PM May Ajukan Voting Brexit Keempat Kalinya

PM May Ajukan Voting Brexit Keempat Kalinya
Theresa May ( Foto: Dok SP )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Rabu, 15 Mei 2019 | 14:29 WIB

London, Beritasatu.com - Perdana Menteri (PM) Inggris, Theresa May, Selasa 914/5/2019), telah mengajukan voting terbaru atas kesepakatan keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau disebut Brexit.

Ini adalah voting Brexit keempat yang diusulkan Theresa May, setelah dalam tiga kali voting sebelumnya, kesepakatan Brexit-nya ditolak oleh anggota parlemen.

Rencana voting Brexit diumumkan saat pertemuan antara Theresa May dan pemimpin oposisi Partai Buruh, Jeremy Corbyn, di London, Inggris, Selasa (14/5/2015).

“Malam ini PM bertemu pemimpin oposisi di Dewan Rakyat demi memperjelas tekad kami untuk membawa pembicaraan kepada kesimpulan dan mengantarkan hasil referendum untuk meninggalkan Uni Eropa,” kata juru bicara PM Theresa May yang tidak disebutkan namanya itu, di London, Selasa (14/5)/2019).

Pemungutan suara dijadwalkan pada awal Juni 2019, sebelum anggota parlemen reses untuk musim panas. Voting keempat Brexit itu jatuh pada minggu yang sama saat kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump ke Inggris.

PM Theresa May dilaporkan akan mengajukan RUU Perjanjian Penarikan di awal pekan pada 3 Juni 2019. “Sangat penting kita melakukan itu jika Inggris ingin meninggalkan Uni Eropa sebelum reses musim panas parlemen,” ujar juru bicara PM Theresa May.

Kantor berita Inggris, BBC, mengonfirmasi adanya pertemuan lintas partai antara Theresa May dan Jeremy Corbyn untuk membahas pembicaraan Brexit dari kedua pihak.

Sumber Partai Buruh menyatakan pertemuan itu tentang “tetap berhubungan” setelah pertemuan-pertemuan antara kabinet PM maupun kabinet bayangan dari pemimpin oposisi tersebut.

Sebelumnya, anggota Partai Buruh yang juga dianggap kanselir bayangan, John McDonnell, mengatakan tidak ada perubahan penting dalam posisi pemerintahan. Menteri Luar Negeri Inggris, Jeremy Hunt, mengatakan kompromi bukan tidak mungkin, tapi pembicaraan tidak bisa dilanjutkan.

Diskusi antara kubu Theresa May dan Jeremy Corbyn itu telah berlangsung berminggu-minggu tanpa adanya tanda kemajuan.

John McDonnell sebelumnya mengkritik surat dari senior Partai Konservatif (Tory) untuk mendesak Theresa May agar tidak menyetujui kesepakatan dengan Partai Buruh yang mencakup serikat pabean. Surat itu ditandatangani oleh 13 bekas menteri kabinet Partai Tory dan Graham Brady, yaitu komite backbench 1922.

Menurut McDonnell, Partai Buruh tidak cukup melihat pergerakan para menteri-menteri untuk mencapai kesepakatan, khususnya isu serikat pabean dengan UE, sebaliknya memaksa Partai Buruh untuk berkompromi dalam beberapa hal, tapi tidak dekat dengan keinginan partai itu sama sekali.

Pembicaraan antara pemerintah dan Partai Buruh pada Selasa (14/5/2019) bertujuan menemukan cara mengakhiri kebuntuan Brexit. Kedua pihak ditekan untuk menunjukkan kemajuan atau menarik diri.



Sumber: Suara Pembaruan/CNN/BBC