauh. Sebab dua perusahaan ini merupakan perusahaan 'sakit'. Bila melihat laporan keuangan Maret 2021, ekuitas H3I minus Rp 257 miliar. Ekuitas H3I terus tergerus akibat akumulasi kerugian di 3 tahun terakhir. Rugi bersih H3I juga terbilang spektakuler yaitu Rp 1,7 triliun. Bahkan 3 tahun terakhir H3I tak pernah membukukan keuntungan. Akibat perusahaan yang terus merugi, kemampuan mereka menggelar jaringan dan pertahankan kualitas layanan juga terbatas. Ini tercermin dari penjualan H3I yang stagnan hanya Rp 3,3 triliun. Sehingga merger ini tidak membawa ke arah perbaikan baik untuk Indosat maupun H3I.

"Dengan memaksakan pembagian dividen Indosat yang besar, beban perseroan akan semakin berat. Ditambah dengan beban kinerja keuangan H3I yang jauh lebih sulit dari Indosat. SRO, Kominfo, dan KPPU harus melihat dengan jeli dalam memberikan izin merger Indosat H3I,"kata dia.

Dengan potensi tekanan likuiditas ini, Kuntho melihat komitmen pembangunan jaringan telekomunikasi yang dilakukan Indosat H3I akan meleset dari dokumen merger mereka. Hampir pasti janji untuk menggelar jaringan ke negara juga akan sulit mereka penuhi. "Sudah tepat jika Kominfo tarik frekuensi perusahaan hasil merger Indosat H3I. Dengan perseroan yang berpotensi mengalami kesulitan cash flow, harusnya Kominfo dapat menarik lebih banyak lagi frekuensi Indosat H3I,"tutup Kuntho.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Kurs Rupiah Stabil di Rp 14.380

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi hari ini, Jumat (28/1/2022), terpantau menguat ke kisaran Rp 14.380.

EKONOMI | 28 Januari 2022

Harga Minyak Mentah Menguat dari Koreksi Kemarin

Harga minyak mentah dunia turun pada hari Kamis (27/1/2022) setelah minyak mentah Brent mencapai level di atas $90 per barel.

EKONOMI | 28 Januari 2022

Bitcoin Uji Pendakian ke Level US$ 37.000-an

Laju bitcoin (BTC) untuk menembus level US$ 37.500 (sekitar Rp 537 juta) masih terus diuji pada akhir pekan ini.

EKONOMI | 28 Januari 2022

Pembukaan, IHSG Lanjutkan Penguatan Kemarin

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan kemarin pada pembukaan perdagangan hari ini, Jumat (28/1/2022).

EKONOMI | 28 Januari 2022

Bursa Asia Mixed Menyusul Fluktuasi di Wall Street

Bursa Asia-Pasifik bergerak mixed pada perdagangan Jumat (28/1/2022), menyusul sesi bergejolak di Wall Street semalam.

EKONOMI | 28 Januari 2022

Moeldoko: UMKM Harus Manfaatkan Platform Digital

Moeldoko menekankan pentingnya pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memanfaatkan platform teknologi digital.

EKONOMI | 28 Januari 2022

BI dan PBoC Perbarui Pertukaran Mata Uang Lokal, Ini Manfaatnya

Bank Indonesia (BI) dan The People's Bank of China (PBoC) memperbarui perjanjian swap bilateral dalam mata uang lokal.

EKONOMI | 28 Januari 2022

Di Forum B20, Jokowi Tegaskan Tak Akan Ekspor Mineral Mentah

Dalam pembukaan Inception Meeting B20 Indonesia Summit 2022, Jokowi tegaskan Indonesia tidak mengekspor sumber daya dalam bentuk mentah.

EKONOMI | 27 Januari 2022

Seion, Perumahan Ala Jepang Pertama di Serang

Perumahan Seion mengusung konsep Jepang pertama di Kota Serang.

EKONOMI | 28 Januari 2022

Catat Pendapatan US$ 123,9 M, Kinerja Apple Lebih Baik dari Perkiraan

CEO Apple Tim Cook mengatakan pada hari Kamis (27/1/2022) bahwa disrupsi rantai pasokan yang mengganggu kinerja perusahaan mulai membaik.

EKONOMI | 28 Januari 2022


TAG POPULER

# Flight Information Region


# Jefri Tambayong


# Update Covid-19


# Ousmane Dembele


# Ardian Noervianto



TERKINI
Bunga P2P Lending Konsumtif 0,4% Per Hari Dinilai Masih Tinggi

Bunga P2P Lending Konsumtif 0,4% Per Hari Dinilai Masih Tinggi

EKONOMI | 3 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings