Tuntut Pemilu Bebas di Rusia, 800 Demonstran Ditahan

Tuntut Pemilu Bebas di Rusia, 800 Demonstran Ditahan
Petugas polisi antihuru-hara menahan seorang peserta unjuk rasa yang mendesak pemilihan umum yang adil di Lapangan Pushkinskaya Moskwa, Rusia, Sabtu (3/8/2019). ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Minggu, 4 Agustus 2019 | 11:11 WIB

Moskwa, Beritasatu.com- Polisi Rusia secara paksa menahan lebih dari 800 orang yang menghadiri protes di Moskwa pada Sabtu (3/8). Demonstran menuntut pemilihan bebas, termasuk menangkap aktivis terkemuka Lyubov Sobol. Penangkapan dilakukan setelah pihak berwenang memperingatkan demonstrasi itu ilegal.

Polisi memindahkan Sobol, sekutu politisi oposisi Alexei Navalny yang dipenjara, dari taksi dan menggiringnya ke dalam mobil. Para aktivis anti-Kremlin memprotes pengecualian kandidat mereka dari pemilihan bulan depan.

Penyelidik Rusia membuka penyelidikan kriminal atas dugaan pencucian 1 miliar rubel (US$ 15,3 juta) oleh yayasan anti-korupsi. Navalny dan sekutu-sekutunya mengatakan yayasan itu, yang telah menerbitkan banyak investigasi memalukan kepada pejabat pemerintah, secara transparan dibiayai dari sumbangan publik.

OVD-Info, satu kelompok pemantau independen, mengatakan polisi telah menahan 828 orang di Moskwa pada Sabtu. Aparat juga memukuli demonstran dengan pentungan ketika mereka terbaring di tanah. Wartawan Reuters menyaksikan puluhan penangkapan. Dalam satu kasus, polisi membawa seorang pria ketika berusaha lari ke sepedanya.

Sebaliknya polisi mengatakan telah menahan 600 dan bahwa 1.500 orang telah menghadiri protes, meskipun rekaman demonstrasi yang berkobar di berbagai wilayah Moskwa menunjukkan banyak orang turun ke jalan. Aktivis oposisi kemudian memposting tangkapan layar daring dari laporan polisi yang menunjukkan sekitar 10.000 telah hadir.

Protes Sabtu itu lebih kecil dari satu minggu sebelumnya, tetapi menggarisbawahi tekad sejumlah kritikus Kremlin - terutama orang-orang muda. Mereka terus mendesak pemerintah untuk membuka sistem politik Rusia yang ditata ketat.

Fokus kemarahan pemrotes adalah larangan terhadap sejumlah kandidat yang berpikiran oposisi. Beberapa kandidat di antaranya adalah sekutu Navalny, yang ikut serta dalam pemilihan bulan September untuk badan legislatif kota Moskwa.



Sumber: Suara Pembaruan