Partai Buruh Akan Hentikan “No-Deal Brexit”

Partai Buruh Akan Hentikan “No-Deal Brexit”
Seorang demonstran anti-Brexit mengibarkan bendera Uni Eropa dan Inggris saat demonstrasi menentang langkah pemerintah Inggris untuk menunda parlemen di minggu-minggu terakhir sebelum Brexit di luar Downing Street di London, Inggris, Sabtu (31/8/2019). ( Foto: AFP / Niklas HALLE'N )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Senin, 2 September 2019 | 20:52 WIB

London, Beritasatu.com- Oposisi utama Inggris, Partai Buruh, menyatakan akan melakukan apa pun yang memungkinkan untuk menghentikan Brexit tanpa kesepakatan (no-deal Brexit) setelah parlemen aktif kembali setelah reses pada Selasa (3/9).

Anggota parlemen Inggris secara luas menentang kemungkinan Inggris keluar dari Uni Eropa (UE) tanpa pengaturan transisi yang tertib pada 31 Oktober 2019.

“Kabinet bayangan akan bertemu untuk memfinalisasi rencana-rencana kami menghentikan bencana 'No-Deal' menjelang kembalinya parlemen,” kata Ketua Partai Buruh Jeremy Corbyn merujuk pertemuan tokoh-tokoh Partai Buruh, Senin (1/9).

Parlemen berusaha menyusun rencana untuk memaksa Perdana Menteri (PM) Boris Johnson mengabaikan no-deal Brexit. “Kami bekerja dengan partai-partai lain untuk melakukan semua hal yang diperlukan untuk menarik negara kita dari tepi (jurang),” kata Corbyn.

Sementara itu, Johnson mengatakan upayanya untuk mencapai kesepakatan baru dengan UE akan terhambat dengan setiap upaya di Westminster (gedung parlemen Inggris) untuk memblokir no-deal Brexit.

Johnson telah membatasi fleksibilitas anggota parlemen dengan menangguhkan lembaga itu selama lebih dari satu bulan sebelum tenggat waktu Brexit. Jika mereka meloloskan RUU, Menteri Senior Inggris Michael Gove menyatakan menolak untuk menjamin hal tersebut akan diperhatikan.

Kepada surat kabar Sunday Times, Johnson mengatakan pilihan bagi anggota parlemen adalah memihak Corbyn, yang ingin menggulingkan putusan rakyat, dan menjatuhkan negara ini ke dalam kekacauan, atau berada di pihak mereka yang ingin melanjutkannya.

Di pihak lain, Corbyn mengatakan pertarungan untuk menghentikan no-deal Brexit bukanlah perjuangan antara mereka yang ingin meninggalkan UE dan mereka yang tetap ingin berada di UE.

“Ini pertempuran dari banyak orang melawan sedikit orang yang ingin membajak hasil referendum dengan menggeser lebih banyak kekuasaan dan kekayaan ke mereka yang berada di atas,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan