Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Miris, Sampah Makanan Indonesia Capai 48 Juta Ton Per Tahun

Kamis, 29 September 2022 | 18:57 WIB
Oleh : Herman / FER
Seorang juru sita Prancis mencatat sampah makanan di tempat sampah supermaket di Mimizan-Plage, barat daya Prancis, Kamis (4/3/2021). Sekitar 17% makanan yang tersedia untuk konsumen di seluruh dunia pada tahun 2019 - hampir satu miliar ton - dibuang oleh rumah tangga, pengecer, institusi, dan industri perhotelan.

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi menegaskan pentingnya pengurangan pemborosan pangan dalam menghadapi tantangan krisis pangan. Pasalnya saat ini pengelolaan sampah makanan masih menjadi persoalan besar di Indonesia.

Berdasarkan laporan Food Loss and Waste di Indonesia yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bekerja sama dengan World Resources Institute dan Waste for Change, selama 20 tahun di periode 2000-2019, timbunan food loss and waste (FLW) di Indonesia mencapai 23-48 juta ton per tahun, atau setara dengan 115-184 kg/kapita/tahun yang berasal dari lima tahap rantai pasok pangan.

“Hal tersebut berarti masing-masing dari kita menyumbang lebih dari satu kwintal sampah makanan per tahun,” kata Arief di acara Gerakan Kewaspadaan Pangan dan Gizi dalam rangka The International Day of Awareness of Food Loss and Waste, di Jakarta, Kamis (29/9/2022).

Kompos kolektif merupakan bagian dari kampanye #MakanTanpaSisa yang mengolah sampah makanan menjadi pupuk kompos.

Arief menyampaikan, timbulan FLW pada 2000-2019 juga memberi dampak besar pada ekonomi berupa kehilangan produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar Rp 213 triliun sampai Rp 551 triliun per tahun.

“Potensi food loss and waste tersebut dapat disalurkan untuk memberi makan 61-125 juta orang, atau sekitar 29%-47% populasi Indonesia,” ujar Arief.

Sementara itu, menurut peta ketahanan dan kerentanan pangan, di 2021 terdapat 74 kabupaten/kota yang rentan rawan pangan.

Data lain juga menyebutkan, masih terdapat 23,1 juta jiwa atau 8,49% penduduk Indonesia yang mengkonsumsi kalori kurang dari standar minimum untuk hidup sehat dan produktif.

Karenanya, penting sekali untuk menangani masalah food loss and waste dengan baik. Menurut Arief, krisis pangan tidak akan terjadi selama pangan dikelola dengan baik, salah satunya dengan mengurangi pemborosan pangan from farm to table.

“Penangana food loss and waste dapat sekaligus mengentaskan daerah rentan rawan pangan yang ada di Indonesia. Ini menjadi perhatian serius Indonesia dan negara-negara di dunia sesuai komitmen dalam SDG’s ke 12 poin 3, yaitu negara-negara di dunia diharapkan dapat mengurangi 50% food waste per kapita di tingkat ritel dan konsumen pada 2030 nanti,” kata Arief.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

TERKINI