Hadapi MEA, BUMN Didorong Bentuk "Holding Company"
INDEX

BISNIS-27 450.793 (-2.26)   |   COMPOSITE 5144.05 (-15.82)   |   DBX 982.653 (2.46)   |   I-GRADE 141.194 (-0.62)   |   IDX30 430.883 (-2.17)   |   IDX80 114.327 (-0.59)   |   IDXBUMN20 295.098 (-2.05)   |   IDXG30 119.385 (-0.73)   |   IDXHIDIV20 382.257 (-1.97)   |   IDXQ30 125.574 (-0.78)   |   IDXSMC-COM 221.901 (-0.43)   |   IDXSMC-LIQ 259.068 (-1.66)   |   IDXV30 107.621 (-1.14)   |   INFOBANK15 842.759 (-2.22)   |   Investor33 376.322 (-1.83)   |   ISSI 151.265 (-0.8)   |   JII 550.5 (-4.84)   |   JII70 187.95 (-1.54)   |   KOMPAS100 1026.39 (-5.14)   |   LQ45 794.213 (-3.71)   |   MBX 1420.94 (-5.57)   |   MNC36 281.737 (-1.36)   |   PEFINDO25 284.937 (-1.16)   |   SMInfra18 242.709 (-2.12)   |   SRI-KEHATI 318.969 (-1.57)   |  

Hadapi MEA, BUMN Didorong Bentuk "Holding Company"

Rabu, 22 April 2015 | 03:11 WIB
Oleh : Mohamad Rahmalio / FMB

Jakarta - Guru Besar Manajemen Bisnis Internasional Binus University Prof. Tirta Nugraha Mursitama memaparkan idenya bahwa pemerintah harus mendukung perusahaan multinasional maupun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk bisa bersaing sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Perdebatan klasik ekonomi internasional itu dipengaruhi dari peran negara dan pasar. Negara tidak bisa berdiri sendiri, swasta juga tidak bisa. Akhirnya, bisa timbul krisis. Saya menawarkan negara menggandeng pasar. Perusahaan multinasional dan UMKM harus di-backup, seperti di Jepang. Turunannya adalah pengaturan kelembanggan, yakni koordinasi," kata Tirta kepada Beritasatu.com di Binus University , Jakarta, Selasa (21/4).

Tirta juga memaparkan idenya dalam satu bentuk diplomasi. Menurutnya, negara harus memberikan dukungan penuh perihal investasi yang dilakukan asing ke Indonesia dan sebaliknya. Saling memberikan kenyamanan sehingga adanya keeratan hubungan antara pemerintah negara asal dengan pemerintah dari negara yang menerima (host country).

"Misal Indonesia menandatangi pesawat Boeing. Ketika perusahaan Lion Air pada waktu itu membeli ratusan pesawat dari Amerika Serikat. Presiden Obama menghadiri penandatangan bisnis itu. Secara simbolik, kita lihat bahwa pemerintah Amerika Serikat itu mendukung perusahaannya yang melakukan hubungan bisnis dengan perusahaan lain dan disitu ada pemerintah indonesia, ini diplomasi bisnis yang komersil," tambahnya.

BUMN Jadi Holding Company
Tirta juga mengungkapkan hal lain yang terpenting dalam pengembangan ekonomi menuju industri maju, yakni dengan adanya Sovereign Wealth Fund (SWF) yang terbukti efektif untuk dalam peningkatan ekonomi di negara seperti di Singapura.

"Singapura bisa maju sampai sekarang karena adanya holding company yang besar tetapi dimiliki oleh negara, yaitu SWF. Jadi, nanti, pengelolaan aset negara sangat terkoordinasi. Hulu tetap pemerintah, hilirnya bisa swasta atau anak perusahaan yang dikelola, tapi orangnya harus profesional," paparnya.

Menurutnya, Indonesia bisa mendapatkan dua keuntungan, yakni dikelola oleh profesional. Kedua, strategi dan dukungan ada dari pemerintah.

"Usaha itu butuh capital dan orang-orang pintar. Orang yang menjalankan punya gagasan, dia eksekusi, kemudian dana sisa minta pemerintah," jelasnya.

Tirta menambahkan bahwa Indonesia harus bisa mengambil pelajaran dari Tiongkok yang semakin terbuka. Contohnya dengan adanya Sinopec yang sempat tercatat menjadi holding company terbesar ketiga di dunia versi Forbes 2014.

"Kini Tiongkok tak hanya kuat di Asia, di Afrika juga semakin luar biasa. Kita harus contoh. Kita juga punya BUMN, yaitu Pertamina. Itu sangat besar. Saya juga menyusulkan BUMN menjadi holding yang kuat. Indonesia punya seperti Sinopec atau Temasek di Singapura. Selain itu, saya juga mengusulkan, BUMN perlu diklasifikasi kembali," tutur Tirta.

"Dua hal itu akan membawa kita koordinasi dengan negara yang hadir. Tidak cukup hanya di HI dan bisnis saja, tetapi di politik juga harus bersinergi," jawabnya.

Menurutnya, jika diplomasi bisnis menjadi satu ikon, hal tersebut harus menurun ke institusinya, salah satunya membuat payung kementerian.

"Saya menawarkan, satu dari sisi koordinasi politik luar negeri, saya ingin menawarkan badan khusus yang menangani koordinasi kebijakan luar negeri Indonesia. Ini tidak baru, konkritnya, seperti penggabungan kementerian. Kementrian luar negeri, perdagangan dan perindustrian. Itu mungkin dalam satu payung besar. Itu ide dari industri baru negara maju. Jepang menggunakan itu. Malaysia menggunakan itu dan Australia juga," tuturnya kepada Beritasatu.com.

Ia menuturkan, turunannya adalah pengaturan kelembagaan misalnya, koordinasi, perlu ada lembaga khusus yang meemiliki kekuatan penuh mungkin dibawah presiden mengkoordinasikan pemerintahan utama.

"Perlu ada koordinasi, lembaga yang mengatur koordinasi itu. Saya membayangkan selama ini koordinasi kan sendiri-sendiri, karena koordinasi itu sulit maka yang selama ini terjadi adalah Kemenlu hanya mengurusi aspek politik tapi tidak menguasai teknis, misal tentang pertanian. Jadi, kementrian perdagangan dan industri nasonal, tidak dihilangkan tapi tetap dimasukkan. Menlu tetap satu, tapi nanti ada wakil Menlu bidang ekonomi, perdagangan, pertanian kan bisa begitu. Sehingga koordinasi gampang. ada ego sektoral. tapi itu noise, bisa diatasi," tutupnya.


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

MasterCard Indonesia Adakan Program "Purchase with Purpose"

Program Purchase with Purpose ini merupakan program yang sangat unik karena melalui aktivitas berbelanja bisa langsung beramal.

EKONOMI | 22 April 2015

Kadin: Perdagangan Indonesia-Afrika Bisa Capai 20 Miliar USD

"Dalam tiga tahun ke depan nilai perdagangan Indonesia ke Afrika bisa melonjak hingga 80 persen."

EKONOMI | 21 April 2015

Sistem Distribusi Minuman Beralkohol Bakal Diatur

Sistem distribusi ini dilakukan untuk melindungi anak di bawah usia mengonsumsi alkohol.

EKONOMI | 21 April 2015

Rano Karno Sambut Baik Pembangunan PLTU Jawa 7

PLTU akan meningkatkan keandalan pasokan listrik bagi daerah Jawa bagian Barat dan Jakarta.

EKONOMI | 21 April 2015

PLTU Jawa 7 Serap Tenaga Kerja Lokal

PJB akan menyiapkan program bagi lulusan sekolah menengah kejuruan teknik.

EKONOMI | 21 April 2015

OJK Akan Terbitkan Aturan Penempatan Pusat Data Bank Umum

Aturan tersebut memberikan pengecualian dimana bank dapat menempatkan pusat datanya di luar negeri atas persetujuan OJK dengan memenuhi persyaratan tertentu.

EKONOMI | 21 April 2015

India Lirik ASEAN Jadi Mitra Bisnis

"Ini keindahan dari integrasi. Kita menyatukan masing-masing kelebihan untuk mendapatkan keuntungan," ujar Purisima.

EKONOMI | 21 April 2015

Perkuat Agrikultur di ASEAN, Program Grow Asia Diluncurkan

Pemerintah Australia dan Kanada akan memberi dukungan keuangan dengan total US$ 9,5 juta selama tiga tahun untuk mendukung program Grow Asia.

EKONOMI | 21 April 2015

Lebaran 2015, PT KAI Bidik Pendapatan Rp 400 M

Perseroan juga menambah target jumlah penumpang tahun ini menjadi 5,9 juta penumpang.

EKONOMI | 21 April 2015

PLTU Jawa 7 Serap 20 Ribu Ton Batu Bara Per Hari

PLTU Jawa 7 memiliki 2 mesin pembangkit dengan kapasitas masing-masing 1.000 MW.

EKONOMI | 21 April 2015


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS