UE: Inggris Akan Jadi “Pemain Kelas Dua” Pasca Brexit

UE: Inggris Akan Jadi “Pemain Kelas Dua” Pasca Brexit
Pemimpin Partai Nasionalis Skotlandia (SNP) sekaligus Menteri Pertama Skotlandia, Nicola Sturgeon (tengah), berfoto bersama anggota partai SNP di depan plakat bertuliskan 'Stop Brexit', untuk meluncurkan kampanye pemilihan umum (pemilu) Inggris, di Edinburgh, Skotlandia, pada 8 November 2019. Inggris akan menggelar pemilu pada 12 Desember 2019. ( Foto: AFP / ANDY BUCHANAN )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 14 November 2019 | 15:39 WIB

Brugge, Beritasatu.com - Presiden Dewan Uni Eropa (UE), Donald Tusk, memperingatkan bahwa Inggris akan menjadi “pemain kelas dua” setelah keluar dari blok tersebut atau dikenal dengan istilah Brexit.

Menurut Donald Tusk, setelah Brexit terealisasi, Inggris tidak mampu bersaing dengan kekuatan-kekuatan besar seperti Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan UE.

“Hanya Eropa yang bersatu yang bisa menghadapi ketegasan Tiongkok dan memainkan peran efektif di tingkat global,” ujar Donald Tusk, saat memberikan pidato utama di Kampus Eropa di kota Belgia, Brugge, Rabu (13/11), untuk menyampaikan refleksinya selama dua periode masa jabatan presiden dewan UE.

Mantan perdana menteri (PM) Polandia itu, juga menyebut para pendukung Brexit telah tertipu jika mereka berpikir bahwa meninggalkan UE akan membawa kembali dominasi Inggris ke panggung dunia, sebaliknya pemberangkatan Inggris dari UE menandai “akhir nyata dari Kerajaan Inggris”.

Donald Tusk mengungkapkan, dia telah mendengar berulang kali dari para ‘Brexiteer’ (pendukung Brexit, red) bahwa mereka ingin meninggalkan UE untuk membuat Inggris global lagi, dan meyakini hanya itu satu-satunya cara untuk bisa benar-benar menjadi hebat.

“Tapi kenyataanya justru sebaliknya. Hanya sebagai bagian dari Eropa yang bersatu, Inggris bisa memainkan peran global, hanya bersama-sama kita bisa menghadapi, tanpa kerumitan, kekuatan terbesar di dunia ini. Dan dunia mengetahui itu,” ujar Donald Tusk yang telah memimpin pertemuan UE selama lima tahun terakhir dan menjadi suara yang berpengaruh dalam perpolitikan Eropa.

Intervensi keras Donald Tusk disampaikan di tengah-tengah kampanye Inggris yang akan menggelar pemilu pada 12 Desember 2019. Partai-partai Inggris masih terpecah belah terkait isu Brexit.

Donald Tusk mendesak orang-orang yang berusaha mempertahankan Inggris tetap berada di dalam blok tersebut agar tidak kehilangan harapan.

Beberapa pendukung Brexit beralasan bahwa meninggalkan UE, sebagai blok perdagangan terbesar dunia, akan memungkinkan Inggris menjalin hubungan ekonomi lebih dekat dengan seluruh negara di dunia.

Donald Tusk menambahkan, pendapat serupa juga didengarnya di India, Selandia Baru, Australia, Kanada, dan Afrika Selatan, bahwa setelah kepergiannya, Inggris akan menjadi orang luar, pemain kelas dua.

“Dunia tahu itu, setelah kepergiannya (dari UE), Inggris akan menjadi orang luar, pemain kelas dua, sementara medan perang utama akan diduduki oleh Tiongkok, AS, dan UE,” tandas Tusk.

Sementara itu, PM Inggris, Boris Johnson, sedang berjuang dalam kampanye untuk pemilu 12 Desember 2019. Dia ingin segera menyelesaikan Brexit setelah gagal dalam janjinya membawa keluar Inggris dari UE sesuai tenggat waktu 31 Oktober 2019. Tanggal keberangkatan Inggris dari UE saat ini diundur sampai 31 Januari 2020.

Partai oposisi, Buruh, berjanji untuk melakukan negosiasi ulang atas kesepakatan perpisahan dan menggelar referendum kedua. Di pihak lain, Demokrat Liberal berjanji membatalkan Brexit sama sekali.

Tusk, yang akan meninggalkan jabatannya pada akhir November 2019, tidak merahasiakan pertetangannya terhadap Brexit. “Pemilu Inggris masih satu bulan lagi. Apakah masih bisa ada yang berubah? Satu-satunya kata yang ada dalam pikiran saya hari ini sederhana, jangan putus asa. Dalam pertandingan ini, kita telah mempunyai tambahan waktu, sekarang dalam tambahan waktu ini, bahkan mungkin akan diberlakukan pinalti," ujar Donald Tusk sambil memberi perumpamaan permainan sepak bola.



Sumber: Suara Pembaruan