Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Bahan Baku Jadi Tantangan Target Ekspor Mebel US$ 5 Miliar

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 05:37 WIB
Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP
Focus Group Discussion (FGD) soal pasokan bahan baku industri mebel dan kerajinan yang digelar Himki di Solo. 

Solo, Beritasatu.com - Target ekspor industri mebel dan kerajinan di Indonesia sebesar US$ 5 miliar pada 2024 membutuhkan pasokan bahan baku terutama kayu dan rotan dalam jumlah banyak dan sesuai kualitas, termasuk jenis yang diinginkan pasar.

"Hal lain yang perlu diperhatikan terkait ekspor mebel kemudahan memperoleh bahan baku," kata Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) Abdul Sobur di sela Focus Group Discussion (FGD) di Solo seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya Sabtu (1/10/2022).

FGD ini melibatkan Perum Perhutani, PT Inhutani I, Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian (Indonesia Sawmill and Wood Working Association/ISWA), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Menurut dia, kendala bahan baku mebel dan kerajinan bukan hal mudah di tengah situasi saat ini terjadi penurunan volume maupun kualitas kayu dari hutan produksi. "Ini berpengaruh terhadap perencanaan produksi mebel dan kerajinan berorientasi ekspor," kata dia.

Di sisi lain, tuntutan terhadap sertifikasi kelestarian pengelolaan hutan dari para pembeli luar negeri kian gencar. Semengtara ketersediaan bahan baku bersertifikat hutan lestari sesuai tuntutan pembeli suplainya terbatas.

Menurut Sobur, saat ini kebutuhan bahan baku perkayuan sebesar 7 hingga 8 juta ton. Hal itu tidak semuanya bisa dipenuhi Perhutani dan Inhutani. “Sebagian dipenuhi bahan baku impor,” lanjutnya.

Untuk mencapai target ekspor US$ 5 miliar, Himki memprediksikan kebutuhan material sebesar 12 juta ton. Dari jumlah itu, Perhutani hanya bisa memenuhi kebutuhannya sebesar 10%, sedangkan Inhutani hanya bisa memenuhi 5% dari kebutuhan. Diperkirakan akan ada bahan baku impor yang porsinya mencapai 20%.

Tidak hanya persoalan kuantitas, Sobur juga mengkkawatirkan penurunan kualitas bahan baku yang dihasilkan Perhutani. Direktur Perencanaan dan Pengembangan Perum Perhutani, Endung Trihartaka menyebutkan pihaknya memiliki banyak kayu jati dengan grade A1 dibandingkan sebelumnya.

Namun ia menyebutkan Perhutani juga sedang mengembangkan jenis baru yang dikembangkan dari pucuk. Pohon jenis baru ini diharapkan bisa dipanen lebih singkat dari sebelumnya yang harus mencapai 80-an tahun sebelum ditebang. “Kami bekerja sama dengan Univesitas Gajah Mada dalam riset dan pengembangannya,” katanya.

Sementara FGD ini merupakan kelanjutan kegiatan sebelumnya yang telah digelar di Semarang, pada pertengahan Agustus lalu yang melahirkan sejumlah poin di antaranya perlunya ide dan insiatif Himki untuk mengedepankan program "Menanam Kembali" dan menggandeng pihak Perum Perhutani dan Inhutani I, termasuk swasta.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI