Para Ahli dari 40 Negara Gelar Konferensi Keanekaragaman Hayati dan Pegunungan

Para Ahli dari 40 Negara Gelar Konferensi Keanekaragaman Hayati dan Pegunungan
Perwakilan peneliti Indonesia dari IMERC Sekolah Studi Strategis dan Global Universitas Indonesia, Kholidah Tamami menghadiri konferensi internasional berjudul "Pegunungan: Budaya, Bentang Alam dan Keanekaragaman Hayati" ( Foto: istimewa )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Rabu, 15 Mei 2019 | 20:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Daerah pegunungan di seluruh dunia dipengaruhi oleh dampak eksploitasi sumber daya yang tidak terkendali (karena penambangan berat dan pertanian intensif) dan industri pariwisata yang terus berkembang yang tampaknya tidak mengenal batas. Perkembangan ini memberi tekanan pada keanekaragaman hayati dan pada populasi yang secara tradisional menempati mereka.

Dengan latar belakang ini, maka digelar konferensi internasional berjudul "Pegunungan: Budaya, Bentang Alam dan Keanekaragaman Hayati" yang diikuti para ahli dari sekitar 40 negara. Konferensi ini digelar bersama oleh Universitas Kaspia Barat dan Lembaga Penelitian Peradaban dan Lansekap Gunung yang didirikan dalam kerangka kerja sama dengan Federasi Pendakian dan Pendakian Gunung Internasional (UIAA) pada 10-12 Mei.

Fokus utama dari konferensi ini adalah untuk mempertemukan para ilmuwan, ahli ekologi, ahli biologi, pakar pariwisata dan profesional lain yang tertarik untuk menemukan solusi untuk masalah eksploitasi sumber daya dan menemukan solusi baru dan kreatif untuk masalah yang paling mendesak di dunia.

Rektor Universitas Kaspia Barat, Profesor Andris Leitas mencatat bahwa semua daerah pegunungan di dunia sedang mengalami pengembangan melalui eksploitasi sumber daya tak terbatas serta melalui sektor pariwisata yang sedang tumbuh.

"Perkembangan ini memberikan tekanan pada keanekaragaman hayati dan populasi pegunungan. Tujuan konferensi ini adalah untuk mengatur debat bagi akademisi, ekologi, biolog, spesialis pariwisata, dan profesional lain yang tertarik untuk menemukan solusi baru dan kreatif untuk masalah ini," ujar Profesor Andris Leitas dalam siaran pers, Rabu (15/5/2019).

Sesi pembukaan dibahas oleh para pemimpin dan pakar terkemuka Koordinator Residen PBB di Azerbaijan Gulam Isakzai, Kepala Institut Geografi Profesor Ramiz Mammadov, Anggota Masyarakat Geografis Kerajaan Inggris Raya dan Wakil Presiden UIAA Michael Maunsel, Lode Beckers anggota Dewan Gunung, Rozalaura Romeo, Program Officer dari Sekretariat Kemitraan Gunung di bawah Organisasi Pangan dan Pertanian PBB Michael Succow, Pendiri Succow Environmental Protection Fund.

Kelompok terhormat ini menggambarkan fitur-fitur lanskap gunung, kondisi permukiman, masalah di dunia ini, prospek, infrastruktur dan akses ke berbagai layanan di daerah pegunungan, serta pentingnya masalah dan proyek di bidang perlindungan. dari pegunungan. Para ahli menjawab pertanyaan dan bertukar pandangan dengan peserta.

Konferensi berlanjut selama dua hari diikuti oleh studi tur dari Pegunungan Kaukasus Selatan di dekatnya.

Tidak ketinggalan hadir pula peserta dari Indonesia yakni perwakilan peneliti Indonesia dari IMERC Sekolah Studi Strategis dan Global Universitas Indonesia, Kholidah Tamami. Dikatakan Kholidah, konferensi ini melampaui harapan, sangat antusias dan sukses. Relawan dari antara siswa dapat mengintegrasikan diri mereka sebagai pejuang dan pemikir dalam memberikan pelayanan yang baik.

Kholidah mengambil tema "Anomali Otonomi Daerah di Gunung Cartenz ”, yang berlokasi di Papua Indonesia, adalah salah satu dari tujuh puncak (gunung tertinggi ke-7) di dunia di bawah UNESCO yang membutuhkan kolaborasi tidak hanya dari pemerintah Indonesia tetapi juga dari masyarakat internasional sehingga dapat membangun sinergi yang baik. Turut hadir sebagai pemapar Prof, Dr. Husnan Bey Fanani selaku Dubes RI untuk Azerbaijan.

 



Sumber: BeritaSatu.com