Ini Ucapan Macron yang Diduga Menyinggung Umat Islam
INDEX

BISNIS-27 510.733 (-0.52)   |   COMPOSITE 5813.99 (18.69)   |   DBX 1076.27 (8.97)   |   I-GRADE 169.305 (0.31)   |   IDX30 499.8 (0.09)   |   IDX80 132.38 (0.12)   |   IDXBUMN20 374.254 (2.84)   |   IDXG30 135.455 (0.06)   |   IDXHIDIV20 450.5 (0.04)   |   IDXQ30 146.053 (-0.28)   |   IDXSMC-COM 250.881 (1.71)   |   IDXSMC-LIQ 309.077 (2.51)   |   IDXV30 131.098 (1.14)   |   INFOBANK15 988.482 (2.06)   |   Investor33 429.242 (0.12)   |   ISSI 170.543 (0.24)   |   JII 620.021 (-0.2)   |   JII70 214.017 (0.22)   |   KOMPAS100 1185.8 (3.09)   |   LQ45 922.358 (0.62)   |   MBX 1613.53 (3.66)   |   MNC36 321.576 (0.25)   |   PEFINDO25 321.335 (-2.23)   |   SMInfra18 295.407 (1.73)   |   SRI-KEHATI 367.139 (0.47)   |  

Ini Ucapan Macron yang Diduga Menyinggung Umat Islam

Sabtu, 31 Oktober 2020 | 10:33 WIB
Oleh : Faisal Maliki Baskoro / FMB

Paris, Beritasatu.com - Kemarahan umat Muslim terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron berasal dari pidato yang dia sampaikan awal bulan ini, sebelum insiden pemenggalan kepala seorang guru bernama Samuel Paty di pinggiran Kota Paris pada 16 Oktober lalu.

Ucapan Macron menimbulkan gerakan boikot produk Prancis dan menimbulkan gelombang protes dari Turki, Pakistan, Suriah, hingga Palestina.

Pada 2 Oktober, di sebuah kota di barat laut Paris -sekitar 20 km dari tempat dibunuhnya Paty karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelasnya- Macron menjabarkan rencana mengatasi separatisme, dengan Islam sebagai fokusnya. Paty, meninggal dengan kepala terpenggal pada 16 Oktober 2020 karena dibunuh oleh seorang ekstremis Chechnya.

Peristiwa itu menimbulkan syok mendalam di Prancis. Terkait kasus itu, Macron menyampaikan pembelaan penuh semangat atas kebebasan berbicara dan nilai-nilai sekuler di negaranya. Dia juga bersumpah Prancis tidak akan melarang kartun Nabi Muhammad.

"Hari ini, Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia," kata Macron, sambil menyontohkan ketegangan antara fundamentalisme, politisi, dan proyek keagamaan yang baik.

Macron menambahkan, "ada desakan akan Islam yang bebas dari pengaruh asing di Prancis". Dalam rencana mengatasi separatismenya, Macron menjabarkan rencana untuk menghentikan Imam belajar di luar negeri, mengurangi sekolah di rumah, dan mengambil alih pendanaan keagamaan. Asosiasi juga harus menandatangani kontrak menghormati nilai-nilai Republik Prancis supaya bisa mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Di sisi lain, Pemerintah Prancis juga memperbaiki layanan pendidikan, kebudayaan dan olahraga. Semua ini tergabung dalam RUU soal sekularisme dan kebebasan yang direncanakan disahkan Desember.

"Ada desakan membangun Islam des Lumieres (Islam Pencerahan)," kata Presiden Macron.

Macron menegaskan bahwa prinsip sekularisme Prancis berarti kebebasan beribadah dijamin oleh negara. Tetapi ideologi "separatisme Islam" menciptakan "tatanan paralel" dalam Republik Prancis, di mana hukum Islam dianggap lebih superior.

Macron juga mengakui bahwa Pemerintahannya gagal menyejahterakan komunitas imigran dan justru menciptakan "separatisme" di mana komunitas imigran menjadi kelompok tersendiri yang hidup di lingkungan kumuh penuh kesulitan dan kesengsaraan. Dia mengatakan kegagalan pemerintah, terutama di distrik-distrik kumuh, menjadi tempat berkembangnya gerakan radikal.

Pascapembunuhan Paty, Macron membela kebebasan berpendapat dan berjanji tidak akan melarang karikatur dan gambar yang mungkin menyinggung umat Islam. Namun, di sisi lain dia meminta semua pihak untuk tidak menyebar kebencian dan saling menghormati sesama.

Menyusul pembunuhan Paty, Prancis meningkatkan perang melawan terorisme. "Warga menunggu pemerintah bertindak. Puluhan operasi dilancarkan untuk melawan asosiasi dan individu pendukung Islam radikal, atau dengan kata lain, ideologi yang ingin menghancurkan Republik (Prancis)".



Sumber:Euronews.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Republikan Perkirakan Stimulus Fiskal Tercapai Awal Tahun Depan

Republikan dan Demokrat hingga kini belum mencapai kesepakatan seberapa besar stimulus yang perlu digelontorkan.

DUNIA | 31 Oktober 2020

Pandemi Covid-19 Pengaruhi Kesehatan Mental Pemuda Australia

Pandemi Covid-19 telah berdampak buruk kepada kesehatan mental dari 75% pemuda Australia berusia 18-24 tahun.

DUNIA | 30 Oktober 2020

BMKG: Gempa dan Tsunami Yunani Tidak Berdampak ke Indonesia

BMKG menyebutkan bahwa tsunami yang ditimbulkan akibat gempa magnitudo (M) 7,1 di Yunani tidak berdampak ke Indonesia.

DUNIA | 30 Oktober 2020

Kemlu: Tidak Ada Korban WNI dalam Serangan Gereja di Prancis

Serangan teror yang berpusat di Gereja Notre-Dame Basilika telah menyebabkan tiga orang meninggal dunia.

DUNIA | 30 Oktober 2020

Biden dan Trump Bentrok di Florida

"Semua orang tahu siapa Donald Trump. Kita harus tunjukkan ke dia siapa kita."

DUNIA | 30 Oktober 2020

Dubes RI di Tiongkok: Sarang Burung Walet Indonesia Menjanjikan

Saat ini Indonesia memproduksi 40% sarang burung walet dunia.

DUNIA | 30 Oktober 2020

Moderna Persiapkan Peluncuran Global Vaksin Covid-19

Perusahaan sudah mengantongi pemesanan senilai US$ 1,1 miliar dari sejumlah negara.

DUNIA | 30 Oktober 2020

Trump Klaim Pimpin Hasil Jajak Pendapat

Presiden AS sekaligus kandidat petahana Republik, Donald Trump, mengklaim keunggulan dalam hasil jajak pendapat di beberapa negara bagian

DUNIA | 30 Oktober 2020

Gabung Lansia, Aung San Suu Kyi Beri Hak Suara di Pemilu Myanmar

Pemimpin sipil Myanmar Aung San Suu Kyi memberikan hak suara pada Kamis (29/10) menjelang Hari Pemilu minggu depan.

DUNIA | 30 Oktober 2020

Topan Molave dan Tanah Longsor di Vietnam Akibatkan 35 Orang Tewas dan 59 Hilang

Topan Molave ​​memicu tanah longsor yang menewaskan sedikitnya 35 orang dan menyebabkan 59 orang hilang di Vietnam tengah

DUNIA | 30 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS