Pandemi Covid-19 di Indonesia Belum Mencapai Puncak
INDEX

BISNIS-27 448.452 (2.34)   |   COMPOSITE 5112.19 (31.86)   |   DBX 973.986 (8.67)   |   I-GRADE 139.714 (1.48)   |   IDX30 428.304 (2.58)   |   IDX80 113.764 (0.56)   |   IDXBUMN20 291.927 (3.17)   |   IDXG30 119.182 (0.2)   |   IDXHIDIV20 379.228 (3.03)   |   IDXQ30 124.656 (0.92)   |   IDXSMC-COM 220.2 (1.7)   |   IDXSMC-LIQ 259.388 (-0.32)   |   IDXV30 107.478 (0.14)   |   INFOBANK15 831.648 (11.11)   |   Investor33 374.125 (2.2)   |   ISSI 151.171 (0.09)   |   JII 550.867 (-0.37)   |   JII70 188.056 (-0.11)   |   KOMPAS100 1022.34 (4.05)   |   LQ45 789.815 (4.4)   |   MBX 1412.7 (8.24)   |   MNC36 280.331 (1.41)   |   PEFINDO25 282.464 (2.47)   |   SMInfra18 241.575 (1.13)   |   SRI-KEHATI 316.512 (2.46)   |  

Pandemi Covid-19 di Indonesia Belum Mencapai Puncak

Kamis, 24 September 2020 | 12:32 WIB
Oleh : Dina Fitri Anisa / EAS

Jakarta, Beritasatu.com - Pakar epidemiologi dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, sejak awal Covid-19 hadir di Indonesia, ia membantah adanya prediksi bila pandemi ini akan selesai dalam waktu singkat. Termasuk saat Tim Pakar Gugus Percepatan Penanganan Covid-19 yang mengatakan puncak pandemi akan dimulai pada awal Mei dan berakhir sekitar awal Juni.

Sebagai seorang peneliti dan praktisi pandemi yang terlibat di Indonesia dan dunia sejak 17 tahun terakhir, Dicky mengatakan, pandemi Covid-19 ini tidak akan berakhir dalam waktu yang cepat. Mengingat, virus SARS-CoV-2 adalah virus baru, artinya mayoritas masyarakat Indonesia tidak memiliki kekebalan terhadap virus tersebut.

Kemudian, faktor selanjutnya adalah belum ditemukannya obat dan juga vaksin yang diharapkan dapat membantu mengendalikan pandemi ini. Dicky mengatakan, obat dan vaksin memerlukan waktu bertahun-tahun secara realistis untuk mendapatkan formula yang tepat, efektif, dan aman bagi penggunanya.

Faktor lainnya, virus Covid-19 ini menurut Dicky adalah virus yang sulit untuk dikendalikan, karena tingkat penularannya cepat. Terakhir, penderita Covid-19 juga banyak yang tidak bergejala, sehingga besar kemungkinan orang yang sudah terinfeksi dapat dengan mudah menyebarkan virus Covid-19 kepada sekitarnya.

"Jadi, kapan pandemi ini berakhir? Kalau pertengahan tahun depan obat dan vaksin sudah bisa diedarkan, maka mulai pertengahan tahun depan kita sudah bisa mengkombinasikan strategi testing, tracing, dan treatment dengan baik dan menyeluruh. Kalau semuanya lancar, akhir tahun depan selesai. Namun, kalau masyarakat bandel, pemerintah juga abai dalam melakukan strategi pemutusan rantai Covid-19, bisa sampai tahun depannya lagi (pandemi berakhir),” terangnya kepada Suara Pembaruan melalui telepon, belum lama ini.

Dicky pun menuturkan, puncak kurva pandemi Indonesia berbeda dengan negara lain yang berada di satu pulau besar. Tidak menutup kemungkinan jika puncak pandemi di pulau satu dengan pulau lainnya yang berada di Indonesia berbeda-beda waktunya.

"Kalau baca berita disampaikan Oktober atau akhir tahun adalah masa kritis pandemi. Namun sebenarnya, perhitungan itu lebih kepada situasi yang berada di kawasan Jakarta dan sekitarnya atau Jawa secara umum. Bukan Indonesia secara serempak, kita harus lihat pulau lain seperti apa. Karena data testing kita ini saja masih minim,” tuturnya.

Prediksi yang meleset menurutnya disebabkan oleh kompetensi orang yang membuat dan juga pengalaman. Menurutnya, membuat sebuah estimasi dan prediksi itu bukan hanya analisa angka. Namun, di dalam angka itu ada makna data kualitatif yang dapat dipengaruhi oleh jam terbang seseorang.

Jadi, saat ini ia mengimbau agar masyarakat tidak lagi terpaku akan pemberitaan prediksi waktu berakhirnya pandemi. Hal yang lebih tepat adalah melakukan tindakan pencegahan penularan untuk menurunkan angka korban harian.

“Jangan sampai kita ribet kapan selesainya, tetapi kita tidak melakukan upaya pencegahan. Virus tidak menunggu datangnya vaksin atau pun obat. Dia taat akan hukum biologinya. Jadi, setiap orang harus melakukan perlindungan diri dan aktif melaksanakan 3M yaitu mencuci tangan, menjaga jarak, dan menggunakan masker,” ungkapnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Erick Thohir: Pemerintah Perkuat Upaya Penanganan Covid-19

Per Rabu (23/9/2020), pemeriksaan spesimen harian Covid-19 mencapai 38.181, melebihi standar WHO.

KESEHATAN | 24 September 2020

Synbiotech dan Lonza Luncurkan Sport Probiotic ke Pasar Global

Kemitraan Synbiotech dan Lonza akan saling memanfaatkan keunggulannya masing-masing dalam bidang penelitian ilmiah.

KESEHATAN | 24 September 2020

Data Kasus Covid-19 Tidak Sinkron, Kemkes: Lab RS Paling Malas Kirim Data ke Pusat

Padahal, data yang tidak sinkron ini akan berdampak pada ketersediaan kapasitas, seperti alat pelindung diri (APD).

KESEHATAN | 23 September 2020

Data Kasus Covid-19 Tidak Sinkron, Kemkes: Semua Tergantung Laporan Laboratorium

Yurianto mengatakan, lab di daerah kerap lupa dan malas mengirim data ke aplikasi yang akan diakses oleh pemerintah pusat.

KESEHATAN | 23 September 2020

IDI: Pelacakan Kontak Indonesia Belum Penuhi Standar WHO

Berdasarkan data terakhir pada Mei lalu, pelacakan yang dilakukan Pemprov DKI hanya menyasar 3 kontak untuk setiap 1 kasus atau pelacakan kontak 1:3.

KESEHATAN | 23 September 2020

Perokok Punya Risiko 14 Kali Lipat untuk Mati karena Covid-19

Perokok berisiko terkena Covid-19 lebih tinggi karena terjadi gangguan sistem imunitas saluran napas dan paru akibat asap rokok.

KESEHATAN | 23 September 2020

Gambar "Seram" di Bungkus Rokok Kurang Besar, Ahli: Tidak Efektif untuk Kurangi Konsumsi

Gambar seram baru efektif membuat orang berpikir dua kali untuk merokok kalau ukurannya mendominasi atau 90% dari bungkus rokok.

KESEHATAN | 23 September 2020

Kasus Harian Covid-19 Pecah Rekor Lagi, Ini Sebarannya

Kasus harian Covid-19 di Indonesia kembali menorehkan rekor yakni 4.465. Dari jumlah tersebut, DKI Jakarta masih menjadi penyumbang terbanyak yaitu 1.133.

KESEHATAN | 23 September 2020

Penggunaan Tabir Surya di Indonesia Hanya 2 Persen

Tabir surya atau sunscreen berfungsi melindungi kulit dari efek negatif paparan matahari.

KESEHATAN | 23 September 2020

Tambah 4.465, Kasus Baru Covid-19 Kembali Pecah Rekor

Penambahan harian kasus baru Covid-19 di Indonesia pada hari ini, Rabu (23/9/2020) mencatatkan rekor baru yakni mencapai 4.465.

KESEHATAN | 23 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS