LIPI: Mitigasi Penyebaran Virus Korona dari Satwa Liar
INDEX

BISNIS-27 450.793 (-2.26)   |   COMPOSITE 5144.05 (-15.82)   |   DBX 982.653 (2.46)   |   I-GRADE 141.194 (-0.62)   |   IDX30 430.883 (-2.17)   |   IDX80 114.327 (-0.59)   |   IDXBUMN20 295.098 (-2.05)   |   IDXG30 119.385 (-0.73)   |   IDXHIDIV20 382.257 (-1.97)   |   IDXQ30 125.574 (-0.78)   |   IDXSMC-COM 221.901 (-0.43)   |   IDXSMC-LIQ 259.068 (-1.66)   |   IDXV30 107.621 (-1.14)   |   INFOBANK15 842.759 (-2.22)   |   Investor33 376.322 (-1.83)   |   ISSI 151.265 (-0.8)   |   JII 550.5 (-4.84)   |   JII70 187.95 (-1.54)   |   KOMPAS100 1026.39 (-5.14)   |   LQ45 794.213 (-3.71)   |   MBX 1420.94 (-5.57)   |   MNC36 281.737 (-1.36)   |   PEFINDO25 284.937 (-1.16)   |   SMInfra18 242.709 (-2.12)   |   SRI-KEHATI 318.969 (-1.57)   |  

LIPI: Mitigasi Penyebaran Virus Korona dari Satwa Liar

Jumat, 24 Januari 2020 | 20:17 WIB
Oleh : Ari Supriyanti Rikin / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengingatkan mitigasi penyebaran virus korona dari satwa liar. Virus korona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit ringan seperti pilek dan penyakit yang serius seperti MERS dan SARS.

Virus korona adalah single-stranded RNA (ssRNA) virus yang umum ditemukan pada berbagai hewan yang berkeliaran di atas tanah seperti mamalia, burung dan reptil.

Beberapa jenis virus korona dikenal dapat menyebabkan infeksi akut pada saluran pernapasan bagian atas maupun bawah pada manusia, di antaranya adalah Severe Acute Respiratory Syndrome-related virus korona(SARS-CoV) yang mengalami kejadian luar biasa di Tiongkok pada tahun 2002.

Kemudian Middle East Respiratory Syndrome virus korona (MERS-CoV) yang mengalami kejadian luar biasa di Arab Saudi pada tahun 2012, dan yang terakhir adalah novel virus korona (2019-nCoV) yang laporan gejala awalnya terjadi di Wuhan, Tiongkok pada 31 Desember 2019.

Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Cahyo Rahmadi mengatakan, satwa liar yang secara alami dapat menyeberang lintas negara, maupun dibawa dan dimanfaatkan oleh manusia untuk tujuan tertentu.

Menurutnya, hal ini perlu menjadi fokus mitigasi antisipasi zoonosis. Sebab kata dia, zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari satwa liar ke manusia.

"Hewan yang dominan berpotensi membawa penyakit adalah tikus, kelelawar, celurut, karnivora dan kelompok primata seperti monyet," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (24/1/2020).

Peneliti mikrobiologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Sugiyono Saputra juga menjelaskan, virus korona memiliki laju mutasi yang sangat cepat dibandingkan dengan jenis virus yang lain seperti double-stranded DNA (dsDNA) virus sehingga kemunculan kejadian luar biasa dapat berlangsung cepat dan tidak terduga.

Sugiyono menyebut, penyebaran secara global pun dapat terjadi dengan mudah karena tingginya mobilitas manusia.

"Penelitian menunjukkan ketiga jenis virus korona yang bersifat mematikan terhadap manusia tersebut berasal dari kelelawar yang berperan sebagai perantara alaminya," ungkapnya.

Menurut Sugiyono, walaupun memungkinkan, namun interaksi langsung antara kelelawar dengan manusia sangatlah jarang.

"Tetapi virus tersebut dapat pula menginfeksi hewan lainnya sebagai perantara, dan hewan perantara tersebutlah yang lebih sering berinteraksi langsung dengan manusia," ungkapnya.

Pada kasus SARS hewan perantaranya adalah mamalia kecil seperti kelelawar, musang, dan rakun. Pada kasus MERS, hewan perantaranya adalah unta. Sedangkan pada kasus terbaru, material genetik dari 2019-nCoV merupakan rekombinasi dari
material genetik virus yang berasal dari kelelawar dan ular.

Menurut Sugiyono, hipotesis tersebut diangkat berdasarkan data terbaru yang dipublikasikan pada Journal of Medical Virology. Hipotesis tersebut menjelaskan bahwa kode-kode protein atau material genetik 2019-nCoV memiliki kesamaan dengan material genetik yang berasal dari ular.

Data tersebut diketahui setelah membandingkannya dengan lebih dari 200 jenis virus korona dari berbagai hewan.

"Rekombinasi yang dimaksud adalah gabungan antara bagian selubung virus dari virus korona asal kelelawar yang dikenal dapat menginfeksi manusia dan dari material genetik virus korona yang berasal dari ular," paparnya.

Spesies ular tersebut, lanjutnya, adalah Bungarus multicinctus atau the many-banded krait dan Naja atra atau the Chinese cobra. Ia menjelaskan, selubung virus atau viral spike merupakan bagian yang akan menempel atau menginfeksi sel inangnya jika memiliki reseptor yang sesuai.

"Mutasi bagian inilah yang menyebabkan virus korona dari ular tersebut dapat menginvasi sel-sel pada saluran pernapasan manusia," ungkapnya.

Namun kata dia, masih diperlukan penelitian menyeluruh untuk menyimpulkan asal virus 2019-nCoV, yang merupakan bagian dari sub-kelompok kecil betacoronavirus, melalui identifikasi di tempat kerja dan laboratorium lebih lanjut.

"Kendati demikian, para ilmuwan menduga bahwa mamalia adalah kandidat yang paling mungkin, seperti yang telah tervalidasi pada kasus SARS dan MERS sebelumnya," katanya.

Senada dengan itu peneliti satwa liar Pusat Penelitian Biologi LIPI Taufiq P Nugraha menyebut, para ilmuwan menduga kemunculan penyakit zoonosis baru (new emerging infectious diseases) seperti kasus 2019-nCoV merupakan hasil tingginya frekuensi interaksi antara satwa liar dengan manusia.

"Jika berkaca pada kasus ebola di Afrika, deforestasi untuk pertanian dapat berperan dalam ekspansi kelelawar di luar habitatnya dan ekspansi manusia ke dalam habitat kelelawar, sehingga keduanya dapat saling berinteraksi bebas dan berisiko tinggi dalam penyebaran penyakit baru," paparnya.

Dalam kasus 2019-nCoV, Taufiq menyebutkan kemungkinan orang yang berinteraksi langsung di pasar hewan di Wuhan, Tiongkok adalah yang pertama terkena penyakit infeksi tersebut.

"Interaksi langsung tersebut dapat melalui makanan maupun dalam proses pengolahan hewannya, baik hewan perantara maupun yang merupakan perantara alaminya," tutur Taufiq.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Virus Korona Mengganas pada Orang Berdaya Tahan Lemah

Virus korona dapat menimbulkan efek serius pada orang dengan penyakit kornis seperti seperti jantung, diabetes, liver, kanker dan lainnya.

KESEHATAN | 24 Januari 2020

Pemerintah Antisipasi Penyebaran Virus Korona

Langkah preventif wajib dilakukan menyusul kasus penyebaran virus tersebut yang telah dikonfirmasi di sejumlah negara Asia Tenggara.

KESEHATAN | 24 Januari 2020

Dinkes Banten Waspadai Potensi Penyebaran Virus Korona

Dinkes Banteni meminta puskesmas dan Dinkes kabupaten/kota untuk melakukan pengamatan terhadap peningkatan kasus Influenza Like Illness (ILI).

KESEHATAN | 24 Januari 2020

IDI: Belum Ada Obat Antivirus Korona

Warga yang terserang virus tersebut biasanya ditandai dengan beberapa hal, di antaranya batuk, pilek, demam panas, sesak napas, dan nyeri otot.

KESEHATAN | 24 Januari 2020

RSPI Sulianti Saroso Tangani Pasien Pertama yang Diduga Tertular Virus Korona

RSPI Sulianti Saroso masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

KESEHATAN | 24 Januari 2020

Antisipasi Virus Korona, RSUP Adam Malik Bentuk Tim Khusus

Anggota tim dari berbagai bidang disiplin ilmu kedokteran, tetapi yang terbanyak dari spesialis penyakit dalam.

KESEHATAN | 24 Januari 2020

6 Cara Cerdas Mengajak Anak Gemar Berolahraga

Jumlah anak-anak yang malas melakukan aktivitas fisik diperkirakan terus meningkat.

KESEHATAN | 23 Januari 2020

Menkes Minta Masyarakat Tak Khawatir Isu Korona

Menkes Terawan melakukan sidak ke Gedung BRI tanpa menggunakan masker.

KESEHATAN | 23 Januari 2020

Penumpang dan Awak Pesawat Harus Lewat Pemeriksaan Suhu Badan

Jika ditengarai ada penumpang dengan suhu tubuh di atas 38 derajat maka orang tersebut akan menjalani wawancara.

KESEHATAN | 23 Januari 2020

Pemerintah Waspadai Masuknya Virus Corona ke Indonesia

Pemerintah telah menggelar rapat lintas sektor, belum lama ini, mengantisipasi kemungkinan virus menyebar di Indonesia.

KESEHATAN | 23 Januari 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS