Spanyol Siap Gantikan Cile Jadi Tuan Rumah KTT Perubahan Iklim

Spanyol Siap Gantikan Cile Jadi Tuan Rumah KTT Perubahan Iklim
Para pemimpin negara Asia Pasifik berpose dalam KTT Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Port Moresby, Papua Nugini, 18 November 2018. ( Foto: AFP )
Jeanny Aipassa / WIR Jumat, 1 November 2019 | 19:29 WIB

Madrid, Beritasatu.com- Spanyol menyatakan siap untuk menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim atau dikenal dengan COP25, setelah Cile mundur sebagai penyelenggara KTT itu dan KTT Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC).

Pertemuan iklim itu bertujuan menyempurnakan rincian implementasi pakta iklim dari Perjanjian Paris di tengah seruan untuk tindakan mendesak dari kelompok-kelompok lingkungan dan demonstran iklim.

Pemerintah Spanyol dalam pernyataannya menyebut Perdana Menteri (PM) Pedro Sanchez siap untuk melakukan apa pun yang diperlukan untuk menyelenggarakan pertemuan itu di Madrid. Keputusan resmi untuk melaksanakan KTT itu di Madrid akan diambil hari Senin (4/11).

“Hampir selesai, kami memiliki setiap peluang untuk mendapatkannya,” kata sumber dari pemerintah Spanyol.

Menurut Presiden Cile Sebastian Pinera, PM Sanchez telah menawarkan diri untuk menyelenggarakan pertemuan itu di Spanyol pada hari yang sama dengan jadwal sebelumnya antara 2 dan 13 Desember 2019.

“Saya berharap tawaran murah hati ini dari presiden Spanyol bisa mewakili solusi. Kami membagikan informasi ini dengan otoritas yang memimpin di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB),” kata Pinera.

COP merupakan singkatan dari Conference of the Parties, yaitu pertemuan formal dari para pihak Konvensi Kerangka Perubahan Iklim PBB (UNFCCC). Juru bicara UNFCCC menyatakan menunggu surat resmi dari Spanyol untuk tawaran menggantikan Cile sebagai tuan rumah.

Aksi kekerasan dan demonstrasi telah membuat sebagian besar ibu kota Santiago ditutup, termasuk transportasi publiknya dan negara itu sudah menderita kerugian hampir US$ 400 juta (Rp 5,6 triliun).

Di pihak lain, nasib dari pelaksanaan KTT APEC masih belum jelas karena belum ada satu pun negara yang menawarkan diri menjadi tuan rumah dari pertemuan internasional itu. Pertemuan internasional besar seperti COP25 atau KTT APEC membutuhkan infrastruktur dan perencanaan keamanan yang signifikan.

Seorang pejabat pemerintah yang berbicara secara anonim, mengatakan penyelenggaraan konferensi iklim membutuhkan satu atau dua tahun dan melibatkan 10.000-20.000 orang. Mengambil alih pelaksanaannya hanya dengan persiapan empat minggu tampaknya merupakan jadwal yang tidak realistis.



Sumber: Suara Pembaruan