KTT G-7 Berakhir Tanpa Konsensus Berarti

KTT G-7 Berakhir Tanpa Konsensus Berarti
Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan) dan Presiden AS Donald Trump berjabat tangan dalam konferensi pers bersama di Biarritz, barat daya Prancis pada hari ketiga KTT G7, Senin (26/8/2019). ( Foto: AFP / ludovic MARIN )
Jeanny Aipassa / WIR Selasa, 27 Agustus 2019 | 19:45 WIB

Biarritz, Beritasatu.com- Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok tujuh negara maju atau Group 7 (G-7), di Biarritz, Prancis, berakhir tanpa konsensus berarti. Hal itu, tidak terlepas dari pengaruh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang menolak terlibat dalam pembahasan sejumlah agenda.

Satu-satunya kesepakatan yang dicapai tujuh pemimpin negara G-7, yang beranggotakan AS, Prancis, Inggris, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang, adalah pemberian bantuan sebesar US$ 20 juta atau sekitar Rp 284,720 miliar untuk mengatasi kebakaran hutan Amazon di Brasil.

KTT G-7 yang berlangsung selama tiga hari, mulai 24-26 Agustus 2019, mengusung sejumlah agenda antara lain kerja sama perdagangan antarnegara anggota, dan sejumlah isu global seperti perubahan iklim, perang dagang, ancaman senjata nuklir, dan resesi ekonomi Eropa.

Sejumlah diplomat yang terlibat dalam pertemuan itu menyatakan para pemimpin menyentuh beberapa masalah global selama diskusi, tetapi tidak mencapai kesepakatan. Hal itu, semakin memperdalam perpecahan di dalam G-7 dalam dua tahun terakhir, sejak Trump memutuskan keluar dari Perjanjian Iklim Paris.

Secara umum, para pemimpin G-7 mencapai kesepakatan saat membahas kerja sama perdagangan bilateral. Misalnya, kesepakatan perdagangan AS dan Jepang di sektor pertanian dan industri, juga kesepakatan AS dan Prancis untuk tarif produk bidang teknologi.

Namun sejumlah sumber mengatakan pembicaraan bilateral dengan Trump belum menyentuh subtansi, sehingga tidak ada jaminan bahwa apa yang dibicakan Trump dapat ditindaklanjuti.

Sumber pemerintah Jepang bahkan mengatakan Trump membual tentang kesepakatan perdagangan baru dengan Perdana Menteri, Shinzo Abe, yang nilainya disebut mencapai US$ 7 miliar atau sekitar Rp 99,876 triliun. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Jepang, Takeshi Osuga, mengatakan bahwa pembicaraan itu masih dalam tahap awal dan belum mencapai kesepakatan.

Brian Klaas, doktor politik global di University College London, mengatakan perpecahan G-7 terlihat dari pernyataan akhir yang hanya sebanyak satu halaman sepanjang 250 kata.



Sumber: Suara Pembaruan