Mochtar Riady: Jangan Minder, RI Pasti Bisa Adopsi Revolusi Industri 4.0
INDEX

BISNIS-27 506.098 (-2.99)   |   COMPOSITE 5701.03 (-21.78)   |   DBX 1035.29 (4.23)   |   I-GRADE 166.318 (-0.13)   |   IDX30 494.279 (-1.96)   |   IDX80 129.716 (-0.63)   |   IDXBUMN20 362.653 (1.11)   |   IDXG30 134.441 (-1.2)   |   IDXHIDIV20 440.988 (-0.91)   |   IDXQ30 143.821 (-0.06)   |   IDXSMC-COM 242.747 (-0.62)   |   IDXSMC-LIQ 296.284 (-2.64)   |   IDXV30 122.829 (0.78)   |   INFOBANK15 978.195 (1.48)   |   Investor33 426.909 (-3.32)   |   ISSI 166.986 (-1.24)   |   JII 611.564 (-6.71)   |   JII70 209.726 (-1.98)   |   KOMPAS100 1161.89 (-6.87)   |   LQ45 907.882 (-4.42)   |   MBX 1586.58 (-7.86)   |   MNC36 318.65 (-2.24)   |   PEFINDO25 310.515 (-0.4)   |   SMInfra18 285.156 (1.39)   |   SRI-KEHATI 364.469 (-1.96)   |  

Mochtar Riady: Jangan Minder, RI Pasti Bisa Adopsi Revolusi Industri 4.0

Selasa, 14 Juli 2020 | 12:44 WIB
Oleh : Lona Olavia / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia diyakini bisa mengadopsi revolusi industri 4.0 atau pergeseran industri ke arah otomatisasi dan digitalisasi. Syaratnya mudah, yakni mau memulai dari hal yang sederhana, lalu ke yang rumit, seperti hukum alam yang berlaku.

Begitu pun dengan masyarakatnya. Jika ingin memulai usaha, jangan terlalu takut mencoba, seperti halnya pendiri Microsoft Bill Gates, pendiri Apple Steve Jobs, dan pendiri Alibaba Jack Ma, yang berhasil mendirikan perusahaan raksasa bermodal dari garasi rumah atau hal yang kecil. Negara sekelas Tiongkok yang kini menjadi maju karena adanya kemauan untuk membuka diri terhadap perubahan yang ada.

"Kalau Tiongkok bisa kenapa kita tidak bisa? Jangan kecil hati. Kita jangan minder dan berpikir Indonesia negara kecil, lemah. Tidak, kita sama-sama pintar, yang penting berani, sadar (atau) tidak sadar, hanya itu. Lalu, jika prinsip dari kecil menjadi besar diterapkan, kita tidak perlu minder. Manusia kan begitu lahir bayi dimulai dari minum susu, bubur, nasi, baru nasi goreng. Jadi, saran saya mulai dari kecil," ungkap founder Grup Lippo, Mochtar Riady dalam diskusi dengan jajaran BeritaSatu Media Holdings (BSMH) terkait industri 4.0 secara virtual, Selasa (14/7/2020).

Tiongkok, lanjutnya, menjelma menjadi kekuatan ekonomi dunia bukan dengan kerja keras dalam tempo semalam, melainkan memakan waktu 30 tahun. Di era pemimpin Deng Xiaoping tahun 1970-an, Tiongkok mulai membangun perekonomiannya dari yang tertutup dan tidak mengikuti Revolusi Industri 1.0 dan 2.0, menjadi terbuka dengan perubahan, termasuk dalam hal pendidikan.

Pada 1987, Tiongkok mengirim 600.000 pelajar untuk menuntut ilmu ke Barat. Setidaknya ada 18 juta pelajar Tiongkok menuntut ilmu ke luar negeri selama puluhan tahun. Tiongkok juga mengundang para profesor dunia untuk mengajar di Negeri Tembok Raksasa tersebut. Sekitar 7 juta mahasiswa lulus setiap tahun dan dari jumlah itu sebanyak 60% berasal dari bidang engineering, sehingga ada 140 juta insinyur di Tiongkok.

Lalu, perubahan teknologi juga dimulai dari kota nelayan kecil, yakni Shenzhen, disusul dengan kota-kota lainnya. Alhasil, dengan SDM dan teknologi yang kuat, kini Tiongkok menguasai supply chain atau rantai distribusi global di tengah perkembangan Revolusi Industri 4.0.

"Barang siapa yang tidak ikuti Revolusi Industri, ia akan ketinggalan dan di situ ia akan susah, baik itu negara maupun perusahaan. Kalau ia mengerti Revolusi Industri dan siap diri untuk mengikuti, di situlah ia akan jaya. Tiongkok yang dari serbamiskin dengan PDB per kapita US$ 200, kini jadi serbamakmur dengan PDB per kapita US$ 11.000," ucap pria berusia 91 tahun ini.

Revolusi Industri 4.0 yang memanfaatkan delapan teknologi dalam berbagai proses bisnis, kata Mochtar, menjadi penting karena bisa mendorong efektivitas dan efisiensi, sehingga bisa bersaing dengan perusahaan, maupun negara lain, apalagi di tengah pandemi Covid-19. Kedelapan teknologi yang dimaksud adalah penggunaan artificial intelligence (AI), new material, new energy, quantum computer, quantum telecommunication , genetic engineering, tenaga nuklir, dan blockchain. Ini berbeda dengan Revolusi Industri sebelumnya yang hanya menggunakan teknologi tunggal.

Dampak Pandemi Covid-19
Lebih lanjut, Mochtar berujar pandemi Covid-19 pada awal tahun ini, secara tak sadar telah memaksa banyak orang membiasakan diri untuk hidup dalam teknologi baru. Hal ini merupakan konsekuensi Revolusi Industri 4.0 dan Indonesia saat ini sebenarnya telah mengarah ke sana. Buktinya, banyak kegiatan yang sudah berhasil terlaksana dengan baik melalui aplikasi Zoom dan sebagainya.

"Dengan diskusi melalui web, bangsa Indonesia sudah lebih mature, membiasakan diri mengikuti perkembangan di Revolusi Industri 4.0," ucapnya.

Mochtar mengakui Covid-19 membawa dua dampak sekaligus, negatif dan positif. Virus ini mengakibatkan stagnasi ekonomi yang harus ditangani secara serius. Di sisi lain, kondisi geopolitik AS-Tiongkok juga dikhawatirkan memicu perang dunia ketiga.

Di sisi lain, terkait sektor industri di Revolusi Industri 4.0, Mochtar menegaskan hal ini bukanlah ancaman. Meski diakuinya ada sunset dan sunrise industry di tengah arus digitalisasi. Sebagai contoh, perusahaan yang bergerak di bidang tekstil, yaitu Sritex. Menurutnya, industri tekstil tidak akan mengalami sunset industry. Justru yang akan menjadi sunset adalah pabriknya karena harus mulai berpikir untuk mulai melakukan transformasi digital. Pabrik harus menggunakan teknologi informasi, sehingga tetap bertahan dan berkembang ke depan. Begitu juga di sektor lainnya, seperti media, otomotif, dan elektronik.

Mengikuti perkembangan teknologi, lanjutnya merupakan kunci menuju kemajuan dan perubahan di sebuah negara maupun perusahaan. Apabila tidak mengikuti perubahan teknologi, maka sebuah negara maupun perusahaan akan tertinggal dan tergerus oleh perubahan zaman.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Merger Bank Syariah BUMN Perkuat Daya Saing Bank Syariah

Merger Bank Syariah BUMN akan memerkuat daya saing bank.

EKONOMI | 14 Juli 2020

Kurs Rupiah Menguat ke Rp 14.405

Kurs rupiah berada di level Rp 14.405 per dolar AS atau terapresiasi 20 poin (0,14 persen) dibandingkan perdagangan sebelumnya Rp 14.425.

EKONOMI | 14 Juli 2020

Sesi I, IHSG Menguat Tipis

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,13 persen ke kisaran 5.071,08 pada akhir sesi pertama perdagangan hari ini, Selasa (14/7/2020).

EKONOMI | 14 Juli 2020

Pengembang Cambio Loft Berikan Kemudahan Cara Bayar

Cambio Lofts merupakan solusi hunian new normal for the next generation.

EKONOMI | 14 Juli 2020

Jokowi Optimistis Indonesia Mampu Atasi Covid-19

Bangsa Indonesia harus mengambil makna terdalam dari pandemi Covid-19 yang saat ini melanda 215 negara di dunia.

NASIONAL | 14 Juli 2020

Skema PEN Perlu Payung Hukum

Anggota Komisi IX DPR Intan Fauzi menyatakan skema program PEN memerlukan kepastian hukum supaya implementasinya berjalan optimal di lapangan.

EKONOMI | 14 Juli 2020

Wapres Harap Pelaku Ekonomi Berkreasi Hadapi Pandemi Covid-19

Wakil Presiden Ma'ruf Amin meminta agar para pelaku ekonomi agar lebih kreatif dalam menyediakan layanan dan inovasi produk yang tepat.

EKONOMI | 13 Juli 2020

Kurs Rupiah Menguat ke Rp 14.300-an

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi hari ini, Selasa (14/7/2020), menguat ke kisaran Rp 14.400.

EKONOMI | 14 Juli 2020

IHSG Relatif Datar Pagi Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,07 persen ke kisaran 5.060,85 pada awal perdagangan hari ini, Selasa (14/7/2020).

EKONOMI | 14 Juli 2020

Bursa Asia Dibuka Melemah

Bursa Asia dibuka melemah pada perdagangan Selasa (14/7/2020). Perekonomian Singapura mengalami kontraksi 12.6 persen.

EKONOMI | 14 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS