Semua Negara Kecuali Amerika Dukung WHO

Semua Negara Kecuali Amerika Dukung WHO
Sekjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan pidato penutupan dalam pertemuan virtual Majelis Kesehatan Dunia di markas WHO di Jenewa, Swiss, 19 Mei 2020. ( Foto: AFP )
Heru Andriyanto / HA Rabu, 20 Mei 2020 | 04:53 WIB

Beritasatu.com - Seluruh negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyetujui resolusi yang mendukung kineja badan dunia tersebut dan kepemimpinannya yang sekarang, kecuali Amerika Serikat yang justru melontarkan ancaman dan ultimatum.

Pada malam sebelum para menteri anggota WHO bertemu secara virtual, Selasa (19/5/2020), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirim surat kepada WHO berisi ultimatum agar dilakukan “reformasi yang substantif” dalam 30 hari, disertai ancaman bahwa kalau itu tidak dilakukan maka AS akan menghentikan iuran dan mempertimbangkan keluar dari WHO.

Trump bahkan memamerkan surat empat halaman itu di akun Twitter.

Surat tersebut ditujukan langsung kepada Sekretaris Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Namun, negara-negara anggota yang lain menyetujui resolusi dukungan pada WHO meskipun disebutkan juga perlunya evaluasi terhadap upaya lembaga itu dalam menangani dan mengkoordinasi masyarakat internasional melawan pandemik Covid-19.

Surat Trump menggarisbawahi tuduhan sebelumnya bahwa WHO sangat bergantung pada Tiongkok dan menerima begitu saja penjelasan Beijing soal asal mula virus corona.

Baca juga: Pandemik Corona, Benarkah WHO Gagal?

Surat itu menyebut bahwa WHO membuat kesalahan berulang sehingga ribuan orang menjadi korban dan kepentingan Amerika diabaikan. Trump mulai menyalahkan Tiongkok dan WHO ketika wabah Covid-19 mulai menggila di AS dan saat ini sudah menewaskan lebih dari 90.000 orang di sana ditambah sekitar 1,5 juta kasus infeksi.

“Jika WHO tidak melakukan perbaikan yang substantif dalam 30 hari ke depan, pembekuan sementara iuran ke WHO dari Amerika Serikat akan saya permanenkan dan saya akan pertimbangkan kembali keanggotaan kami,” tulis Trump.

Datangnya serangan itu dirancang berbarengan pada permulaan pertemuan dua hari Majelis Kesehatan Dunia.

Pada Selasa, para anggota setuju dibentuknya tim evaluasi yang independen dan imparsial oleh WHO terkait penanganan wabah Covid-19.

Tedros menyambut baik mosi tersebut.

Fitnah
Presiden Tiongkok Xi Jinping juga mendukung resolusi tersebut, yang tidak secara spesifik menyebut Tiongkok sebagai subjek investigasi seperti yang awalnya dituntut oleh AS dan Australia. Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengatakan isi resolusi itu jauh berbeda dari usulan “bermotif politik” yang didesakkan oleh Australia.

Sejumlah poin dalam surat Trump tidak akurat. Misalnya dia menyebut bahwa Taiwan sudah lebih dulu memperingatkan adanya penularan virus corona antar-manusia melalui surat ke WHO pada 31 Desember. Isi surat Taiwan pada dasarnya hanya meminta penjelasan lebih terperinci tentang kasus-kasus pneumonia misterius di Wuhan, Tiongkok.

Baca juga: Ini Jawaban Tiongkok Atas “24 Kebohongan Amerika”

Tiongkok menyebut surat Trump sebagai fitnah, sementara para pakar kesehatan mengatakan kritik Trump hanya bermakna jika WHO diberi kewenangan mengatur kebijakan masalah kesehatan di negara-negara anggota, hal yang pasti ditolak Trump untuk diterapkan di AS.

“Surat terbuka pemimpin AS itu berupaya menyesatkan publik dengan tujuan menyerang dan memfitnah upaya Tiongkok mencegah epidemik dan mengalihkan tanggung jawab dari ketidakmampuannya sendiri menangani epidemik ini,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian.

Kejar Profit
WHO sendiri belum menjawab surat itu, tetapi resolusi yang disahkan Selasa kemarin menegaskan kembali peran sentralnya dalam masalah kesehatan dunia.

Upaya AS lainnya untuk mengubah redaksional resolusi terkait akses universal terhadap vaksin virus corona juga ditentang oleh negara-negara di Afrika. AS menginginkan adanya insentif atas inovasi vaksin sehingga ada jaminan profit bagi perusahaan-perusahaan yang memproduksinya.

Jurnal medis terkemuka asal Inggris, The Lancet, juga menanggapi keras surat Trump, yang mengklaim bahwa pendapatnya didukung oleh artikel yang dimuat dalam jurnal tersebut.

“Statemen itu tidak benar. The Lancet tidak menerbitkan laporan pada Desember 2019, terkait wabah virus di Wuhan atau tempat lain di Tiongkok,” bunyi pernyataan mereka.

“Tuduhan-tuduhan atas WHO seperti tercantum dalam surat Presiden Trump merupakan hal serius dan bisa merusak upaya untuk memperkuat kerja sama internasional dalam mengendalikan pandemik ini.”

Editorial The Lancet dikenal cukup kritis terhadap Trump, terutama sejak dia mengancam menghentikan iuran AS ke WHO bulan lalu.

Baca juga: Emosional, Dirjen WHO Sindir Amerika

Di markas Uni Eropa di Brussels juga muncul seruan agar semua negara mendukung WHO.

“Sekarang waktunya bagi solidaritas,” kata juru bicara Komisi Eropa Virginie Battu-Henriksson.

“Sekarang bukan waktunya untuk saling menyalahkan atau meremehkan kerja sama multilateral.”

Tahun lalu, AS menyumbang US$ 400 juta kepada WHO, setara 15 persen anggaran badan dunia tersebut. Sistem pendanaan di WHO tampaknya juga perlu direformasi karena ketergantungan yang sangat besar pada segelintir donatur seperti Gates Foundation.

AS tidak menentang resolusi tersebut, tetapi memberi catatan tambahan bahwa mereka tidak terlibat dalam salah satu pasal yang menetapkan akses setara untuk hak cipta obat virus corona termasuk vaksin.

Trump juga pantang menyerah dan mengatakan: “[WHO] harus lebih adil kepada negara-negara lain termasuk Amerika Serikat, atau kami tidak akan terlibat dengan mereka dan berjalan sendiri.”



Sumber: Guardian, BBC