Rusia Klaim Kembangkan Rudal 5x Kecepatan Suara

Rusia Klaim Kembangkan Rudal 5x Kecepatan Suara
Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu (kiri), Presiden Rusia Vladimir Putin (tengah), Kepala Staf Umum Rusia Valery Gerasimov (belakang, tengah), dan perwakilan khusus tentang masalah ekologi dan transportasi, Sergei Ivanov (kanan), berbicara satu sama lain saat memantau peluncuran uji coba kendaraan peluncur hipersonik Avangard dari ruang kendali Kementerian Pertahanan di Moskwa, Rusia, Rabu (26/12). ( Foto: AP / Mikhail Klimentyev, Sputnik, Kremlin )
Heru Andriyanto / HA Kamis, 7 Februari 2019 | 03:37 WIB

Moskwa, Beritasatu.com — Setelah Amerika Serikat menarik diri dari traktat pengendalian senjata yang ditandatangani pada era Perang Dingin, Presiden Rusia Vladimir V Putin melontarkan peringatan bahwa negaranya sedang mengembangkan rudal hypersonic yang bisa melesat lima kali kecepatan suara dan "tidak bisa ditaklukkan".

Namun, meskipun dia memerintahkan militernya untuk memperluas landasan peluncuran dan meningkatkan kecanggihan roket-roketnya, Putin juga menginstruksikan Menteri Pertahanan Sergei K Shoigu untuk tetap menyesuaikan dengan batasan anggaran 2019 dan sesudahnya.

“Kita tidak boleh dan tidak akan membiarkan diri kita terseret dalam perlombaan senjata yang mahal,” kata Putin kepada Shoigu dalam pertemuan akhir pekan lalu di Kremlin, menurut transkrip yang dirilis oleh Moskwa.

Pada Selasa (5/2), Shoigu menyampaikan kepada para perwira militer bahwa pada akhir tahun depan Rusia akan mengembangkan versi peluncuran darat dari rudal hypersonic yang telah dibangun, dan juga mengembangkan versi peluncuran darat Kalibr, rudal jelajah Rusia yang selama ini diluncurkan dari laut.

Rudal darat dengan jangkauan 500 sampai 5.500 kilometer dilarang dalam trakat tahun 1987 yang ditandatangani oleh Presiden Ronald Reagan dan pemimpin Uni Soviet ketika itu, Mikhail S Gorbachev. Namun, traktat itu menjadi kehilangan kekuatannya setelah pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan akan menarik diri karena menurut mereka Rusia telah berulang kali melanggarnya.

Baca juga: Dunia Terancam Kembali ke Era Perang Dingin

Moskwa membantah melakukan pelanggaran, tetapi segera merespons dengan mengatakan akan mengembangkan sistem persenjataan yang sebelumnya dilarang.

Rencana pengembangan rudal hypersonic pertama kali diumumkan pada Maret 2018 ketika Putin melontarkan ancaman ke negara-negara Barat bahwa pihaknya memiliki senjata nuklir generasi terbaru, termasuk rudal jelajah dan torpedo dengan hulu ledak nuklir.

“Ini seperti anggur tua di dalam botol yang baru," kata Hans Kristensen, direktur Nuclear Information Project di Federation of American Scientists.

"Fakta bahwa mereka mengatakan bisa melakukan ini begitu cepat setelah pengumuman dari pihak AS menunjukkan mereka justru tidak sedang merencanakan sesuatu yang baru dan radikal.”

Sejumlah pakar juga menilai pernyataan Putin itu sebagai gertakan, karena betapa pun hebatnya teknologi Rusia, ada batasan anggaran yang bisa dipakai Kremlin



CLOSE