Resiliensi Perbankan Teruji di Tengah Pandemi
INDEX

BISNIS-27 450.793 (-2.26)   |   COMPOSITE 5144.05 (-15.82)   |   DBX 982.653 (2.46)   |   I-GRADE 141.194 (-0.62)   |   IDX30 430.883 (-2.17)   |   IDX80 114.327 (-0.59)   |   IDXBUMN20 295.098 (-2.05)   |   IDXG30 119.385 (-0.73)   |   IDXHIDIV20 382.257 (-1.97)   |   IDXQ30 125.574 (-0.78)   |   IDXSMC-COM 221.901 (-0.43)   |   IDXSMC-LIQ 259.068 (-1.66)   |   IDXV30 107.621 (-1.14)   |   INFOBANK15 842.759 (-2.22)   |   Investor33 376.322 (-1.83)   |   ISSI 151.265 (-0.8)   |   JII 550.5 (-4.84)   |   JII70 187.95 (-1.54)   |   KOMPAS100 1026.39 (-5.14)   |   LQ45 794.213 (-3.71)   |   MBX 1420.94 (-5.57)   |   MNC36 281.737 (-1.36)   |   PEFINDO25 284.937 (-1.16)   |   SMInfra18 242.709 (-2.12)   |   SRI-KEHATI 318.969 (-1.57)   |  

Resiliensi Perbankan Teruji di Tengah Pandemi

Selasa, 25 Agustus 2020 | 19:07 WIB
Oleh : Lona Olavia / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Meski pandemi menghantam kondisi ekonomi, namun industri perbankan masih bisa bertahan hingga saat ini. Hal itu bisa dilihat dari berbagai indikator per semester I 2020 di mana, meski risiko kredit bermasalah (non performing loan/NPL) meningkat, namun aset, penempatan dana ketiga (DPK), kredit, permodalan, laba dan lainnya masih tergolong sehat. Bahkan, sektor keuangan menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi hingga 2,01% sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (25/8/2020) mampu ditutup menguat di atas 1%.

Alhasil kondisi perbankan dinilai masih berdaya tahan (resiliensi) di tengah pandemi. Apalagi, perbankan sudah mampu berinovasi dan mengikuti perkembangan zaman dengan mengenjot digitalisasi untuk memenuhi kebutuhan layanan nasabah.

Demikian disampaikan Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bambang Widjanarko, Ketua Bidang Pengembangan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas Aviliani, Direktur Hubungan Kelembagaan dan BUMN PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Agus Noorsanto, dan Direktur Utama PT BPD Sulawesi Tengah Rahmat Abdul Haris dalam diskusi panel dengan tema Resiliensi Industri Perbankan Menghadapi Covid-19 di sela-sela Investor Awards Best Bank 2020, yang disiarkan secara langsung di BeritaSatu TV, Selasa (25/8/2020).

OJK, kata Bambang Widjanarko, siap mengawal agar sektor keuangan termasuk perbankan di dalamnya terus terjaga. Melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 pun saat ini sudah banyak memberikan efek yang positif baik ke debitur maupun perbankan.

Tercatat, realisasi debitur perbankan yang melakukan restrukturisasi kredit realisasi mencapai 5,38 juta dari UMKM dengan total outstanding restrukturisasi Rp 330,27 triliun per 10 Agustus 2020. Kemudian non UMKM, sekitar 1,34 debitur dengan outstanding Rp 454,09 triliun, sehingga total nasabah bank yang sudah restrukturisasi 6,73 juta sebanyak Rp 784,36 triliun.

Pandemi Covid-19 yang merubah gaya hidup banyak orang dalam berbagai hal, tak terkecuali transaksi perbankan juga sudah disikapi OJK dengan dukungan berupa menyiapkan infrastruktur pengaturan berdasarkan prinsip (principle based) untuk mendukung ekosistem kondusif dalam transformasi digital.

"Layanan digital bisa menjawab kebutuhan masyarakat. Jadi, industri ini bisa memenuhi kebutuhan masyarakat yang meningkat ekspektasinya dan jadi transmisi keuangan sehingga perbankan bisa resiliensi. Apalagi digital is a must dan ini bukan karena efisiensi saja tapi juga bicara kecepatan dan behavior utama dengan adanya pandemi," ujarnya.

Agus Noorsanto mengatakan, dengan digitalisasi maka proses restrukturisasi BRI hingga saat ini sudah tembus 3 juta debitur senilai Rp 182 triliun. Tren restrukturisasi yang puncaknya pada April dan Mei pun saat ini sudah melandai. Sehingga, pemulihan UMKM dikatakannya sudah mulai berjalan kembali.

"Laba di kuartal II turun hampir 36%, tapi kami masih bisa bukukan laba Rp 10,2 triliun, karena kami sudah siapkan platform digital. Ini membantu sekali tak hanya restrukturisasi, tapi mempercepat penyaluran kredit," ungkapnya.

Terkait penyaluran dana Penempatan Uang Negara Pada Bank Umum dalam Rangka Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), BRI pun telah memenuhi komitmen dengan menyalurkan dana sesuai target yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Hingga 10 Agustus 2020, tercatat perseroan telah menyalurkan kredit yang bersumber dari penempatan dana PEN sebesar Rp 30,6 triliun kepada 700.000an pelaku UMKM.

Tantangan Perbankan
Aviliani menyebut dari sisi internal ada lima tantangan yang harus dihadapi perbankan, yakni menyangkut kondisi likuiditas, kebutuhan modal yang besar, biaya operasional yang tinggi, persaingan industri non bank, dan high regulated. Bahkan, ia meminta agar pelaku perbankan mewaspadai kenaikan NPL usai program relaksasi selesai.

"Perbankan harus tinjau debitur yang sekarang lancar pembayaran kreditnya tapi ke depan belum tentu lancar karena sebagian korporasi masih memiliki daya tahan atau dana cadangan. Nanti dilihat di September, jika masih ada daya tahan maka restrukturisasi tidak bertambah signifikan dan sebaliknya. Jadi, akan ada tantangan di NPL dan setelah ada relaksasi ada PR perbankan terkait permodalan," katanya.

Selain itu, seiring defisit APBN 6,34% tahun ini, maka pemerintah dan perbankan akan berebut likuiditas. Di mana, melalui SBN yang bunganya jauh di atas suku bunga acuan harus diwaspadai perbankan.

Sementara itu, Rahmat Abdul Haris menyatakan, struktur kredit BPD agak beda dengan perbankan umum. Bahkan, restrukturisasi yang dianggarkan Rp 355 miliar hanya terpakai Rp 75 miliar. "Dari 1.726 restrukturisasi, yang ingin mendapatkan fasilitasnya tidak sampai 20%. 80% sisanya merasa tidak terdampak pandemi karena kebanyakan debitur fix income," ucapnya.

Belajar dari pandemi, sambung ia, ke depan pihaknya akan lebih menyasar kredit ke sektor pertanian, perikanan, dan pertambangan yang dinilai tidak terlalu terdampak pandemi.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Ekonomi Indonesia Diyakini Bisa Lebih Cepat Pulih

Ekonom Indef Iman Sugema meyakini ekonomi Indonesia akan lebih cepat pulih pada 2021 setelah tahun ini dihantam pandemi Covid-19.

EKONOMI | 25 Agustus 2020

Tol Banda Aceh-Sigli Jadikan Aceh Sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru

Presiden Jokowi resmikan tol Aceh Sigli.

EKONOMI | 25 Agustus 2020

Kemperin Luncurkan Program Indonesia Food Innovation

Kemperin menginisiasi program Foof Innovation

EKONOMI | 25 Agustus 2020

Wamendes Ajak Anak Muda Jadi Petani

Anak muda sebaiknya jadi petani.

EKONOMI | 25 Agustus 2020

Olly Dondokambey: Roda Ekonomi Mulai Bergerak

Ekspor dilakukan untuk beberapa komoditas lainnya ke 15 negara tujuan antara lain Tiongkok, India, Singapura, Thailand, dan Belanda.

NASIONAL | 25 Agustus 2020

Ini 16 Bank Terbaik 2020 Versi Majalah Investor

BCA, BRI, dan Bank Mandiri menjadi tiga bank terbaik di kategori Bank Buku IV.

EKONOMI | 25 Agustus 2020

Semester I, Laba Bank Syariah Mandiri Naik 30%

Kenaikan laba ditopang pendapatan margin dan fee based income yang antara lain disumbang dari layanan digital.

EKONOMI | 25 Agustus 2020

Pemerintah Masih Utang Rp 38 Triliun ke PLN

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini menyampaikan, pemerintah menjanjikan bakal membayar sisa utang tersebut di akhir Agustus 2020 ini.

EKONOMI | 25 Agustus 2020

Wapres Minta Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Ditingkatkan

Menurut Wapres, dengan indeks inklusi yang masih rendah, merupakan kesempatan untuk melakukan perluasan layanan keuangan syariah.

EKONOMI | 25 Agustus 2020

Pembangunan Berkelanjutan Penting Guna Pulihkan Dampak Pandemi Covid-19

Sektor-sektor terkait dengan sumber daya alam, seperti kehutanan, pertanian, peternakan terkena dampak kemiskinan yang parah akibat pandemi.

EKONOMI | 25 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS