Infeksi Melonjak, Covid-19 Bunuh Lebih 500.000 Orang di Dunia

Infeksi Melonjak, Covid-19 Bunuh Lebih 500.000 Orang di Dunia
Petugas medis dengan baju pelindung memindahkan jenazah ke truk pendingin yang berfungsi sebagai ruang penyimpanan jenazah sementara di Rumah Sakit Pusat Brooklyn, New York City, pada 9 April 2020. (Foto: AFP)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Senin, 29 Juni 2020 | 05:36 WIB

Jenewa, Beritasatu.com - Virus corona (Covid-19) telah menewaskan lebih 500.000 orang di seluruh dunia menyusul infeksi yang dikonfirmasi melampaui 10 juta, menurut data Universitas Johns Hopkins.

Dilansir CNBC Senin (29/6/2020), Amerika Serikat (AS) menyumbang lebih 20 persen dari total kematian yang dilaporkan akibat Covid-19, atau paling banyak di dunia. Diikuti Brasil, Inggris, Italia, dan Prancis. Namun perbandingan angka kematian masing-masing negara sulit dilakukan karena perbedaan metode pelaporan.

Awal bulan ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan pandemi ini meningkat di tingkat global. WHO menyebut wabah telah memasuki "fase baru dan berbahaya."

“Banyak orang yang merasa bosan tinggal di rumah. Dapat dipahami bahwa negara-negara sangat ingin membuka ekonomi dan aktivitas masyarakatnya. Tapi virus masih cepat menyebar. Masih mematikan, dan kebanyakan orang masih rentan,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada 19 Juni.

Baca juga: Kasus Covid-19 di Dunia Lampaui 10 Juta, di AS 45.000 Orang Terinfeksi Sehari

Menurut data yang dikumpulkan oleh WHO, pada 8 Juni korban jiwa akibat Covid-19 melampaui 400.000. Padahal pada 16 Mei korban tewas akibat virus ini sekitar 300.000

Hingga kini, Administrasi Makanan dan Obat Amerika Serikat (Food and Drug Administration/FDA) belum menyetujui obat mujarab untuk menyembuhkan Covid-19. Namun para peneliti telah menemukan sejumlah kemajuan guna mempercepat pemulihan pasien Covid-19 yakni penggunaan remdesivir yang diproduksi Gilead.

Baca juga: Kasus Covid-19 di Dunia Dekati 10 Juta, WHO: Di Amerika Belum Puncak

Awal bulan ini, para peneliti menemukan bahwa obat deksametason, steroid murah dan tersedia luas, dapat mengurangi risiko kematian sepertiga pada pasien Covid-19 yang menggunakan ventilator, dan seperlima bagi mereka yang menggunakan oksigen tambahan.

Menurut WHO, ada 16 kandidat vaksin yang saat ini dalam uji klinis. Kepala ilmuwan WHO Dr. Soumya Swaminathan pada briefing virtual Jumat mengatakan bahwa vaksin potensial tengah dikembangkan AstraZeneca dengan para peneliti dari Universitas Oxford, Inggris. Selain itu, calon perusahaan biotek AS, Moderna juga tengah mengembangkan vaksin potensial.

WHO pada Jumat juga meminta US$ 27,9 miliar pendanaan tambahan selama 12 bulan ke depan menuju ACT Accelerator, kemitraan publik-swasta yang mencakup alat riset WHO guna memerangi Covid-19. Pendanaan itu kata WHO, akan membantu mempercepat pengembangan obat dan vaksin, mencegah infeksi lebih lanjut, kematian dan gangguan ekonomi.

Direktur Eksekutif Program Kedaruratan WHO, Mike Ryan pekan lalu mengatakan virus ini masih menyebar dengan cepat di banyak negara benua Amerika. "Sayangnya, pandemi bagi banyak negara di Amerika belum memuncak," katanya.



Sumber: CNBC