Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Askrindo Pangkas Portofolio Produk Asuransi Kredit

Selasa, 4 Oktober 2022 | 13:15 WIB
Oleh : Prisma Ardianto / FER
Ilustrasi Asuransi Properti.

Jakarta, Beritasatu.com - PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) mulai menghentikan pemasaran produk asuransi kredit konsumtif sejak 2021. Produk itu dinilai memiliki banyak masalah, mulai dari aspek cakupan risiko, risiko asuransi, underwriting, durasi perlindungan, mode pembayaran, sampai harga premi.

Direktur Teknik Askrindo Vincentius Wilianto menerangkan, kontribusi premi asuransi kredit menempati posisi ketiga, setelah lini asuransi properti dan kendaraan bermotor di industri asuransi umum.

"Dua besar produk asuransi kredit yakni program penjaminan KUR dan asuransi kredit konsumtif," kata Vincent, di jakarta, Selasa (4/10/2022).

Menurut Vincentius, dari dua jenis produk tersebut, asuransi kredit konsumtif disebut sebagai dalang dari masalah di industri asuransi umum dan reasuransi.

Oleh karena itu, sejak awal tahun 2021 Askrindo bersama anak perusahaan Indonesia Financial Group (IFG) lainnya mulai berhenti menerima premi baru, sekaligus melakukan negosiasi ulang dengan pihak bank agar terjadi restrukturisasi.

"Asuransi kredit Askrindo pada 2018-2019 itu didominasi oleh asuransi kredit konsumtif, imbang dengan penjaminan KUR. Tapi kemudian pada 2021 karena kita stop, itu sudah mulai menurun. Ini yang menyebabkan asuransi kredit tidak lagi dominan di dua tahun terakhir," kata Vincentius.

Di lini bisnis ini, Askrindo menjadi salah satu pemain utama. Per semester I 2022, premi asuransi kredit/penjaminan perseroan mencapai Rp 2,64 triliun atau mencakup pangsa 41,40% dari premi asuransi kredit industri asuransi umum. Penjaminan KUR dan PEN mendominasi portofolio Askrindo dengan nilai mencapai Rp 2,09 triliun.

Dibanding semester I 2021 dengan premi Rp 2,63 triliun, pangsa pasar asuransi kredit/penjaminan Askrindo sempat mencapai 44,82% dari total premi di industri mencapai Rp 5,87 triliun. Penurunan pangsa pasar pada paruh pertama tahun 2022 ini seiring dengan keputusan perusahaan tidak lagi menggarap asuransi kredit konsumtif.

Secara bertahap sejak 2019 porsi asuransi kredit konsumtif terhadap total portofolio Askrindo turun dari 35% pada 2019 menjadi 24% pada 2020, dan kembali susut menjadi 10% pada 2021. Kini pada Juni 2022 asuransi kredit konsumtif Askrindo menyisakan Rp 24 miliar atau mencakup 1% dari portofolio perusahaan.

Sebaliknya, kemampuan perusahaan bertambah untuk melakukan penjaminan KUR sehingga porsi pada portofolio terus meningkat. Pada 2019 sebesar 35%, naik menjadi 44% pada 2020, kembali meningkat menjadi 60% pada 2021, dan akhirnya sebesar 79% pada Juni 2022.

Dia menjelaskan, program KUR berikut produk penjaminan telah lebih baik dibandingkan asuransi kredit konsumtif. Cakupan risiko (risk coverage) penjaminan KUR maksimal 70%. Sedangkan asuransi kredit konsumtif bisa mencapai 70-650, sehingga dalam hal ini ada produk yang mengcover keseluruhan risiko bank.

Masalah berikutnya yakni dari sisi profil risiko. Hal ini menjadi penting apalagi seharusnya bank lebih tau profil risiko nasabahnya, dibandingkan perusahaan asuransi. Proses underwriting yang diterapkan adalah guaranteed acceptance yang memungkinkan tidak ada underwriting sama sekali.

Dari sisi risiko asuransi pun punya permasalahan tersendiri. Produk penjaminan KUR menanggung risiko ketika kredit mulai masuk dalam kategori kolektibilitas 4. Tetapi ditemui ada beberapa produk asuransi kredit konsumtif yang bisa diklaim pada saat kredit masuk kolektibilitas 3. Asuransi kredit konsumtif pun terkadang sepaket dengan asuransi jiwa kredit.

"Hebatnya lagi, itu tidak ada underwriting seperti health questionnaire, tidak ada waiting period. Jadi guaranteed acceptance tanpa ada underwriting. Risiko yang ditanggung juga termasuk lay off, kalau ganti payroll, itu langsung di klaim-kan. Belum lagi kalau nasabah (bank) itu adalah anggota DPR, pergantian antar waktu pun diklaim. Jadi terlalu luas," beber Vincent.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: Investor Daily


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI