Komunitas Asia di Prancis Jadi "Korban Psikologis" Virus Korona

Komunitas Asia di Prancis Jadi
Para penumpang di sebuah bandara memakai masker untuk mengindari penyebaran virus korona. ( Foto: ANTARA )
/ FMB Sabtu, 1 Februari 2020 | 12:29 WIB

Paris, Beritasatu.com - Di distrik tenggara Paris yang dikenal sebagai tempat tujuan untuk mereka yang menggemari kuliner Asia, bisnis di restoran Vietnam milik Pascal Corlier menurun akibat efek samping dari ketakutan virus korona asal Tiongkok yang telah memicu kepanikan, sekaligus memunculkan xenophobia (ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain, atau yang dianggap asing).

Beberapa pelanggan yang gelisah mulai bertanya kepada staf yang bertugas, apakah mereka orang Tiongkok, menurut Corlier, yang ayah mertuanya dari Vietnam mengelola dapur dan menyajikan hidangan tradisional seperti sup pho. Sementara tamu yang lain berusaha menjauh.

"Ada semacam hambatan psikologis yang tidak berdasar di sekitar komunitas Asia dan makanan Asia," kata pemilik restoran, menambahkan bahwa pendapatannya turun 40 persen untuk beberapa minggu pertama 2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Wabah virus yang dimulai di kota Wuhan di Tiongkok tengah telah menginfeksi lebih dari 9.800 orang - kebanyakan di Tiongkok- tetapi sekitar 130 kasus di 24 negara dan wilayah di luar daratan Tiongkok, termasuk enam kasus di Prancis. Wabah ini telah menewaskan 213 orang di Tiongkok dan memicu gelombang pembatasan perjalanan dan upaya lain untuk menghentikan penyebaran, baik di dalam Tiongkok sendiri maupun di luar negeri.

Seperti halnya warga negara Tiongkok, komunitas besar Asia di Prancis termasuk banyak orang keturunan Kamboja dan Laos, dan salah satu komunitsa terbesar Vietnam di luar negeri- peninggalan bekas kehadiran kolonial Prancis di Asia Tenggara.

Orang Asia di Perancis minggu ini membuat tagar Twitter #Jenesuispasunvirus ("Saya bukan virus") untuk melawan timbulnya sikap rasial. Insiden rasis, penghinaan dan cercaan telah dilaporkan dari taman bermain sekolah sampai ke supermarket, menurut Laetitia Chhiv, yang menjalankan asosiasi untuk orang-orang muda keturunan Tiongkok.

"Kami memiliki seorang siswa asal Tiongkok di Strasbourg yang diteriaki oleh seorang wanita yang mengatakan kepadanya untuk tidak menyentuh alpukat yang ingin ia beli," kata Chhiv. "Itu setelah dia bertanya kepadanya dari mana asalnya dan apakah dia terjangkit virus."

Kekhawatiran terhadap virus itu bergema di Paris dengan cara lain juga, dengan toko-toko kelas atas yang bergantung pada kelompok-kelompok wisata Tiongkok yang merugi ketika arus pengunjung berkurang. Di beberapa pengecer, staf mengatakan pelanggan Prancis juga menjauh, sebagian karena takut bergaul dengan klien dari Asia.

"Rasisme melawan orang Asia menyebar lebih cepat daripada virusnya," kata Sun-Lay Tan, yang bekerja di dunia seni. Ia adalah warga Prancis tapi keturunan Tiongkok dengan leluhur yang tinggal di Kamboja.

"Saya sedang duduk di metro dalam perjalanan ke tempat kerja dan orang di sebelah saya beringsut menjauh beberapa sentimeter dan menutup mulutnya dengan syal. Saya terkejut."

Corlier, pemilik restoran, yang istrinya berasal dari Vietnam, mengatakan bahkan anak-anaknya merasa stigma dan melihat orang-orang menutupi wajah mereka.

Seorang guru Tiongkok di sebuah sekolah menengah Paris yang prestisius menulis surat kepada orang tuanya minggu ini untuk menjelaskan bahwa dia tidak pernah bepergian ke Tiongkok selama bertahun-tahun, menurut email yang dilihat oleh Reuters.

"Orang-orang panik, jadi sulit untuk menahannya," kata Corlier. "Tapi mereka mengambil langkah mundur ... dan melihat begitu faktanya.



Sumber: Reuters, ANTARA