Apakah Media Harus Ikut Bertanggung Jawab terhadap Keadaan Dunia Saat Ini?

Apakah Media Harus Ikut Bertanggung Jawab terhadap Keadaan Dunia Saat Ini?
Peter F Gontha ( Foto: Istimewa )
/ AB Senin, 11 Juli 2016 | 10:16 WIB

Oleh: Peter F Gontha

Apakah media hari ini memengaruhi kehidupan manusia dengan memberikan pemberitaan yang berlebihan, fakta tidak utuh atau bahkan tidak benar?

Seorang peneliti baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Setelah mewawancarai si peneliti, media cetak maupun media online menampilkannya sebagai salah satu berita utama. Menurut penelitian tersebut, di sebuah daerah hunian kelas menengah-bawah, kehidupan telah menjadi sangat individualistik. Politisi memberi perhatian pada penelitian tersebut dan nama si peneliti tersebut akhirnya berulang kali disebut di media elektronik, radio, media cetak, maupun berita online.

Sesudah badai informasi mengenai penelitian tersebut mulai berkurang, di waktu luang saya sebagai duta besar ingin mengetahui lebih detail mengenai hasil penelitiannya. Saya berusaha bertemu dengan peneliti tersebut. Karena pernah merasa sebagai pewawancara di sebuah media elektronik, saya mengajukan beberapa pertanyaan yang mungkin agak kritis dan sulit untuk dijawab.

Saya memulai pertemuan dengan mengatakan, setelah membaca di surat kabar wawancara si peneliti dengan media massa, ia mengatakan bahwa penduduk daerah tersebut mulai lebih banyak berjalan kaki. Saya katakan telah membaca penelitiannya yang menyebutkan masyarakat di daerah itu lebih mengurangi olahraga, bahkan lebih banyak mengunjungi restoran waralaba yang diketahui kurang bagus bagi kesehatan. Mengapa tidak Anda katakan hal tersebut dalam wawancara?

Di dalam surat kabar juga dikatakan bahwa masyarakat telah mengurangi kebiasaan merokok. Padahal, hal tersebut tidak ada dalam penelitian Anda? Apakah Anda tidak merasa bahwa data yang disajikan dari penelitian Anda telah dimanipulasi oleh media massa?

Atas pertanyaan itu, si peneliti menjawab bahwa koran dan media massa tidak menyampaikan hasil wawancara secara lengkap. Peneliti tersebut telah wanti-wanti menyatakan bahwa ia mengharapkan semua fakta hasil penelitian tersebut dibawa ke permukaan dan semua yang dikatakan dalam wawancara hanya merupakan ilustrasi dari penelitiannya.

Fakta? Fakta yang diputar balik? Fakta yang tidak lengkap, bahkan sampai sesuatu yang sama sekali tidak benar, semua ada di dalam dunia pemberitaan yang sangat mudah diakses oleh siapa pun, di mana saja dengan cuma-cuma. Dunia internet memungkinkan semua itu, sementara media cetak dan elektronik berlomba untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan menampilkan berita yang bombastis dengan gambar yang menarik bagi pembaca atau pemirsanya.

Sebenarnya angka dan interpretasi seharusnya bertemu untuk memberikan gambaran yang tepat mengenai suatu keadaan. Penelitian harus membawa konklusi. Organisasi, universitas, perusahaan kecil maupun multinasional, organisasi politik harus memakai data tersebut untuk diajarkan atau dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan.

Rangkumkan apa yang dibaca dan apa yang didapatkan di media massa dan tanpa kita sadari akan menjadi senjata ampuh pemusnah segalanya yang akan mematikan orang sekeliling kita maupun diri kita sendiri. Ternyata ada individu yang memonitor peranan pers dan mengatakan bahwa satu di antara tiga berita merupakan “berita bohong atau berita yang
tidak lengkap” yang pada akhirnya memberikan kesimpulan yang salah bagi pembaca atau pemirsanya.

Kesalahan apa yang terjadi? Seorang buruh pabrik memaki-maki atasannya. Ternyata, di balik menjadi atasan telah menganiaya pekerjanya dengan memberhentikannya. Informasi mengenai seorang anak yang bertambah umur dalam keluarga yang memelihara binatang akan lebih kebal terhadap alergi bulu kucing. Uban atau kerontokan rambut merupakan masa lampau, setelah ditemukannya varian genetik yang mencegah hal ini terjadi.

Angka pun sering kali disalahtafsirkan. Menurut Al Jazeera, Yaser Arafat sudah pasti, 83 persen diracun. Kesimpulan ini diambil setelah Al Jazeera mengambilnya dari sebuah hipotesis enam kemungkinan, lima kemungkinan adalah bahwa Yaser Arafat pada saat tertentu tidak didampingi di rumah sakit dan bukankah lima dari enam kemungkinan adalah 83 persen. Kantor berita
utama di dunia pun segera melaporkan hal yang sama. Sebab dan akibat pun sering kali diputarbalikkan.

Jawabannya tentu: pers tidak pernah salah atau kolom surat pembaca dapat dipergunakan untuk mereka yang menganggap tulisan di media itu perlu dikoreksi. Kolom itu pun acap kali berada di bagian yang sulit dijangkau pembaca dengan tulisan yang sangat kecil. Apabila mesin media sudah bergerak, maka putih akan menjadi lebih putih dan hitam menjadi lebih hitam.

Apakah media bertanggung jawab terhadap kejadian brexit? Ternyata Google melakukan penelitian dan mereka yang memberikan suara pro brexit tidak mengerti arti brexit maupun untung-rugi keberadaan Inggris di dalam Uni Eropa.

Apakah CNN atau Euronews adalah media di mana aksi terorisme diajarkan 24 jam sehari? Kejadian di San Bernadino, Miami, Florida, Brussel, Turki, Bangladesh, dan Indonesia, semua disiarkan tanpa henti selama 24 jam seminggu penuh. Dalam siaran mereka dilaporkan di mana para teroris bermukim, bagaimana mereka membuat bom bunuh diri, jam berapa melakukan aksi teror itu agar mengakibatkan korban terbanyak, posisi sosial para pelaku di dalam masyarakat, dan sebagainya.

Apakah keterbukaan dan demokrasi yang berlebihan, baik untuk masyarakat dan dunia? Segala sesuatu yang berlebihan belum
tentu baik. Makan mi instan yang terlalu sering akan berakibat fatal bagi kesehatan. Makan es campur terus-menerus akan membuat kita mual. Bahkan, berlebihan makan durian--yang bagi lidah orang Indonesia sangat lezat--akan berakibat fatal bagi kesehatan.

Sebuah tulisan dari Marina Ottaway mengatakan, mempromosikan demokrasi adalah cara yang termudah untuk memberi semangat dan memfalisitasi transisi dari era otoritarian pada zaman pasca-konflik di sebuah negara di mana demokrasi justru sering juga membawa bencana.

Apakah pers pernah merasa bertanggung jawab terhadap ekses yang terjadi atas tulisannya? Apakah pers dunia internasional pernah merasa bertanggung jawab atas sebab dan akibat dari pemberitaannya mengenai kejadian di dunia? Apakah benar pers merupakan alat kontrol sosial atau justru sebaliknya? Apakah demokrasi pers nasional maupun internasional yang berlebihan memberikan dampak negatif bagi umat manusia?

Secara pribadi saya menanyakan hal ini kepada seorang Condoleezza Rice, mantan penasihat keamanan Presiden Amerika Serikat George Bush, yang juga adalah mantan menteri luar negeri Amerika Serikat, seorang profesor dalam ilmu politik dan komunikasi pada sebuah pertemuan pada Juni lalu. Jawabannya,"We have to live with it!"