Arab Minta OPEC Pangkas Produksi, Iran Menolak

Arab Minta OPEC Pangkas Produksi, Iran Menolak
Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih bicara kepada wartawan di sela pertemuan OPEC yang ke-175 di Wina, Austria, 6 Desember 2018. ( Foto: AFP )
Heru Andriyanto / HA Jumat, 7 Desember 2018 | 03:19 WIB

Wina - Para anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen minyak non-OPEC mungkin tidak akan mampu meraih kesepakatan untuk mengurangi output guna mendongkrak harga, menurut pernyataan Arab Saudi, Kamis (6/12).

"Tidak, saya tidak yakin," kata Menteri Energi Saudi Khalid Al-Falih kepada wartawan sesaat setelah mengikuti pertemuan OPEC di Wina, Austria.

"Kami masih mendebatkan distribusi dari kemungkinan pengurangan produksi," ujarnya.

Wakil Irak Thamir Abbas Al Ghadhban mengatakan pembahasan akan dilanjutkan Jumat (7/12) ini.

"Kami berharap akan ada kesepakatan yang diambil," ujarnya.

Tidak seperti biasanya, kartel produsen minyak itu tidak menggelar jumpa pers usai pertemuan, di mana 15 anggotanya diduga akan memangkas produksi guna mengatasi laju penurunan harga minyak yang terus terjadi.

Mereka akan kembali menggelar pertemuan hari ini dengan negara-negara non-OPEC, khususnya Rusia, untuk menghasilkan kebijakan bersama.

Sebelumnya, al-Falih mengatakan pemotongan produksi 1 juta barel per hari (bph) sudah cukup ideal.

"Idealnya, setiap orang harus bergabung dalam kesetaraan. Menurut saya, itulah solusi yang adil dan memadai," kata dia.

Tingkat produksi OPEC mencapai 32,99 juta bph pada Oktober lalu, menurut data dari International Energy Agency.

Namun, volume dan distribusi pengurangan produksi itu tetap harus menunggu partisipasi Rusia.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak ikut bicara dari Saint Petersburg, Rusia, Kamis, bahwa negaranya mengamati dengan cermat perkembangan situasi.

Namun, karena musim dingin sedang mendekat di Rusia, kondisi iklim membuat negara itu "jauh lebih sulit (untuk memangkas produksi) dibandingkan negara-negara lain", kata Novak.

Dia diharapkan bisa hadir di Wina hari ini.

Rabu lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menulis di Twitter agar pasokan minyak tidak diubah sehingga harga minyak tetap rendah. Para menteri OPEC tampaknya tidak bisa menerima instruksi itu dan meminta Trump tidak melakukan intervensi.

"Kami tidak butuh izin dari siapa pun untuk memangkas produksi," kata Al-Falih.

Amerika Serikat, ujarnya, "tidak dalam posisi untuk bisa memerintah kami".

Iran, produsen minyak terbesar ketiga di antara para anggota OPEC, mengeluh bahwa baru kali ini seorang presiden AS mencoba menyetir OPEC.

"Mereka harus tahu bahwa OPEC bukan bagian dari Kementerian Energi mereka," kata Menteri Energi Iran Bijan Namdar Zanganeh.

Namun, Iran sendiri menghendaki agar mereka dikecualikan dalam setiap keputusan pemotongan produksi yang disepakati.

Mereka berdalih dengan adanya sanksi ekonomi oleh AS, termasuk embargo terhadap pembelian minyak dari Iran, maka mereka menghadapi situasi khusus yang tidak memungkinkan dilakukannya pengurangan produksi minyak, kata Zanganeh.

Zanganeh mengatakan surplus yang terjadi di pasar sekarang sekitar 1,3 - 2,4 juta bph.

"Harganya akan lebih baik di kisaran $ 60-70. Itu yang bisa diterima oleh sebagian besar negara OPEC," imbuhnya.

Tiga hari sebelum pertemuan itu digelar, kartel minyak itu dikejutkan oleh kabar dari Qatar yang memutuskan untuk keluar dari OPEC bulan depan setelah menjadi anggota sejak 1961. Mereka berdalih ingin fokus ke produksi gas.

Produksi minyak Qatar hanya mencakup sekitar 2% dari total output OPEC, tetapi keputusan mereka ini sangat mengejutkan dalam konteks politik sekarang ini.

Qatar telah dikucilkan oleh sejumlah negara Teluk dengan dipimpin Arab Saudi sejak Juni 2017 karena sengketa politik.

Harga acuan minyak mentah Brent anjlok 4% menjadi kurang dari US$ 60 per barel hari Kamis karena proyeksi pengurangan produksi 1 juta bph masih lebih rendah dari ekspektasi semula, kata analis pasar David Madden.



Sumber: AFP
CLOSE