Listrik Padam di London Sempat Bikin Chaos

Listrik Padam di London Sempat Bikin Chaos
Para komuter berusaha mencari jalan keluar dari jaringan kereta bahwa tanah tak berfungsi akibat pemadaman listrik di London, Inggris, Jumat (9/8/2019). ( Foto: ABC / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Sabtu, 10 Agustus 2019 | 13:30 WIB

London, Beritasatu.com- Transportasi kereta berhenti, rumah-rumah menjadi gelap dan mobil berkeliaran di persimpangan tanpa lampu lalu lintas ketika sebagian besar London dan Inggris selatan kehilangan pasokan daya listrik, Jumat (9/8).

Semua daya kini telah dipulihkan kembali, menurut Jaringan Listrik Inggris dan Distribusi Daya Barat, yang melayani daya ke Midlands, wilayah Barat Daya dan Wales.

UK Power Networks menulis di Twitter bahwa pemadaman itu karena masalah pada jaringan transmisi nasional. Perusahaan listrik itu menambahkan perusahaan percaya semua pasokan telah dipulihkan.

Sebelumnya pada hari itu, Operator Sistem Listrik Jaringan Nasional negara itu mencuit di Twitter tentang "masalah" pada dua pembangkit listrik.

Transportasi perkotaan sangat dipengaruhi oleh pemadaman, jika hanya sebentar. Jalur utama bawah tanah London sempat berhenti karena pemadaman. Hal itu dikonfirmasi Transport for London (TfL) kepada CNN, meskipun pada pukul 18.00 layanan sudah dipulihkan.

"Jalur Victoria terpengaruh, tetapi itu kembali pulih dan berjalan sekarang. Namun ada penundaan yang parah," kata juru bicara TfL kepada CNN.

Badan TfL telah mendesak agar berhati-hati di jalan, karena beberapa lampu lalu lintas menjadi gelap karena pemadaman. Namun bandara-bandara besar tidak terpengaruh.

Pemadaman sementara juga mempengaruhi beberapa layanan kereta api di atas permukaan tanah. Di Twitter, Thameslink menyatakan kereta-kereta telah terhenti, dan London North Eastern Railway menyatakan beberapa kereta api telah mogok.

"Masalah pasokan listrik saat ini menyebabkan gangguan pada sejumlah besar layanan kereta. Layar informasi di beberapa daerah juga terpengaruh," kata National Rail Enquiries, seperti dikutip Asosiasi Pers Inggris.



Sumber: Suara Pembaruan