PM Belanda Minta Isu Islamofobia Tidak Dibesar-besarkan

PM Belanda Minta Isu Islamofobia Tidak Dibesar-besarkan
Perdana Menteri Belanda Mark Rutte (kiri) berbicara dengan Presiden Indonesia Joko Widodo di Istana Bogor, saat pertemuan bilateral, Senin (7/10/2019). ( Foto: AFP/Istana Presiden / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Selasa, 8 Oktober 2019 | 18:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Perdana Menteri (PM) Belanda Mark Rutte melakukan persinggahan ke Indonesia selama satu hari, Senin (7/10), dalam perjalanannya untuk mengunjungi Australia dan Selandia Baru. Rutte bertemu dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di Istana Bogor pada Senin siang, dilanjutkan diskusi dengan berbagai kalangan masyarakat pada sore harinya.

Dalam diskusi yang difasilitasi oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), pendiri FPCI sekaligus mantan wakil menteri luar negeri Dino Patti Djalal menanyakan tentang peningkatan Islamofobia (ketakutan kepada Islam) di Eropa saat ini.

“Jangan buat itu (Islamofobia) terlalu besar, selalu pesan saya kepada orang-orang yang merasa khawatir dengan perkembangan politik saat ini,” kata Rutte.

Menurut Rutte, hal yang sesungguhnya terjadi adalah meningkatnya migrasi dan jumlah orang yang datang ke negara-negara seperti Austria, Belanda, dan Prancis. Dia menyebutnya sebagai dampak globalisasi yang harus diadaptasi.

“Itu bukan karena rasisme atau ketakutan kepada orang lain, itu karena hal-hal terjadi dengan cepat. Faktanya, kami telah berusaha mengendalikan migrasi, sebagai contoh krisis pengungsi Suriah,” ujarnya.

Rutte mengatakan satu juta orang dari Suriah telah datang ke Jerman. Itu sebabnya, Eropa harus mempunyai solusi atas masalah itu. Banyak migran yang tinggal di beberapa bagian negara di Eropa memiliki pendapatan rendah, serta tidak saling memahami satu sama lain karena bahasa dan sistem nilai yang berbeda.

“Itu menimbulkan masalah, (tapi) bukan anti-Islam atau anti-orang asing. Ini karena sebagai negara, Anda harus siap menyerap (pengungsi),” katanya.

Namun, Rutte mengakui diskriminasi tetap saja terjadi. “Ketika mereka berusaha magang di perusahaan, mereka harus melamar lebih dari tiga kali karena nama mereka Muhammad atau Fatimah, bukannya John atau Mikael,” katanya.

“Itu bodoh, perusahaan-perusahaan tidak mempekerjakan Anda karena nama depan Anda. Mereka harus menghargai perbedaan,” tambah Rutte.



Sumber: Suara Pembaruan