Kesepakatan Brexit Johnson Rugikan Inggris Rp 1.267 Triliun

Kesepakatan Brexit Johnson Rugikan Inggris Rp 1.267 Triliun
Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, memberikan penjelasan dalam pertemuan mingguan di House of Commons (parlemen), London, pada 30 Oktober 2019. ( Foto: AFP / Jessica Taylor )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 31 Oktober 2019 | 14:53 WIB

London, Beritasatu.com - Kesepakatan Brexit yang ditawarkan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, akan merugikan negara itu sampai 70 miliar poundsterling (sekitar Rp 1.267 triliun), jika dibandingkan dengan tetap berada di Uni Eropa (UE).

Hasil studi independen Institut Nasional Penelitian Ekonomi dan Sosial (NIESR), yang dipublikasikan Rabu (30/11), juga menunjukkan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Inggris akan lebih rendah 3,5% dalam 10 tahun di bawah kesepakatan Brexit versi Johnson.

Data yang dipaparkan NIESR itu, menjadi salah satu penilaian pertama tentang perekonomian Inggris di bawah kesepakatan Brexit yang baru. Namun, Kementerian Keuangan Inggris mengaku merencanakan kesepakatan lebih ambisius dengan UE dibandingkan temuan dari NIESR.

“Kami bertujuan merundingkan perjanjian perdagangan bebas komprehensif dengan UE, yang lebih ambisius dibandingkan standar kesepakatan perdagangan bebas yang NIESR dasarkan dari temuannya,” sebut seorang juru bicara kementerian tersebut yang tidak disebutkan namanya.

NIESR menyatakan persetujuan dari kesepakatan PM akan mengurangi resiko dari hasil yang tidak tertib, tapi menghapuskan kemungkinan hubungan perdagangan lebih dekat dengan UE.

Meskipun perjanjian antara UE dan Inggris menghapuskan ketidakpastian, tapi bea cukai, dan hambatan peraturan akan menghambat perdagangan barang dan jasa dengan benua ini sehingga membuat seluruh kawasan di Inggris lebih buruk dibandingkan jika negara itu tetap berada di UE.

“Kami memperkirakan, dalam jangka panjang, ekonomi akan menjadi 3,5% lebih kecil dengan kesepakatan (Johnson) dibandingkan tetap melanjutkan keanggotaan UE,” tambah laporan itu.

Laporan itu juga menemukan kesepakatan perdagangan bebas yang diajukan dengan UE sedikit lebih buruk dari perekonomian dibandingkan kesepakatan mantan PM Theresa May tahun lalu.

NIESR menyebut kesepakatan di bawah May telah mengurangi ukuran ekonomi sebesar 3% pada periode yang sama.

NIESR adalah institut penelitian ekonomi independen tertua di Inggris yang berdiri pada 1938. Setahun lalu, lembaga itu melakukan studi yang diminta Suara Rakyat, yang menyebutkan PDB akan lebih rendah 3,9% pada 2030.

 



Sumber: Suara Pembaruan