Di Kapel Sistina Vatikan, Menteri Agama Termenung

Di Kapel Sistina Vatikan, Menteri Agama Termenung
Markus Solo Kewuta SVD (kedua dari kiri) dari Dewan Kepausan untuk Hubungan Antaragama, Vatikan, berfoto bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di depan Kapel Sistina, Vatikan, Kamis, 2 Oktober 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Sabtu, 5 Oktober 2019 | 17:46 WIB

Vatikan, Beritasatu.com - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin duduk lama diam termenung di Kapel Sistina yang terletak di dalam lingkungan Istana Kepausan, Vatikan. Sambil mendengar penjelasan, Lukman Hakim Saifuddin tidak berhenti melihat ke atas langit-langit kapel tersebut.

Lukisan-lukisan di langit-langit kapel Sistina itu berkisah tentang penciptaan hingga kisah Nabi Nuh dan juga pengadilan terakhir. Kapel ini terkenal karena arsitekturnya yang tampak melahirkan kembali Bait Salomo dari era Perjanjian Lama dan seluru dekorasinya dihias oleh seniman-seniman besar era Renaissance, seperti Michelangelo, Raphael, dan Sandro Botticelli.

Perhatian Lukman Hakim semakin serius ketika menyadari bahwa Kapel Sistina (Sistine), yang dinamai oleh Paus Sixtus IV, merupakan tempat sakral di mana konklaf diadakan. Konklaf adalah tata cara yang telah mentradisi ribuan tahun untuk memilih Paus baru sebagai pimpinan tertinggi gereja Katolik sedunia.

Ketika konklaf diadakan, mata dunia senantiasa tertuju pada cerobong yang terletak di atas kapel ini sebagai penanda proses pemilihan Sri Paus. Jika asap hitam keluar dari cerobong tersebut, itu pertanda belum ada Paus yang terpilih. Namun, jika Paus baru terpilih, cerobong akan mengeluarkan asap putih. Yang menarik, ketika konklaf diadakan, para kardinal yang berhak memilih dan dipilih sebagai Paus akan memutuskan hubungan dengan dunia luar.

Demikian secuil kisah Markus Solo Kewuta SVD, dari Dewan Kepausan untuk Hubungan Antaragama Vatikan, yang diterima Beritasatu.com, Sabtu (5/10/2019). Markus Solo mendampingi Lukman Hakim berkeliling museum Vatikan yang berakhir di Kapel Sistina, Kamis (3/10/2019).

Kunjungan ke Museum Vatikan dan Kapel Sistina, ujar Markus Solo, dilakukan setelah Lukman Hakim mengadakan pertemuan selama satu sengan jam dengan Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama, Uskup Miguel Ayuso dan dihadiri oleh Dubes Indonesia untuk Vatikan, Agus Sriyono dan Markus Solo. Uskup Miguel Ayuso akan menerima tahbisan (pelantikan) sebagai Kardinal bersama-sama dengan Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo.

Kehadiran Lukman Hakim di Vatikan adalah sebagai tamu kehormatan untuk menyaksikan pentahbisan Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo sebagai Kardinal, yang berlangsung hari ini, Sabtu (5/10/2019).

Dalam perjalanan baik Pastor Markus Solo dan Menag Lukman Hakim terlibat pembicaran hangat tentang dialog harus menjadi pilar utama perwujudan perdamaian dan hubungan yang harmonis antar umat beragama. Keduanya sepakat untuk memajukan berbagai upaya umat beragama untuk saling menerima perbedaan, saling mengenal, bekerja sama untuk hal-hal yang baik, dan berujung pada kesejahateraan bersama.

“Kami berdua sepandangan bahwa kita harus memajukan pendidikan yang berkarakter inklusif, tidak hanya mengenal agama sendiri. Artinya, para siswa terbuka untuk mengenal agama-agama lain secara objektif di dalam pengajaran di sekolah-sekolah. Hal ini berkaitan dengan perubahan kurikulum nasional, baik untuk sekolah swasta atau negeri, yang berorientasi pada penerimaan dan pengakuan perbedaan agama. Sebagai tindak lanjut dari itu adalah bagaimana harus mencari upaya-upaya positif untuk menghadapi serta menghidupi dinamika perbedaan,” ujar Markus Solo.

Markus Solo dan Menag Lukman Hakim memiliki pandangan yang sama dan bahkan sama-sama meyakini bahwa pendidikan yang berujung pada perdamaian harus melalui proses yang tidak didukung oleh sebuah sistem pengajaran indoktrinatif.

Pengajaran indoktrinatif hanya membatasi ruang pemikiran kreatif dan indipenden dari anak-anak didik untuk berpikir secara bebas, kritis, dan distinktif. Masa depan yang lebih damai dan rukun harus dicapai melalui perbaikan sistem pendidikan generasi muda saat ini.



Sumber: Suara Pembaruan