Tes Psikologi SIM Dianggap Bisa Turunkan Angka Pelanggaran dan Kecelakaan
INDEX

BISNIS-27 426.538 (11.39)   |   COMPOSITE 4842.76 (103.04)   |   DBX 923.5 (7.76)   |   I-GRADE 127.867 (3.45)   |   IDX30 404.318 (11.17)   |   IDX80 105.647 (2.92)   |   IDXBUMN20 263.312 (10.37)   |   IDXG30 113.239 (2.36)   |   IDXHIDIV20 361.834 (9.72)   |   IDXQ30 118.461 (3.18)   |   IDXSMC-COM 206.934 (3.31)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (5.97)   |   IDXV30 99.778 (3.02)   |   INFOBANK15 760.318 (27.06)   |   Investor33 353.585 (10.19)   |   ISSI 142.238 (2.46)   |   JII 514.346 (9.5)   |   JII70 174.038 (3.75)   |   KOMPAS100 945.162 (25.96)   |   LQ45 740.002 (20.32)   |   MBX 1338.07 (31.05)   |   MNC36 264.409 (7.18)   |   PEFINDO25 251.635 (8.18)   |   SMInfra18 228.656 (4.87)   |   SRI-KEHATI 297.818 (8.93)   |  

Tes Psikologi SIM Dianggap Bisa Turunkan Angka Pelanggaran dan Kecelakaan

Senin, 20 Juli 2020 | 12:09 WIB
Oleh : Bayu Marhaenjati / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerhati masalah transportasi Budiyanto menilai, tes psikologi dalam pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) penting dilakukan. Selain merupakan amanah undang-undang, tes psikologi juga merupakan suatu kebutuhan untuk menekan pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas.

"Kualitas konsentrasi manusia pada saat beraktivitas, termasuk saat mengendarai kendaraan bermotor dapat dilihat dari aspek-aspek psikoligis. Begitu pentingnya aspek psikologis untuk diketahui bagi pemohon SIM dengan cara memberlakukan persyaratan tes psikologis. Persyaratan tes psikologis itu selain merupakan amanah undang-undang juga merupakan suatu kebutuhan untuk menekan pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas," ujar Budiyanto, Senin (20/7/2020).

Dikatakan Budiyanto, kemampuan seseorang dalam mengemudikan kendaraan bermotor secara legalitas dapat dilihat dari golongan SIM yang dikantongi. Kemampuan yang dimiliki menjadi jaminan ketika mengendarai kendaraan bermotor di jalan. Pengendara harus paham tentang tata cara berlalu lintas yang benar atau mengetahui rambu-rambu agar tidak melakukan pelanggaran dan terhindar dari potensi risiko kecelakaan lalu lintas, termasuk memberikan jaminan keselamatan berlalu lintas bagi diri sendiri maupun pengguna jalan lain.

"Hasil analisa dan evaluasi bahwa setiap kejadian kecelakaan lalu lintas diawali dengan pelanggaran lalu lintas. Melaksanakan tata cara berlalu lintas yang benar berarti meniadakan pelanggaran lalu lintas dan sekaligus menghindari potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas," ungkapnya.

Budiyanto menyampaikan, kecelakaan lalu lintas di kota-kota besar, termasuk di Ibu Kota Jakarta, relatif masih cukup tinggi. Hal itu menggambarkan disiplin masyarakat pengguna jalan dalam menjalankan tata cara berlalu lintas belum maksimal.

"Tapi ini bisa kita maklumi karena kita dihadapkan pada masyarakat yang heterogen, memiliki latar belakang dan tipe (karakter) manusia yang berbeda," katanya.

Menurut Budiyanto, guna mengetahui tipe manusia dari aspek rohani seperti kemampuan konsentrasi, kecermatan, pengendalian diri, kemampuan menyesuikan diri, stabilitas emosi, dan ketahanan kerja, dapat dilihat dari sisi psikologisnya.

Berdasarkan Pasal 81 ayat 1 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, untuk mendapatkan SIM setiap orang harus memenuhi persyaratan antara lain adalah masalah kesehatan. Pada ayat 4 persyaratan kesehatan sebagaimana yang dimaksud meliputi:
a. Sehat jasmani dengan surat keterangan dari dokter.
b. Sehat rohani dengan surat lulus tes psikologis.

Persyaratan SIM juga diatur dalam Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 9 tahun 2012 tentang SIM:

1. Pasal 24 ayat 1, persyaratan pendaftaran SIM: usia, administrasi, kesehatan.

2. Pasal 34 ayat 1, persyaratan kesehatan sebagaimana dimaksud Pasal 34 huruf C meliputi:
a. Sehat jasmani.
b. Sehat rohani.

3. Pasal 36 ayat 1:
a. Kemampuan konsentrasi.
b. Kecermatan.
c. Pengendalian diri.
d. Kemampuan penyesuaian diri.
e. Stabilitas emosi.
F. Ketahanan kerja.

Budiyanto mengungkapkan, dalam tata cara berlalu lintas yang benar disebutkan, para pengemudi kendaraan bermotor harus berlaku wajar dan penuh konsentrasi yang diatur pada Pasal 106 ayat 1 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang LLAJ.

"Hal itu mengandung maksud untuk menciptakan etika berlalu lintas yang benar dan sekaligus dapat menghindari situasi yang berpotensi terjadinya kecelakaan lalu lintas. Diketahui, kurang konsentrasi atau human error sebagai salah satu penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas yang cukup tinggi," tandasnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Manulife Serahkan Rp 3,5 Miliar kepada Pekerja Medis

Manulife Indonesia mengajak nasabahnya ikut berpartisipasi membantu para pekerja medis mengatasi Covid-19 di Tanah Air.

NASIONAL | 20 Juli 2020

Pilkada Solo, Achmad Purnomo: Saya Tinggalkan Dunia Politik

‘’Kursi PKS hanya lima. Sedangkan semua partai sudah merapat ke PDIP. Jadi, tak mungkin memenuhi syarat mengusung calon,’’ tegas Achmad Purnomo.

NASIONAL | 20 Juli 2020

Ini Pesan Emrus Soal Ribut Internal DPR Terkait Kaburnya Djoko Tjandra

Kasus Djoko Tjandra merembet kemana-mana termasuk berdampak ke DPR. Terbaru, pimpinan DPR berkonflik dengan pimpinan Komisi III yang membidangi hukum.

NASIONAL | 20 Juli 2020

KPK Didesak Usut Kasus Dugaan Korupsi Lahan SMKN 7 di Tangsel

Audit investigatif tersebut merupakan permintaan dari KPK setelah menerima laporan dugaan korupsi dari warga.

NASIONAL | 20 Juli 2020

Sarung Tangan Kesehatan Gantikan Sarung Tangan Plastik Petugas Pemilu

Keruan saja sarung tangan petugas bernama Widji Purwaningsih itu menjadi perhatian Ganjar.

NASIONAL | 20 Juli 2020

Kecelakaan Maut di Subang Menewaskan Tiga Orang

Pengemudi mobil tewas di lokasi kejadian, sementara dua penumpang mobil tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.

NASIONAL | 20 Juli 2020

Terpidana Pembobol BPD Sulsel Diringkus

Buronan selama 10 tahun terpidana Abdul Makmur diciduk pada Ahad (19/7/2020) malam.

NASIONAL | 20 Juli 2020

Ketegasan Kabareskrim dalam Kasus Djoko Tjandra Perlu Diapresiasi

Segera tindak oknum anggota yang menyimpang atas tugas mulia Korps Bhayangkara.

NASIONAL | 20 Juli 2020

Pengamat: Aziz Syamsuddin Jangan Ikut "Melindungi" Djoko Tjandra

Jika ada aturan baru tidak boleh rapat di masa reses harus disampaikan kepada masyarakat. Jika tidak, maka alasan Azis Syamsuddin itu tidak kokoh.

NASIONAL | 20 Juli 2020

Misbakhun Tuding Menkeu Rendahkan STAN dan Alumninya

Ingat penobatan Sri Mulyani sebagai menkeu terbaik dunia juga karena sumbangsih dan kontribusi besar para alumni STAN yang menjadi anak buahnya.

NASIONAL | 20 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS