Tetapkan Gender Ditentukan Tuhan

Vatikan Menuai Protes dari Komunitas LGBT

Vatikan Menuai Protes dari Komunitas LGBT
Seorang demonstran memegang poster bertuliskan "Tutup Vatikan" selama pawai Gay Pride tahunan di Paris, pada 26 Juni 2010. ( Foto: Istimewa )
Jeany Aipassa / JAI Rabu, 12 Juni 2019 | 15:29 WIB

Vatikan, Beritasatu.com - Vatikan menuai protes dari Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) dan komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual and Transgender), terkait dengan dokumen resmi yang menetapkan bahwa gender ditentukan oleh Tuhan bukan kemauan individu.

Jay Brown dari Kampanye HAM, kelompok hak asasi LGBT terbesar di Amerika Serikat (AS), mengatakan sikap Vatikan mengirimkan pesan berbahaya bahwa siapa pun yang mengalami keragaman gender entah untuk alasan apapun.

Pernyataan senada disampaikan oleh kelompok advokasi New Ways Ministry yang menilai keputusan Vatikan akan semakin membingungkan individu yang mempertanyakan identitas gender atau orientasi seksual mereka dan berisiko membahayakan diri.

New Ways Ministry menyerukan Vatikan melakukan "jalur dialog" dan mendengarkan tentang "teori gender" dalam pendidikan, untuk memberi kejelasan dan membantu para guru, orang tua, murid, dan rohaniwan Katolik dalam pendidikan seks.

Komunitas LGBT Katolik menyebutkan bahwa teks dari dokumen resmi tersebut, tampaknya bergantung pada pernyataan Paus Fransiskus sebelumnya, dan mengabaikan masukan dari pakar, juga para filsuf dan teolog.

"Pengalaman kehidupan nyata orang LGBT tampaknya sama sekali tidak ada dalam dokumen ini. Kami harus menyambut panggilan kongregasi untuk berdialog dan mendengarkan tentang gender, dan saya berharap pembicaraan sekarang akan dimulai," kata Pendeta James Martin, seorang imam Yesuit yang menulis buku tentang peningkatan jangkauan Gereja Katolik kepada komunitas LGBT, berjudul "Membangun Jembatan”.

Pada Senin (10/6), Vatikan mengeluarkan dokumen resmi yang menolak gagasan bahwa orang dapat memilih atau mengubah jenis kelamin mereka. Dokumen itu juga menegaskan tentang misi penciptaan dan pasangan “sepadan dan saling melengkapi" adalah pria dan wanita.

Dokumen itu menyerukan aliansi baru di antara keluarga, sekolah dan masyarakat untuk menawarkan "pendidikan seksual yang positif dan bijaksana" di sekolah-sekolah Katolik sehingga anak-anak belajar "kebenaran asli penuh maskulinitas dan feminitas".

Hal ini disebut fluiditas gender sebagai gejala dari "konsep kebebasan yang membingungkan" dan "keinginan sesaat" yang menjadi ciri budaya post-modern, yang menolak istilah-istilah seperti "interseks" dan "transgender" dan mengatakan tujuan "komplementaritas" biologis dari organ seks pria dan wanita adalah untuk memastikan prokreasi.

Paus Fransiskus berulangkali berargumen tentang posisi bahwa orang tidak dapat memilih jenis kelamin mereka. Tetapi dokumen tersebut merupakan upaya pertama untuk menempatkan posisi Vatikan, pertama kali diartikulasikan sepenuhnya oleh Paus Benediktus XVI dalam pidato 2012, ke dalam teks resmi yang komprehensif.

Francis DeBernardo, kepala New Ways Ministry, mengatakan konsep seperti itu sudah ketinggalan zaman, salah informasi dan mengabaikan ilmu pengetahuan kontemporer tentang faktor-faktor di luar alat kelamin yang terlihat yang menentukan gender.

"Jenis kelamin juga ditentukan secara biologis oleh genetika, hormon, dan kimia otak, hal-hal yang tidak terlihat saat lahir. Orang-orang tidak memilih jenis kelamin mereka, seperti yang dinyatakan Vatikan, mereka menemukannya melalui pengalaman hidup mereka," kata Francis DeBernardo.



Sumber: AP/Suara Pembaruan