Pecahkan Kebuntuan Brexit, Inggris Gelar Pemilu 12 Desember

Pecahkan Kebuntuan Brexit, Inggris Gelar Pemilu 12 Desember
Foto yang diambil dari rekaman video, menunjukkan pemimpin Partai Buruh, Jeremy Corbyn, berpidato di hadapan anggota House of Commons (Parlemen), di London, Inggris, Selasa (29/10). ( Foto: AFP )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Rabu, 30 Oktober 2019 | 16:36 WIB

London, Beritasatu.com - Pemerintah Inggris akan menggelar pemilihan umum (pemilu) pada 12 Desember 2019, yang diharapkan dapat memecahkan kebuntuan keluarnya negara itu dari Uni Eropa atau disebut Brexit.

Penyelenggaraan pemilu yang diusulkan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, disetujui mayoritas anggota Parlemen Inggris, dalam sidang yang digelar pada Selasa (29/10). Sebanyak 438 anggota parlemen mendukung pemilu, dan 20 lainnya menolak.

Suara mayoritas itu didapatkan setelah pemimpin oposisi utama, Partai Buruh, Jeremy Corbyn, menyatakan partainya akan mendukung pemilu sebagai kesempatan satu kali dalam satu generasi untuk mengubah negara itu.

Pemilu Inggris sebelum perayaan Natal itu, akan menjadi pemungutan suara pertama kalinya di bulan Desember sejak 1923. Setelah lolos di Dewan Rakyat, RUU Pemilu itu masih harus disetujui oleh Dewan Bangsawan pada akhir pekan ini, agar bisa berlaku sebagai hukum.

Parlemen akan dibubarkan Rabu depan (6/11) untuk melakukan kampanye selama lima pekan sampai hari pemungutan suara. PM Boris Johnson mengatakan publik harus diberikan pilihan atas masa depan Brexit dan negara itu.

Boris Johnson berharap pemilu akan memberikannya mandat segar untuk kesepakatan Brexit dan memecahkan kebuntuan parlemen saat ini. Menurutnya, “ini saatnya negara bersatu dan menyelesaikan Brexit”.

Oposisi lain yaitu Partai Demokrat Liberal (Lib Dem) dan Partai Nasional Skotlandia (SNP) abstain dalam voting RUU Pemilu karena kedua partai itu lebih suka pemilu digelar pada 9 Desember 2019.

Lebih dari 100 anggota parlemen Partai Buruh tidak memilih atau abstain, sedangkan 11 anggotanya menentang pemilu. Total 127 anggota parlemen Partai Buruh, termasuk Jeremy Corbyn, yang mendukung pemilu.

Di parlemen, Jeremy Corbyn langsung menyerukan kampanye pemilu. Dia meminta para pemilih untuk mencopot Partai Konservatif dari PM Johnson yang merasa sebagai pihak yang “dilahirkan untuk memerintah”.

Jeremy Corbyn mengatakan partainya sekarang akan meluncurkan kampanye paling ambisius dan radikal untuk perubahan sebenarnya yang belum pernah dilihat negara itu.

Menteri kabinet bayangan dari Partai Buruh, Andrew Gwynne, menambahkan para pemilih menghadapi pilihan antara lima tahun lagi Boris Johnson menghancurkan dan membakar politik, atau pemerintahan Partai Buruh yang secara murni berada di pihak rakyat pekerja. Sedangkan, pemimpin Lib Dem, Jo Swinson, menyebut kesempatan terbaik untuk memilih pemerintahan yang menghentikan Brexit.



Sumber: Suara Pembaruan