Ledakan Lebanon, Otoritas Sudah Berikan Peringatan Sejak 6 Tahun Lalu
INDEX

BISNIS-27 434.406 (-0.23)   |   COMPOSITE 4934.09 (-16.14)   |   DBX 924.804 (3.39)   |   I-GRADE 130.838 (-0.55)   |   IDX30 413.425 (-1.26)   |   IDX80 108.094 (-0.37)   |   IDXBUMN20 272.657 (-3.39)   |   IDXG30 115.379 (0.39)   |   IDXHIDIV20 370.721 (-2.24)   |   IDXQ30 120.916 (-0.16)   |   IDXSMC-COM 211.116 (-0.82)   |   IDXSMC-LIQ 236.814 (-0.83)   |   IDXV30 102.468 (-0.58)   |   INFOBANK15 776.883 (-3.28)   |   Investor33 360.093 (-0.17)   |   ISSI 144.765 (-0.24)   |   JII 523.909 (0.36)   |   JII70 177.568 (-0.12)   |   KOMPAS100 966.07 (-3.19)   |   LQ45 756.376 (-2.2)   |   MBX 1366.8 (-5.86)   |   MNC36 270.277 (-1.09)   |   PEFINDO25 258.891 (-1.93)   |   SMInfra18 233.321 (-1.32)   |   SRI-KEHATI 303.606 (-0.74)   |  

Ledakan Lebanon, Otoritas Sudah Berikan Peringatan Sejak 6 Tahun Lalu

Sabtu, 8 Agustus 2020 | 11:54 WIB
Oleh : Faisal Maliki Baskoro / FMB

Beirut, Beritasatu.com - Otoritas Lebanon -mulai dari bea cukai, militer, dinas keselamatan, hingga kehakiman- sudah mengetahui sejak lama akan potensi ledakan hebat yang terjadi pada 4 Agustus lalu. Dalam enam tahun terakhir, otoritas-otoritas tersebut telah memberikan peringatan akan bahaya ledakan dari amonium nitrat yang tersimpan dalam gudang penyimpanan tanpa pengamanan yang memadai di Pelabuhan Beirut.

Namun, peringatan-peringatan tersebut diabaikan hingga yang dikhawatirkan akhirnya terjadi, ledakan hebat dari 2.750 ton amonium nitrat meluluhlantakkan pelabuhan dan pusat kota Beirut, menewaskan sedikitnya 154 jiwa dan melukai 5.000 orang lainnya. Kerusakan diperkirakan mencapai miliaran dolar dan akan sulit memperbaiki semua itu mengingat Lebanon masih terjebak krisis keuangan.

Presiden Michel Aoun, yang menjabat sejak 2016, mengatakan pada hari Jumat bahwa tiga minggu yang lalu dia mendapatkan laporan mengenai timbunan berbahaya tersebut dan telah memerintahkan militer dan dinas keselamatan untuk "mengambil langkah yang diperlukan". Dia mengatakan tanggung jawabnya berakhir di situ dan dia tidak memiliki wewenang atas Pelabuhan Beirut. Pemerintahan sebelumnya juga sudah mengetahui keberadaan zat berbahaya tersebut.

Pelabuhan Beirut terkenal akan korupsinya sehingga diberi nama Gua Ali Baba. Sebanyak 16 pegawai pelabuhan sudah ditahan terkait ledakan tersebut, termasuk kepala pelabuhan Hassan Koraytem, kepada bea cukai Badri Daher dan kepala bea cukai sebelum Daher.

Baca juga:Israel dan Hezbollah Bantah Keterlibatan

Aoun mengatakan bahwa zat berbahaya itu sudah ada di Pelabuhan Beirut sejak 2013. Dia menduga ledakan akibat kelalaian, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya unsur sabotase. Dia telah meminta Prancis untuk memberikan gambar satelit sebelum ledakan untuk tanda-tanda serangan bom atau rudal.

Amonium nitrat (bahan pupuk yang juga bisa digunakan sebagai peledak) yang meledak berasal dari kapal kargo MV Rhosus yang berlayar dari Georgia ke Mozambik pada 2013. Kapal itu pindah jalur ke Beirut karena pemiliknya dari Rusia mengalami kesulitan uang dan berharap bisa mendapatkan tambahan uang di Lebanon. Karena tidak mampu membayar biaya kepelabuhanan dan bocor, kapal tersebut akhirnya disita.

Baca juga:Ledakan di Beirut Berasal dari Amonium Nitrat, Apa Itu?

Pada 21 Februari 2014, tiga bulan setelah kapal bersandar, Kol. Joseph Skaff, seorang pejabat senior bea cukai, membuat laporan kepada departemen antipenyelundupan bea cukai Lebanon bahwa "material yang dibawa kapal MV Rhosus sangat berbahaya bagi keamanan publik".

Skaff meninggal pada tahun 2017 dengan sejumlah tanda tanya. Dia ditemukan tewas jatuh dari ketinggian di rumahnya di Birut. Laporan menyatakan kecelakaan tetapi ada dugaan kesengajaan karena adanya luka memar di wajahnya.

Pada 27 Juni 2014, seorang hakim urusan darurat bernama Jad Maalouf menulis surat kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Transportasi bahwa kapal itu membawa zat berbahaya dan bisa tenggelam. Dia merekomendasikan amonium nitrat dipindahkan ke tempat yang aman dan di bawah pengawasan.

Ribuan ton amonium nitrat itu pun dipindahkan ke Gudang 12, hingga akhirnya meledak. Namun, belum jelas apakah Kementerian PU dan Transportasi masih bertanggung jawab atas pengawasan material tersebut.

Stasiun TV LBC melaporkan pada Oktober 2015 bahwa militer mengintervensi pengiriman material tersebut. Ahli dari militer menemukan kandungan nitrogen material itu sebesar 34,7 persen atau berdaya ledak tinggi. Militer menyarankan bea cukai untuk segera memindahkan atau mengekspor material itu. Namun, bea cukai mengacu kembali pada rekomendasi hakim Jad Maalouf.

Sebelum ditahan, mantan kepala pelabuhan Badri Daher mengatakan bahwa antara tahun 2014 dan 2017, dia dan kepala sebelumnya telah mengirimkan enam surat ke kehakiman urusan darurat bahwa timbunan itu berbahaya dan harus disingkirkan atau dijual. Tetapi, Daher tidak pernah mendapatkan jawaban.

Awal tahun ini, State Security Lebanon mengeluarkan laporan bahwa material itu harus disingkirkan karena berpotensi meledak atau dicuri teroris. State Security juga melaporkan pengawasan Gudang 12 sangat buruk.

Baca juga:Puluhan Warga Beirut Gelar Protes Anti-Pemerintah

Selama periode ini, penyimpanan material berbahaya tersebut diabaikan empat perdana menteri, termasuk yang sekarang menjabat Hassan Diab.

Puluhan demonstran yang marah atas ledakan dahsyat di Beirut, menggelar aksi protes anti-pemerintah di dekat gedung parlemen, Kamis (6/8/2020).Banyak warga di Lebanon mengatakan korupsi, pengabaian, dan salah kelola dari pemerintah yang menyebabkan ledakan tersebut.



Sumber:CNBC.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Puluhan Warga Beirut Gelar Protes Anti-Pemerintah

Banyak warga di Lebanon mengatakan korupsi, pengabaian, dan salah kelola dari pemerintah yang menyebabkan ledakan tersebut.

DUNIA | 8 Agustus 2020

Hong Kong Akan Beri Vaksin Gratis ke Seluruh Warga

Lam mengatakan, pada akhir Juli lalu, ia telah meminta Beijing untuk meningkatkan kemampuan tes Covid-19 dan fasilitasnya.

DUNIA | 8 Agustus 2020

Brasil Anggarkan US$ 360 Juta untuk Vaksin AstraZeneca

Dia menyebut vaksin itu "paling menjanjikan di dunia" untuk melawan virus.

DUNIA | 8 Agustus 2020

Mantan Menkeu Malaysia Didakwa Kasus Dugaan Suap

Diduga menerima suap dari proyek terowongan bawah laut Penang senilai 6,3 miliar ringgit atau sekitar Rp 22 triliun.

DUNIA | 8 Agustus 2020

Pelaku Bunuh Diri di Singapura Kebanyakan Usia 20 Tahunan

Menurut SOS, ada 400 kasus bunuh diri yang dilaporkan pada tahun 2019, dibandingkan dengan 397 kasus pada tahun sebelumnya.

DUNIA | 8 Agustus 2020

Kasus Covid-19 di India Tembus 2 Juta

Banyak ahli mengatakan, angka sebenarnya disinyalir jauh lebih tinggi di antara penduduk yang jumlahnya 1,3 miliar orang.

DUNIA | 8 Agustus 2020

TikTok Ancam Tindakan Hukum atas Perintah Eksekutif Trump

Trump memberikan tenggat waktu 45 hari yaitu sampai 15 September kepada induk perusahaan kedua aplikasi itu, ByteDance dan Tencent.

DUNIA | 8 Agustus 2020

Pakar Epidemiologi AS Diancam

Dia bersama keluarganya telah meminta pengamanan berkelanjutan karena pelecehan dan ancaman kematian dari orang-orang yang marah.

DUNIA | 8 Agustus 2020

Semakin Banyak Negara Eropa Terapkan Pembatasan

“Situasinya sangat rumit. Apakah kita bisa mengharapkan gelombang lebih kecil atau lebih besar tergantung bagaimana kita merespons."

DUNIA | 8 Agustus 2020

Ratusan Anak Perempuan dan Wanita Hilang di Peru

Pekan lalu, Kementerian Wanita Peru menyatakan 1.200 wanita dan gadis dilaporkan hilang selama pandemi.

DUNIA | 8 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS