Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Harga Pertamax Turun Mengikuti Harga Minyak Mentah Dunia

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 10:01 WIB
Oleh : Indah Handayani / FMB
Ilustrasi pengeboran lepas pantai untuk mendapatkan minyak bumi.

Houston, Beritasatu.com - Harga minyak mentah dunia merosot dalam perdagangan bergejolak pada penutupan Jumat (30/9/2022). Minyak mentah mencatat kenaikan mingguan pertama dalam lima pekan terakhir. Hal ini didukung oleh kemungkinan bahwa OPEC+ akan setuju untuk memangkas produksi minyak mentah ketika bertemu pada 5 Oktober.

Minyak mentah berjangka Brent untuk November, yang berakhir pada Jumat, turun 53 sen (0,6%) menjadi US$ 87,96 per barel. Kontrak Desember yang lebih aktif turun US$ 2,07 menjadi US$ 85,11. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 1,74 (2,1%) menjadi US$ 79,49.

Harga Brent dan WTI menyelesaikan kuartal ketiga dengan penurunan masing-masing sebesar 23% dan 25%.

Menurunnya harga minyak mentah dunia berdampak pada menurunnya harga Pertamax menjadi Rp 13.900 per liter dari sebelumnya Rp 14.500 per liter untuk wilayah Jawa Bali mulai hari ini Sabtu (1/10/2022). Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting menyatakan bahwa harga BBM nonsubsidi akan terus disesuaikan mengikuti tren harga rata-rata publikasi minyak yakni Mean of Platts Singapore (MOPS) atau Argus.

Kedua kontrak naik lebih dari US$ 1 selama sesi tersebut tetapi turun di tengah berita bahwa produksi minyak OPEC naik pada bulan September ke level tertinggi sejak 2020, melampaui kenaikan yang dijanjikan untuk bulan tersebut, menurut survei Reuters pada hari Jumat.

"Pasti ada beberapa aksi ambil untung dari keuntungan yang kita lihat di awal minggu. US$80 adalah semacam titik pivot hari ini. Peningkatan kekhawatiran tentang stabilitas keuangan di Inggris ... merusak prospek permintaan sekali lagi," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York.

Brent dan WTI naik 2% dan 1% pada basis mingguan, menandai kenaikan mingguan pertama sejak Agustus dan mengikuti posisi terendah sembilan bulan yang dicapai minggu ini.

Sementara dolar telah turun dari tertinggi 20 tahun di awal minggu, dolar naik sepanjang hari. Greenback yang lebih kuat membuat minyak dalam denominasi dolar lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang lain, mengurangi permintaan untuk komoditas tersebut.

"Perubahan harga telah menjadi norma karena para pelaku pasar mengatasi kekhawatiran atas ekonomi global dan prospek pengetatan pasokan minyak," kata Stephen Brennock dari pialang minyak PVM.

Pasar telah melihat prospek Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya mempertimbangkan pemotongan kuota produksi antara 500.000 dan 1 juta barel per hari (bph) pada pertemuan 5 Oktober mereka.

"Prospek permintaan minyak mentah yang memburuk tidak akan memungkinkan minyak untuk reli sampai pedagang energi yakin bahwa OPEC+ akan memangkas produksi," kata analis senior OANDA Edward Moya.

Analis memperkirakan pengurangan produksi karena kekhawatiran permintaan terkait dengan kemungkinan perlambatan ekonomi global dan kenaikan suku bunga telah membebani harga minyak mentah.

Perusahaan energi AS minggu ini menambahkan dua rig minyak untuk minggu ketiga berturut-turut, tetapi pertumbuhan pada kuartal ketiga melambat karena kekhawatiran resesi dan kekurangan pasokan yang mengganggu.

Pejabat tinggi Gedung Putih juga akan bertemu dengan para eksekutif minyak pada hari Jumat untuk membahas Badai Ian dan persediaan bensin yang rendah ketika Presiden Joe Biden memperingatkan industri untuk tidak menipu konsumen, menurut dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: Investor Daily


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI