Efek Samping Covid-19 terhadap Kesehatan Otak
INDEX

BISNIS-27 447.461 (-6.35)   |   COMPOSITE 5059.22 (-59.86)   |   DBX 933.73 (-7.01)   |   I-GRADE 135.366 (-2.1)   |   IDX30 427.201 (-7.13)   |   IDX80 111.513 (-1.85)   |   IDXBUMN20 284.629 (-6.37)   |   IDXG30 118.405 (-1.6)   |   IDXHIDIV20 382.903 (-6.43)   |   IDXQ30 125.347 (-2.16)   |   IDXSMC-COM 215.54 (-2.56)   |   IDXSMC-LIQ 243.745 (-4.83)   |   IDXV30 105.043 (-1.69)   |   INFOBANK15 803.622 (-8.33)   |   Investor33 371.182 (-4.92)   |   ISSI 148.056 (-1.95)   |   JII 539.107 (-10.07)   |   JII70 182.679 (-3.16)   |   KOMPAS100 996.599 (-14.96)   |   LQ45 780.316 (-12.34)   |   MBX 1404.61 (-17.5)   |   MNC36 278.843 (-3.77)   |   PEFINDO25 265.576 (-5.11)   |   SMInfra18 242.356 (-5.25)   |   SRI-KEHATI 313.434 (-3.93)   |  

Efek Samping Covid-19 terhadap Kesehatan Otak

Jumat, 8 Mei 2020 | 13:21 WIB
Oleh : Dina Fitri Anisa / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Banyaknya informasi yang beredar mengenai pandemik virus corona (Covid-19) bisa saja memengaruhi kesehatan mental. Rasa panik, stres, dan perubahan aktivitas rupanya dapat mengganggu kesehatan otak manusia.

Dokter dan guru besar dengan spesialisasi bidang bedah saraf Prof Dr Dr dr Eka J Wahjoepramono SpBS PhD mengatakan, inilah salah satu efek pandemik yang kurang dipahami oleh masyarakat awam. Padahal, jika persoalan mengenai kesehatan otak dibiarkan berkepanjangan maka akan menimbulkan masalah yang serius.

“Selain penyakit Covid, Indonesia akan didatangi oleh penyakit baru seperti, internet game addiction. Kalau sudah memegang gawai, mereka akan lupa untuk makan, minum, dan kerja. Ini menurut saya sangat bahaya. Indonesia sudah masuk lampu kuning. Apalagi saat pandemik, anak-anak tidak bisa keluar rumah. Jadi, jangan lama-lama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) karena akibatnya tidak sesederhana itu,” jelasnya saat live forum bertajuk, Kerusakan Otak, Bisa oleh Corona?, Kamis (7/5/2020).

Lebih lanjut, Kepala Departemen Medik Kesehatan Jiwa RSCM-FKUI, dr. Kristiana Siste Kurniasanti menjelaskan lebih rinci, penyebab terjadinya gangguan otak yang secara langsung dapat berhubungan dengan gangguan emosi individu akibat terjadinya pandemik. Penyebab pertama adalah pembatasan sosial yang menyebabkan kejenuhan.

Ia menerangkan, saat ini setidaknya sudah sebanyak 1/3 dari populasi dunia yang berada pada suatu bentuk pembatasan sosial dan karantina. Sedangkan Indonesia memulai pembatasan sosial sejak akhir Maret 2020 dan PSBB pada 10 April 2020.

“Karantina dan WFH dapat meningkatkan keadaan demensia karena menurunya interaksi sosial dan kegiatan yang sulit diakses untuk meningkatkan kesejahteraan emosional. Pada akhirnya membuat mereka jenuh dan menimbulkan stress, ” terangnya.

Faktor risiko terkait gangguan emosional terjadi pada populasi anak-anak dan lansia. Kemudian, durasi karantina yang berlaku lebih dari 10 hari, serta masyarakat yang memiliki gangguan psikologis, ditambah lagi bagi individu yang memiliki candu pada alkohol.

Dokter Kristiana pun memberikan beberapa ciri-ciri pada gangguan emosional yang terlihat pada diri seseorang. Yaitu, mulai dari merasa depresi, iritabilitas, kecemasan dan gangguan fungsi kognitif seperti penurunan memori. Namun dalam beberapa kasus, gangguan emosional ini tidak hanya dapat diekspresikan dari emosi semata, tetapi juga melalui fungsi tubuh. Seperti, pegal-pegal, ataupun demam.

“Penelitian kami di RSCM menunjukkan 66% pasien mengalami gejala emosional, bahkan hal itu dari para petugas kesehatan. Sedangkan gangguan depresi 43%, dan PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) atau gangguan stres pascatrauma sebanyak 41%,” jelas dia.

Sedangkan bagi para lansia, 50% di antaranya merasa kesepian akibat pembatasan jarak sosial. Ia menjelaskan, faktor tersebut dapat berdampak langsung pada gangguan mental dan fisik, serta risiko kematian. Salah satu penyebabnya karena stress yang berlarut dalam jangka panjang dapat menurunkan imun tubuh seseorang.

“Fakta lainnya, lansia di negara berkembang memiliki faktor risiko lebih besar karena dukungan yang kurang. Keluarga dan teman perlu memberi perhatian lebih, menjalin komunikasi secara rutin dari daring atau fisik,” terangnya.

Stigma Pandemik
Dari sederet persoalan ini, hal penting lainnya adalah dampak emosional yang disebabkan oleh stigma saat pandemik. Dirinya melihat, tidak sedikit pasien yang positif Covid-19 yang menolak pulang ke rumah karena tidak diterima oleh lingkungannya. Bahkan, hal ini tidak hanya terjadi pada pasien, tetapi juga keluarganya, hingga para petugas medis yang bekerja untuk menangani kasus Covid.

“Stigma timbul dari rasa takut dan kurangnya informasi. Stigma itu sendiri dapat berupa penolakan dan diskriminasi, berita tidak benar, hingga kekerasan fisik. Alhasil, dampak negatif yang timbukbaik fisik maupun mental. Misal, depresi, kecemasan, dan fobia,” tuturnya.

Agar gangguan emosional ini tidak menjadi masalah besar, dr Kristiana menyarankan untuk melakukan manajemen psikologis saat pandemik. Pertama yang dilakukan adalah bersikap tenang dan tidak panik. Kedua, selesksi informasi dari sumber terpercaya. Ketiga, berakivitas semaksimal mungkin di rumah, rutin berolahraga, dan berosialisasi virtual. Keempat, tidak perlu menyembunyikan perasaan saat merasa sedang tidak nyaman secara emosi, dan terakhir carilah bantuan medis jika membutuhkan.

Dalam kesempatan yang sama, dokter saraf dari Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Rocksy Fransisca mengatakan bahwa beberapa bulan terakhir, terjadi peningkatan pasien yang mengalami encephalitis dan meningitis yang dulu tidak terlalu sering dan gambarannya tidak klasik. Namun, ia menuturkan belum ada penelitian lebih jauh apabila persoalan tersebut disebabkan oleh virus corona.

“Beberapa kali mendapat kasus dengan kecurigaan terdapat suatu encephalitis, dan ditemukan gejala Covid-19. Dalam beberpa kasus tersebut kita sempat ambil liquor cerebrospialis (LCS) atau cairan otak, tapi dari dua kasus yang kita periksa negatif,” terangnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Akhir Pandemi Covid-19 di Indonesia Diprediksi Mundur Lagi hingga 27 Oktober

Sebelumnya SUTD memprediksi pandemi Covid-19 di Indonesia berakhir pada 5 September, lalu mundur ke 7 Oktober.

KESEHATAN | 8 Mei 2020

Lansia, Konsumsi Ini untuk Daya Tahan Tubuh yang Kuat

Bagi para lansia, meningkatkan kekebalan tubuh sangat penting agar tak mudah terserang penyakit.

KESEHATAN | 8 Mei 2020

Dokter Wuhan Sarankan Pasien Saraf Dites Covid-19

Penelitian menunjukkan bahwa gangguan neurology atau sistem saraf juga merupakan gejala umum pasien Covid-19.

KESEHATAN | 8 Mei 2020

Tahukah Anda? Alzheimer Bisa Dideteksi 20 Tahun Sebelumnya

Alzheimer adalah penyakit hilangnya daya ingat dan kemampuan berpikir otak manusia.

KESEHATAN | 8 Mei 2020

Komunitas Anak Indonesia Bersatu Lawan Covid-19

Aksi sosial dilakukan komunitas anak Indonesia dengan tajuk "Anak Indonesia Lawan Covid-19".

KESEHATAN | 7 Mei 2020

PSBB Tahap II Berakhir, Jumlah Kasus Positif Covid-19 di Jakarta Capai Angka 4.775

Dari jumlah 4.775 kasus positif Covid-19, terdapat sebanyak 718 orang dinyatakan telah sembuh dan sebanyak 430 orang telah meninggal dunia.

KESEHATAN | 7 Mei 2020

Pasien Covid-19 Perlu Pangan dengan Protein Tinggi

Pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 yang dirawat di rumah sakit perlu mengonsumsi protein dan kalori tinggi selama proses perawatan.

KESEHATAN | 7 Mei 2020

Pasien Positif Covid-19 Sembuh di Kota Bogor Menjadi 17 Orang

Jumlah kasus positif di Kota Bogor sebanyak 93 kasus dengan rincian 62 orang masih dalam penanganan medis, 14 orang meninggal dunia, dan 17 orang sembuh.

KESEHATAN | 7 Mei 2020

Usia Terbaik Deteksi Dini Kondisi Jantung

Pemeriksaan kondisi jantung setidaknya bisa membuat lebih sadar kesehatan dan kondisi tubuh

KESEHATAN | 6 Mei 2020

PUFF Sains Lab Manfaatkan Ekstrak Rempah Asli Indonesia

PUFF meluncurkan CovHerbal yang merupakan varian e-juice herbal yang terbuat dari ekstrak rempah asli Indonesia.

KESEHATAN | 6 Mei 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS