Inggris Pertanyakan Tuduhan AS untuk Iran

Inggris Pertanyakan Tuduhan AS untuk Iran
Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly (tengah) berbicara kepada tentara Prancis di Kota Al-Waim, wilayah timur Suriah, yang terlibat dalam koalisi internasional melawan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), pada Februari 2019. Pasukan koalisi anti-ISIS yang terdiri dari militer AS dan negara-negara sekutu dari Eropa, saling bertentangann mengenai klaim AS tentang ancaman Iran. ( Foto: AFP / Daphné Benoit )
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 16 Mei 2019 | 15:30 WIB

London, Beritasatu.com - Kementerian Pertahanan Inggris mempertanyakan tuduhan Amerika Serikat (AS) terhadap ancaman militer Iran di kawasan Timur Tengah.

Inggris juga mendukung keterangan Mayor jenderal Christopher Ghika bahwa tak ada indikasi ancaman militer Iran yang meningkat di kawasan itu.

“Kami mempercayai laporan komentar Mayor Jenderal Christopher Ghika. Laporannya didasarkan pada operasi militer sehari-hari (di lapangan, red),” bunyi pernyataan Kementerian Pertahanan Inggris, Rabu (15/5/2019).

Pernyataan senada juga disampaikan pejabat Irak, yang merasa skeptis dengan laporan intelijen AS yang dilaporkan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, saat berkunjung ke negara itu, pekan lalu. Dalam kunjungan tersebut, Pompeo meminta jaminan Irak untuk keamanan personel militer AS di Irak.

Parlemen AS juga mempertanyakan laporan intelijen dan meminta Pemerintahan Presiden Donald Trump segera memberi penjelasan. AS telah menuding Iran meningkatkan ancaman militer, bahkan berada di balik sabotase yang menyebabkan kerusakan pada empat kapal tanker di pelabuhan Uni Emirat Arab.

Terkait dengan laporan intelijen tersebut, AS dikabarkan merencanakan invasi militer ke Iran, dengan menyiapkan pasukan tempur sebanyak 120.000 personel yang didukung dengan peralatan militer canggih. Namun laporan mengenai persiapan perang AS terhadap Iran itu, dibantah Presiden Donaldt Trump.

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai Trump kemungkinan telah dipermainkan oleh Penasehat Keamanan Nasional, John Bolton, dan Menteri Luar Negeri, Mike Pompeo, dengan laporan intelijen palsu atau berlebihan.

Kementerian Pertahanan Jerman juga mengatakan telah menangguhkan program pelatihannya di Irak. Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Jerman menyatakan telah menerima indikasi potensi serangan yang didukung oleh Iran, tetapi tidak ada ancaman khusus atau serius terhadap 160 tentara Jerman yang terlibat dalam operasi pelatihan di Irak.

Seolah tidak peduli dengan skeptisme dunia terkait dugaan ancaman Iran, Departemen Luar Negeri AS, telah memerintahkan "pegawai non-darurat" untuk meninggalkan Irak. Staf di kedutaan AS di Baghdad dan konsulat di Irbil diperingtahkan harus meninggalkan negara itu secepat mungkin dengan transportasi komersial.

"Memastikan keselamatan personel dan warga negara pemerintah AS adalah prioritas utama kami dan kami yakin dengan [kemampuan] layanan keamanan Irak untuk melindungi kami. Tetapi ancaman ini serius dan kami ingin mengurangi risiko bahaya," kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri AS tanpa menyebut identitas.



Sumber: Suara Pembaruan/The Telegraph