Dampak Pandemi, 1,98 Juta Peserta BPJamsostek Ajukan Klaim Jaminan Hari Tua
INDEX

BISNIS-27 503.107 (8.47)   |   COMPOSITE 5679.25 (80.67)   |   DBX 1039.52 (14.71)   |   I-GRADE 166.189 (3.47)   |   IDX30 492.322 (9.09)   |   IDX80 129.082 (2.66)   |   IDXBUMN20 363.759 (7.86)   |   IDXG30 133.243 (2.59)   |   IDXHIDIV20 440.08 (10.13)   |   IDXQ30 143.762 (2.86)   |   IDXSMC-COM 242.127 (2.51)   |   IDXSMC-LIQ 293.644 (5.57)   |   IDXV30 123.61 (3.35)   |   INFOBANK15 979.67 (10.23)   |   Investor33 423.592 (6.88)   |   ISSI 165.745 (2.98)   |   JII 604.859 (14.26)   |   JII70 207.745 (4.44)   |   KOMPAS100 1155.02 (20.8)   |   LQ45 903.46 (17.32)   |   MBX 1578.72 (22.44)   |   MNC36 316.411 (5.51)   |   PEFINDO25 310.113 (3.58)   |   SMInfra18 286.549 (5.46)   |   SRI-KEHATI 362.507 (5.51)   |  

Dampak Pandemi, 1,98 Juta Peserta BPJamsostek Ajukan Klaim Jaminan Hari Tua

Kamis, 22 Oktober 2020 | 19:18 WIB
Oleh : Herman / FMB

Jakarta, Beritasatu.com – Pandemi Covid-19 telah menyebabkan banyak pekerja yang dirumahkan hingga mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hal ini turut berpengaruh pada kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJamsostek) yang mengalami penurunan, serta peningkatan permintaan klaim Jaminan Hari Tua (JHT).

Direktur Perencanaan Strategis dan TI BPJamsostek, Sumarjono memaparkan, pada September 2020, permintaan klaim JHT mengalami peningkatan hingga 44% atau sebanyak 270.925 kasus dibandingkan September 2019.

“Secara kumulatif, sejak Januari sampai dengan September 2020, permintaan klaim JHT mengalami peningkatan sebesar 22,2%, atau setara dengan 1.986.632 juta kasus,” kata Sumarjono dalam acara Zooming with Primus bertajuk “Peran BPJamsostek Saat Pandemi,” yang disiarkan BeritaSatu TV, Kamis (22/10/2020).

Untuk jumlah peserta BPJamsostek per September 2020 mencapai 50,4 juta pekerja. Angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama di tahun 2019 yang sebanyak 53,1 juta pekerja. Sementara itu berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2020, total tenaga kerja Indonesia mencapai 131,03 juta, baik formal maupun informal.

“Jumlah peserta BPJamsostek mengalami penurunan karena adanya sejumlah PHK akibat Pandemi Covid-19. Untuk dana keseluruhan yang kita kelola sampai September 2020 sekitar Rp 450 triliun. Ini cukup naik, kalau di September 2019 sekitar Rp 430 triliun,” kata Sumarjono.

Sementara itu untuk kepesertaan pekerja informal, dari keseluruhan peserta BPJamsostek, jumlahnya baru sekitar 2,4 juta pekerja. Diakui Sumarjono, mengajak pekerja informal untuk bergabung menjadi peserta BPJamsostek memang masih jadi tantangan besar.

“PR besar kita adalah bagaimana mereka ini sadar bahwa ini adalah hak mereka dan baik untuk perlindungan mereka. Tetapi di sisi lain, banyak dari pekerja informal ini yang juga tidak mampu untuk membayar iuran,” kata Sumarjono.

Inovasi Teknologi
Seiring dengan meningkatnya klaim JHT, BPJamsostek juga mempercepat transformasi digital, di mana BPJamsostek melakukan peningkatan kapasitas layanan sambil tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Antara lain memberikan pelayanan dengan meniadakan kontak fisik atau disebutnya layanan tanpa kontak fisik (Lapak Asik).

Sumarjono menjelaskan, pelayanan Lapak Asik dilakukan melalui tiga pola, yaitu secara online di mana peserta melakukan klaim melalui kanal online atau virtual mulai dari mengurus sampai mendapatkan pembayaran. Kemudian bisa juga dilakukan secara kolektif perusahaan serta offline.

Sebagai bentuk kepedulian pada pekerja dan pemberi kerja pada masa pandemi Covid-19 ini, beberapa kebijakan juga telah dikeluarkan. Antara lain memberikan relaksasi iuran berupa keringanan iuran program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian dengan diskon hingga 99%.

“Untuk penundaan iuran jaminan pensiun, besarnya juga 99%. Kemudian ada kelonggaran batasan untuk pembayaran iuran yang biasanya di tanggal 15 setiap bulannya, ini bisa diundur menjadi tanggal 30 bulan berikutnya. Pengenaan denda juga dikurangi dari 2% menjadi 0,5%,” kata Sumarjono.

Bantuan Subsidi Upah
BPJamsostek juga memiliki peran besar dalam program Bantuan Subsidi Upah/Gaji (BSU) untuk proses verifikasi penerima bantuan yang merupakan peserta BPJamsostek.

Dari target 15,7 juta peserta yang ditetapkan pemerintah, yang dapat dikumpulkan sekitar 14,8 juta peserta. Kemudian setelah dilakukan verifikasi dan validasi, didapatkan angka 12,4 juta data yang lolos dan diserahkan kepada Kementerian Ketenagakerjaan untuk ditindaklanjuti.

Menurut Sumarjono, selain respon dari beberapa Human Resource Department (HRD) perusahan yang lambat, penyebab tidak tercapainya target 15,7 juta peserta juga disebabkan oleh banyaknya pekerja yang tidak memiliki rekening bank sebagai syarat penerima BSU, atau rekeningnya sudah tidak aktif.

“Tidak semua merespon kepada BPJamsostek dengan cepat. Sementara kami juga diberikan batas waktu,” kata Sumarjono.

Koordinator Advokasi BPJs Watch, Timboel Siregar juga mengkritisi jumlah penerima BSU yang hanya 12,4 juta pekerja, padahal targetnya sebanyak 15,7 juta pekerja.

“Bantuan subsidi upah ini sebetulnya sangat baik untuk membantu pekerja dengan penghasilan di bawah Rp 5 juta. Tetapi memang persoalannya yang baru bisa dieksekusi hanya 12,4 juta pekerja. ini yang waktu itu kami kritik terkait Permenaker 14/2020, karena faktanya kan banyak pekerja kita yang belum punya rekening. Jadi bagaimana kalau pemberian bantuan itu dikombinasi melalui kantor pos,” kata Timboel.

Hal senada disampaikan Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), Paulus Agung Pambudi. Menurutnya, pekerja yang belum memiliki rekening bank seharusnya dimungkinkan untuk bisa tetap menerima bantuan melalui pendekatan tertentu untuk bisa dijangkau.

Sementara itu terkait kepesertaan BPJamsostek, menurut Agung BPJamsostek juga harus lebih fokus pada peningkatan kepesertaan dari segmen pekerja skala kecil atau mikro dan pekerja informal. Sebab segmen itulah yang sebetulnya paling membutuhkan perlindungan ketenagakerjaan.

“Kalau kita bicara perusahan menengah dan besar, pekerjanya itu relatif sudah memiliki tingkat pelayanan tertentu pada jaminan ketenagakerjaan, baik untuk jaminan hari tua maupun jaminan kesehatan. Jadi ke depan yang perlu difokuskan adalah peningkatan kepesertaan perusahaan skala kecil dan informal yang memang paling membutuhkan jaminan ketenagakerjaan,” kata Agung.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Dirut Pertamina Nicke Widyawati Masuk 50 Perempuan Paling Berpengaruh

Berada di posisi 16, Nicke adalah pendatang baru di daftar ini.

EKONOMI | 22 Oktober 2020

Gugatan Terkait Subholding Pertamina Dinilai Prematur

Yusril berpesan agar tim Pertamina bisa lebih detail dan terbuka agar tidak ada yang dirugikan.

EKONOMI | 22 Oktober 2020

Bagikan 4.000 Asuransi Kecelakaan Gratis, Bhinneka Life Raih Muri

Bhinneka Life berkomitmen memberikan perlindungan jiwa bagi keluarga Indonesia.

EKONOMI | 22 Oktober 2020

Siasati Pandemi, Mister Aladin Garap Peluang Baru

Diskon 40% ini diberikan saat Parade Flash Sale yang berlangsung tiap bulan di tanggal tertentu hingga Desember 2020.

EKONOMI | 22 Oktober 2020

Regulasi Berbasis Keberlanjutan Jadi Kunci Penting Menarik Investasi ke Daerah

Berdasarkan data BKPM, target investasi secara nasional pada tahun 2020 hingga 2024 sebesar Rp 4.983,2 triliun.

EKONOMI | 22 Oktober 2020

PermataBank Syariah Transformasikan Kantor Cabang

Pembukaan model branch ini merupakan salah satu strategi ekspansi dan transformasi cabang PermataBank Syariah.

EKONOMI | 22 Oktober 2020

Proyek Rp 39 M Kempupera di Kendari Selesai Bulan Depan

Program Kotaku di kawasan Bungkutoko dan Petoaha sepanjang sekitar 1 Km dibangun sejak 2019 lalu dan melibatkan kontraktor lokal.

EKONOMI | 22 Oktober 2020

Presiden Jokowi Resmikan Pabrik Gula Prima Alam Gemilang

Pabrik gula PT Prima Alam Gemilang (PAG) di Sultra berkapasitas giling hingga 12.000 TCD dan mampu menyerap 15.000 tenaga kerja.

EKONOMI | 22 Oktober 2020

Jokowi Tegaskan Inflasi Harus Dijaga Agar Tidak Terlalu Rendah

Menurut Jokowi, kebijakan pengendalian inflasi tidak hanya fokus pada upaya-upaya pengendalian harga.

EKONOMI | 22 Oktober 2020

Inventor Asing Borong Saham BRI, Astra, dan Indocement

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat beli bersih investor asing sebesar Rp 94,8 miliar. Saham BBRI naik 1,85% ke Rp 3.300.

EKONOMI | 22 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS