Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Digitalisasi Warung Berpeluang Tingkatkan Pendapatan 100%

Senin, 3 Oktober 2022 | 05:18 WIB
Oleh : Emanuel Kure / WBP
Penasihat Investasi Global Flourish Ventures Smita Aggarwal.

Jakarta, Beritasatu.com - Flourish Ventures, perusahaan modal ventura global yang memiliki portofolio investasi di Indonesia dan Asia, merilis studi baru yang menegaskan pentingnya toko kelontong di Indonesia (warung), sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi di masa depan.

Laporan berjudul Digitizing the Corner Shop mensurvei pemilik toko dan pelanggan warung di seluruh India, Mesir, Brasil, dan Indonesia, untuk mengembangkan kerangka kerja guna memahami peluang mendigitalkan toko kelontong. Laporan tersebut menemukan bahwa di keempat pasar, perusahaan-perusahaan startup teknologi menyediakan perangkat dan fasilitas online murah untuk toko-toko tersebut, yang dapat menghasilkan peningkatan pendapatan 60%-650 bila diterapkan dalam skala besar. Di Indonesia, Flourish mensurvei lebih 200 warung dan pelanggannya guna menilai potensi teknologi digital untuk membuka peluang efisiensi dan keuangan lebih besar bagi warung “emak-emak dan bapak-bapak”.

“Pandemi telah mendorong penggunaan teknologi digital oleh pelanggan. Meskipun demikian, toko-toko kecil di berbagai tempat di Indonesia, atau warung terus menjadi kontributor signifikan bagi perekonomian dan mendapat kepercayaan pelanggan,” kata Penasihat Investasi Global Flourish Ventures Smita Aggarwal, melalui siaran pers, Minggu (2/10/2022).

Survei menemukan 98% konsumen berniat terus berbelanja dalam jumlah banyak atau lebih di warung-warung lokal sekitar mereka di masa depan. Pada saat yang sama, 84% pemilik warung mengatakan mereka sudah menggunakan aplikasi digital untuk membantu menjalankan bisnis mereka saat ini.

Adapun 3,5 juta warung di Indonesia mewakili 70% dari penjualan di pasar grosir yang bernilai US$ 257 miliar, meskipun ada persaingan dari pengecer besar.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa warung merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di Indonesia dan akan tetap penting bagi perekonomian lokal dan nasional.

“Penelitian kami menegaskan bahwa toko-toko tradisional ini menawarkan kenyamanan dan layanan kepada pelanggan mereka. Ini peluang bagi perekonomian jika mereka dapat memanfaatkan teknologi digital dan menjadi lebih efisien. Membantu pemilik toko memecahkan masalah dalam bisnis mereka akan menciptakan siklus dengan meningkatkan penjualan, serta berkontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB),” ungkap Smita.

Temuan utama dari riset tersebut meliputi, sebanyak 67% pelanggan mengatakan bahwa mereka berbelanja di warung setempat setiap hari, berkontribusi sebesar US$ 180 miliar dalam penjualan toko kelontong di Indonesia. Tidak seperti anggapan umum, ini menandakan bahwa warung terus berkembang beriringan dengan toko-toko modern jenis lainnya.

Kedua, soal tujuan belanja. Sekitar 40% pelanggan menyebutkan pasar lokal merupakan tempat yang paling sering dikunjungi, dibandingkan hanya 10% yang membeli bahan makanan secara online. Ketiga, 79% pelanggan mengatakan membeli lebih banyak bahan makanan dari warung-warung setempat selama lockdown atau pembatasan.

Keempat, hampir semua pelanggan yang disurvei (90%) menilai kenyamanan sebagai hal paling berharga saat berbelanja di warung, sementara 80% pembeli menyebut layanan pelanggan sebagai pembeda utama.

Kelima, mayoritas pemilik warung (84%) mengatakan mereka menggunakan aplikasi pesan untuk berkomunikasi dengan pemasok dan pelanggan. Lalu 25% berusaha meningkatkan penggunaan teknologi digital dalam 2 tahun ke depan untuk meningkatkan penjualan online, komunikasi, dan pengiriman.

Keenam, sebagian besar pemilik toko (78%) mengatakan nyaman menggunakan alat digital, tetapi tetap ada hambatan karena 41% mengaku kesulitan mempelajari atau mengadopsinya.

Ketujuh, pemilik warung juga berambisi untuk tumbuh dan menyebut bahwa memperluas penawaran produk sebagai prioritas utama (33%), diikuti meningkatkan pendapatan toko (25%).

Peluang bagi embedded finance
Penelitian Flourish juga menemukan bahwa warung-warung di Indonesia berjuang membiayai bisnis mereka dan menghadapi tantangan dalam membeli dan mengelola persediaan.

Smita menambahkan, warung-warung kerap berjuang dengan inefisiensi rantai pasokan, akses terbatas ke modal kerja, serta perkiraan penjualan yang dapat membantu mereka tumbuh. Bila mereka ingin berkembang di abad ke-21, pemilik warung harus fokus pada digitalisasi toko mereka. Digitalisasi akan membantu mereka dalam mengakses produk embedded finance.

“Kami percaya, dari sudut pandang ekonomi, sangat penting bahwa warung tetap ada di jantung lingkungan setempat Indonesia, didukung piranti digital untuk meningkatkan pertumbuhan dan keuntungan mereka,” tandas Smita.

Adapun Flourish Ventures meluncurkan penelitian ini untuk lebih memahami warung-warung di seluruh dunia dan berbagi pembelajaran tentang bagaimana perusahaan digital dapat melayani kebutuhan mereka.

Bekerja sama dengan firma riset 60 Decibels dan platform e-commerce TaniHub, lembaga ini menyurvei 200 pemilik warung di Indonesia dan 200 pelanggan mereka untuk mempelajari secara langsung apa saja kesulitan bisnis mereka, ancaman persaingan, aspirasi, serta perilaku digital.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI