Siap-siap, Pembangunan Infrastruktur Bakal Mendorong Harga Komoditas Industrial Naik
INDEX

BISNIS-27 450.793 (-0.44)   |   COMPOSITE 5144.05 (-6.63)   |   DBX 982.653 (-1.48)   |   I-GRADE 141.194 (-0.14)   |   IDX30 430.883 (-0.52)   |   IDX80 114.327 (-0.26)   |   IDXBUMN20 295.098 (-0.94)   |   IDXG30 119.385 (-0.37)   |   IDXHIDIV20 382.257 (-0.27)   |   IDXQ30 125.574 (-0.34)   |   IDXSMC-COM 221.901 (-0.67)   |   IDXSMC-LIQ 259.068 (-1.34)   |   IDXV30 107.621 (-0.77)   |   INFOBANK15 842.759 (0.53)   |   Investor33 376.322 (-0.4)   |   ISSI 151.265 (-0.7)   |   JII 550.5 (-3.39)   |   JII70 187.95 (-1)   |   KOMPAS100 1026.39 (-1.44)   |   LQ45 794.213 (-1.23)   |   MBX 1420.94 (-1.79)   |   MNC36 281.737 (-0.13)   |   PEFINDO25 284.937 (-2.15)   |   SMInfra18 242.709 (-1.36)   |   SRI-KEHATI 318.969 (-0.31)   |  

Siap-siap, Pembangunan Infrastruktur Bakal Mendorong Harga Komoditas Industrial Naik

Sabtu, 19 September 2020 | 06:57 WIB
Oleh : Faisal Maliki Baskoro / FMB

New York, Beritasatu.com - Investasi di bidang infrastruktur akan menjadi pendorong pemulihan ekonomi dunia tahap berikut. Dalam beberapa bulan ke depan, sektor industri diperkirakan bakal bangkit kembali dan harga komoditas industrial menguat.

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 yang belum mereda menjadi isu yang dipantau pelaku pasar, sementara negara-negara semakin kewalahan mengatasi pandemi ini.

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mengatakan pemulihan ekonomi global berjalan lebih baik dari perkiraan, tetapi perekonomian tahun ini masih akan menyusut tajam. OECD memproyeksikan perekonomian global tahun ini akan terkontraksi 4,5 persen, lebih baik 1,5 persen dari estimasi sebelumnya pada bulan Juni yang memproyeksikan kontraksi produk domestik bruto (PDB) dunia terkontraksi 6 persen.

Salah satu tanda pemulihan adalah pertumbuhan industri di Tiongkok sebesar 5,6 persen pada bulan Agustus dibanding tahun sebelumnya. Angka ini adalah yang tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Pertumbuhan industri Tiongkok mendorong pandangan bahwa pemulihan ekonomi semakin melaju, ditopang stimulus pemerintah.

"Kita sudah mengamati respons permintaan baja yang intensif di Tiongkok. Rebound sektor konstruksi Tiongkok sangat luar biasa," kata Max Layton, kepala EMEA riset komoditas Citi kepada CNBC. Dia menambahkan pertumbuhan industri juga dirasakan di sektor komoditas industrial.

Layton mengatakan tiga katalis yang wajib dipantau investor komoditas adalah: berita vaksin Covid-19, pemulihan ekonomi Tiongkok, dan besaran stimulus AS.

Sementara itu, direktur riset WisdomTree Investments mengatakan kepada CNBC, bahwa sekarang saat yang tepat untuk menggunakan stimulus untuk mengatasi defisit infrastruktur di negara-negara berkembang.

"Banyak program infrastruktur yang dinanti-nanti selama puluhan tahun bisa dikerjakan tahun ini," kata Shah.

Andy Critchlow dari S&P global Platts juga mengatakan kepada CNBC, setelah respons fiskal, pemangkasan suku bunga dan stimulus, maka tahap berikutnya adalah pembangunan infrastruktur.

"Hal ini pernah terjadi pada tahun 2008-2009 di mana respons terhadap krisis finansial adalah reli di pasar komoditas industrial," kata dia. "Sekarang saran saya, cermati biji besi karena komoditas ini bakal merkoket jika terjadi pemulihan ekonomi yang didorong infrastruktur, dan setelah itu efeknya akan mengalir ke komoditas minyak".

Harga bijih besi naik ke level tertinggi dalam 6,5 tahun terakhir pada hari Senin lalu, ke US$ 129 per ton, didorong oleh pertumbuhan sektor konstruksi di Tiongkok. Bahan baku baja itu berada di US$ 126,59 pada hari Jumat, naik 37 persen year-to-date.

Harga emas juga naik 28 persen sepanjang tahun ini, sementara perak naik 50 persen. Kenaikan harga dua komoditas ini didorong suku bunga rendah dan karena dinilai sebagai investasi aman di tengah-tengah risiko inflasi.

Ke depan, Tiongkok, India, dan AS akan melakukan belanja infrastruktur besar. Dua calon Presiden AS, Joe Biden dan Donald Trump, sudah memiliki program infrastruktur masing-masing. Trump menyiapkan anggaran infrastruktur US$ 1 triliun jika terpilih kembali, sementara Biden menjanjikan belanja infrastruktur US$ 2 triliun.

Bedanya, infrastruktur Trump cenderung dalam bentuk jalan dan jembatan sehingga bakal mendorong harga baja naik. Sementara Biden lebih ke infrastruktur modern seperti energi bersih, sehingga mendorong komoditas seperti tembaga dan perak.



Sumber:CNBC.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Perkembangan Covid-19 Mengkhawatirkan, Bursa Eropa Melemah

Indeks Stoxx 600 turun 0,66 persen, DAX Jerman turun 0,7 persen, FTSE Inggris turun 0,71 persen, CAC Prancis turun 1,22 persen.

EKONOMI | 19 September 2020

Sektor Teknologi Anjlok, Wall Street Melemah

Dow Jones Industrial Average turun 0,9 persen ke 27.657,42. S&P 500 turun 1,1 persen ke 3.319,42. Nasdaq turun 1,1 persen ke 10,793,28.

EKONOMI | 19 September 2020

Pelindo 1 Tata Akses Masuk Terminal Peti Kemas Belawan

Penataan akses truk peti kemas, dapat mengefisiensikan waktu pelayanan penerimaan dan pengiriman barang di TPK Belawan.

EKONOMI | 18 September 2020

Imbas Pandemi, Operator Angkutan Darat Rugi Rp 15,9 Triliun Tiap Bulan

Pemerintah berkomitmen memberikan relaksasi bagi operator angkutan darat.

EKONOMI | 18 September 2020

Jalin Kerja Sama, BRI Syariah Layani Belanja Pegawai BNN

BRI Syariah siap memberikan dukungan layanan perbankan kepada 223 Satuan Kerja BNN.

EKONOMI | 18 September 2020

Wall Street Dibuka Flat, Saham Teknologi Menguat

Facebook naik 1 persen di pasar awal perdagangan. Amazon, Apple, Netflix, dan Alphabet juga menguat.

EKONOMI | 18 September 2020

SPIN Perkuat Pembayaran Nontunai Listrik

Platform pembayaran digital ini, menawarkan banyak kemudahan dan keuntungan bagi para penggunanya.

EKONOMI | 17 September 2020

Kempupera Tidak Akan Bekukan Asosiasi yang Belum Terakreditasi

Kesempatan asosiasi memperoleh akreditasi masih terbuka lebar.

EKONOMI | 18 September 2020

Gandeng BNPT, Pegadaian Komitmen Cegah Karyawan Terpapar Radikalisme

Pegadaian akan melakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada karyawan tentang bahaya paham radikalisme dan terorisme.

EKONOMI | 18 September 2020

Maraknya Kasus Kepailitan Ancam Industri Properti

Maraknya kasus kepailitan yang menimpa pada sejumlah perusahaan pengembang properti nasional menambah persoalan baru di tengah masa pandemi Covid-19.

EKONOMI | 18 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS