Yunani Akan Tutup Tiga Kamp Migran Terbesar

Yunani Akan Tutup Tiga Kamp Migran Terbesar
Pekerja bangunan mengerjakan proyek perluasan fasilitas perumahan di kamp pengungsi Ritsona, bagian utara Kota Athena, pada 22 Oktober 2019. Pada Kamis (21/11/2019), Yunani mengumumkan akan menutup tiga kamp pengungsi terbesar dan menggantinya dengan fasilitas perumahan. ( Foto: AFP / Louisa Gouliamaki )
Unggul Wirawan / JAI Jumat, 22 November 2019 | 15:47 WIB

Athena, Berisatu.com - Yunani akan menutup tiga kamp migran terbesar di pulau-pulau yang menghadap Turki, karena terlalu padat dan minim fasilitas. Para pejabat mengatakan kamp migran akan diganti dengan fasilitas tertutup baru dengan kapasitas yang jauh lebih besar.

“Pemulihan pulau-pulau adalah prioritas pada tahap ini,” kata koordinator khusus pemerintah untuk migrasi Alkiviadis Stefanis, mantan jenderal angkatan darat dan kepala staf, pada konferensi pers, di Athena, Yunani, Rabu (20/11/2019).

Menurut dia, tiga kamp yang akan ditutup, berada di pulau Lesbos, Chios, dan Samos. Saat ini, kamp tersebut menampung lebih dari 27.000 orang di bawah kondisi yang mengerikan yang telah berulang kali dikecam oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia dan Dewan Eropa. Kamp itu memiliki kapasitas nominal hanya 4.500.

Pemerintah Yunani menyatakan akan mengganti kamp dengan fasilitas tertutup baru untuk identifikasi, relokasi dan deportasi dengan kapasitas masing-masing setidaknya 5.000 orang.

“Kamp-kamp yang lebih kecil di pulau Kos dan Leros juga harus direnovasi sepanjang garis ini dan diperbesar,” kata Alkiviadis  Stefanis.

Alih-alih diizinkan untuk bergerak bebas masuk dan keluar dari kamp, pencari suaka sekarang akan dikurung sampai mereka diberikan status pengungsi dan dipindahkan ke daratan, atau mereka ditolak dan dikirim kembali ke Turki, kata para pejabat.

Pemerintah Yunani telah berjanji untuk memindahkan 20.000 pencari suaka ke kamp-kamp di daratan pada awal 2020. Pemerintah konservatif yang baru yang mulai berkuasa pada bulan Juli telah mengesahkan undang-undang yang memperketat persyaratan suaka bagi para migran. Pemerintah telah berjanji untuk mengerahkan patroli perbatasan tambahan.

Alkiviadis Stefanis juga mengatakan kriteria baru akan dikeluarkan untuk operasi kelompok-kelompok LSM membantu migran, banyak dari mereka telah melarikan diri dari perang di Suriah.

“Hanya mereka (LSM, red) yang memenuhi persyaratan yang akan tinggal dan terus beroperasi di negara ini,” kata Stefanis, yang juga wakil menteri pertahanan.

Pada Selasa (19/11/2019), Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis menuduh Uni Eropa memperlakukan negara-negara di perbatasan eksternal blok sebagai tempat yang nyaman untuk menempatkan para migran.

“Tidak bisa terus seperti ini. Eropa menganggap negara-negara kedatangan seperti Yunani sebagai tempat parkir yang nyaman bagi para pengungsi dan migran. Apakah itu solidaritas Eropa? Tidak! Saya tidak akan lagi menerima ini,” kata Kyriakos Mitsotakis kepada surat kabar Jerman Handelsblatt.

Organisasi Internasional untuk Migrasi bulan lalu mengatakan bahwa kamp-kamp daratan Yunani sudah hampir penuh atau melebihi kapasitasnya.



Sumber: Suara Pembaruan