Rusia Mulai Ragukan Kekuasaan Nicolas Maduro

Rusia Mulai Ragukan Kekuasaan Nicolas Maduro
Relawan “Christian Church”, mengambil tes darah seorang anak lelaki asal Veneuela, di Sekolah La Frontera, La Parada, Kolombia, yang berbatasan dengan Venezuela, Selasa (5/2). Akibat krisis di Venezuela, anak-anak melintasi perbatasan setiap hari untuk bersekolah di Kolombia. ( Foto: Dok SP )
Jeanny Aipassa / JAI Kamis, 7 Februari 2019 | 14:38 WIB

Moskwa, Beritasatu.com -  Rusia dikabarkan mulai meragukan kekuasaan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dalam menghadapi tantangan pemimpin oposisi, Juan Guaido.

Sejumlah sumber dekat Kremlin menyebutkan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, memang menjanjikan dukungan penuh untuk rezim Presiden Nicolas Maduro. Namun melihat perkembangan di Venezuela akhir-akhir ini, Vladimir Putin mulai ragu dengan kemampuan Nicolas Maduro untuk mempertahankan kekuasaannya di Venezuela.

"Krisis ekonomi yang kian memburuk dan keengganan militer untuk menindak demonstrasi warga yang meluas, menunjukkan Nicolas Maduro mulai kehilangan dukungan atas pemerintahannya," kata sumber dekat Kremlin, yang menolak disebut identitasnya, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (6/2).

Menurut sumber dekat Kremlin, meskipun pejabat yang lebih rendah mendukung pemerintahan Nicolas Maduro, Vladimir Putin tidak pernah membuat pernyataan publik untuk mendukung Nicolas Maduro sejak krisis meletus, di luar panggilan telepon pada 24 Januari 2019.

Pernyataan sumber terdekat Kremlin itu, diklarifikasi oleh Vladimir Dzhabarov, wakil ketua pertama komite urusan internasional di majelis tinggi parlemen Rusia. Menurut Vladimir Dzhabarov, Pemerintah Rusia tidak dapat terlalu jauh menyelamatkan Venezuela dari krisis ekonomi atau mengerahkan kekuatran militer.

Vladimir Dzhabarov mengatakan, pemerintahan Presiden Maduro kini mulai goyah karena dukungan publik yang merosot seiring dengan krisis ekonomi berkepanjangan di negara itu.

"Sayangnya, waktunya tidak di pihak Nicolas Maduro. Dalam situasi krisis ekonomi yang memburuk, mood di masyarakat dapat dengan cepat berbalik melawannya," ujar Vladimir Dzhabarov.

Moskwa tetap mewaspadai lawan-lawan Nicolas Maduro yang telah mendapat dukungan Amerika Serikat, tetapi sangat menyadari betapa terbatas upaya yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Venezuela yang terlalu dalam terperosok pada krisis ekonomi dan keuangan.

Selama bertahun-tahun, Rusia bersama dengan Tiongkok telah menjadi pendukung utama pemerintahan Presiden Nicolas Maduro, meneruskan hubungan baik yang terjalin sejak tahun 1999 ketika pendahulunya, Hugo Chavez, berkuasa.

Kedua negara telah memberikan bantuan miliaran dolar dalam pinjaman dan investasi, sebagian besar oleh raksasa minyak milik negara Rosneft PJSC, dan berusaha keras untuk melindungi kepentingannya ketika Presiden AS, Donald Trump, meningkatkan upaya untuk menggulingkan rezim Presiden Maduro, dan melumpuhkan ekonomi negara dengan sanksi.

Terlepas dari sejarah dukungan yang cukup panjang, Rusia kini telah mengesampingkan pemberian bantuan dana baru kepada Venezuela yang masih memiliki utang masa lalu yang direstrukturisasi. Utang Venezuela terhadap Rusia diperkirakan mencapai US$ 10 miliar atau sekitar Rp 140 triliun.



CLOSE