KLHK: Penataan Taman Nasional Komodo Dorong Kesejahteraan Masyarakat
INDEX

BISNIS-27 503.107 (8.47)   |   COMPOSITE 5679.25 (80.67)   |   DBX 1039.52 (14.71)   |   I-GRADE 166.189 (3.47)   |   IDX30 492.322 (9.09)   |   IDX80 129.082 (2.66)   |   IDXBUMN20 363.759 (7.86)   |   IDXG30 133.243 (2.59)   |   IDXHIDIV20 440.08 (10.13)   |   IDXQ30 143.762 (2.86)   |   IDXSMC-COM 242.127 (2.51)   |   IDXSMC-LIQ 293.644 (5.57)   |   IDXV30 123.61 (3.35)   |   INFOBANK15 979.67 (10.23)   |   Investor33 423.592 (6.88)   |   ISSI 165.745 (2.98)   |   JII 604.859 (14.26)   |   JII70 207.745 (4.44)   |   KOMPAS100 1155.02 (20.8)   |   LQ45 903.46 (17.32)   |   MBX 1578.72 (22.44)   |   MNC36 316.411 (5.51)   |   PEFINDO25 310.113 (3.58)   |   SMInfra18 286.549 (5.46)   |   SRI-KEHATI 362.507 (5.51)   |  

KLHK: Penataan Taman Nasional Komodo Dorong Kesejahteraan Masyarakat

Rabu, 28 Oktober 2020 | 20:10 WIB
Oleh : Ari Supriyanti Rikin / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Pembangunan dan penataan Loh Buaya di Taman Nasional (TN) Komodo diharapkan bisa mendongkrak pariwisata berkelas dunia sekaligus meningkatkan kesejahteraan penduduk di sejumlah desa yang berdekatan dengan TN Komodo.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan, penataan sarana prasana (sarpras) dilakukan di lokasi lama dan bukan di lokasi baru. Dalam penataannya pun mengikuti kaidah konservasi.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Wiratno mengatakan, lokasi penataan berada di zona pemanfaatan seluas 1 hektare (ha) dari total luas Loh Buaya 500 ha.

"Walaupun persentasenya kecil tetap memastikan bahwa komodo tidak boleh menjadi korban pembangunan," katanya dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Rabu (28/10/2020).

Ia menjelaskan, zona pemanfaatan adalah zona yang bisa diberikan akses kelola wisata termasuk atraksi melihat komodo dan pembangunan sarpras.

Zona pemanfaatan awalnya hanya 824 ha atau 0,4 persen dari luas seluruh TN Komodo yang mencapai 173.300 ha. Loh Buaya termasuk zona pemanfaatan. Loh Buaya dan Loh Liang di Pulau Rinca merupakan tempat di mana pengunjung bisa melihat komodo.

"Di zona pemanfaatan kita bisa lihat komodo, satwa relatif tidak kuat pendengaran tapi penciuman kuat," ucapnya.

Penataan yang ditargetkan rampung pertengahan tahun 2021 ini dilakukan di sejumlah sarpras seperti eksisting dermaga yang akan dibangun dermaga baru dengan model seperti lidah komodo. Sehingga akan banyak kapal bersandar dengan aman.

Kemudian pembangunan pengamanan pantai, elevate deck, pusat informasi, pondok ranger atau peneliti dan pondok pemandu. Semuanya di lokasi sarpras yang sama yang dulu sudah ada dibongkar dan akan dibangun kembali.

Nantinya lanjut Wiratno, para pengunjung akan melihat komodo dari atas tidak boleh bersentuhan langsung dengan komodo seperti saat ini seperti halnya wisata alam di luar negara tidak bersentuhan langsung dengan satwa.

Oleh karena itu dalam pembangunannya pun meminimalkan dampak pada komodo. Desain sarpras juga memakai konsep dari arsitek lokal.

Perihal foto yang banyak beredar di sosial media di mana ada komodo yang seolah menghadang truk, Wiratno menjelaskan, di Loh Buaya ada 15 dari 66 ekor komodo yang terbiasa melintas dan tidak menjauh ketika melihat pengunjung.

Setiap hari pun ranger mengecek agar tidak ada komodo yang berada di kolong truk dan di bawah puing-puing bangunan. Hal ini untuk mencegah kecelakaan pekerja dan juga kecelakaan terhadap komodo.

Kelak ketika sudah rampung, pengunjung tidak hanya bisa melihat komodo tetapi juga mengetahui sejarah alam komodo yang terpusat di satu bangunan.

Penataan yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang kini sudah mencapai 30% juga dilakukan karena banyak sarpras saat ini yang kondisinya rusak.

Bahkan, selain ada izin lingkungan untuk penataan, KLHK pun sudah berkirim surat ke Unesco terkait hal itu karena TN Komodo bagian dari world heritage.

Penataan lanjutnya didasari pada kajian ilmiah dan bukan sekadar asumsi yang berkembang di mata publik. Bahkan akhir pekan ini, ia akan meninjau langsung ke lapangan untuk melihat proses penataan.

Nantinya, masyarakat sekitar akan dijadikan pelaku utama dengan konsep ekowisata di TN Komodo.

"Masyarakat kampung-kampung sekitar juga perlu dilibatkan dalam pengembangannya. Masyarakat jadi pelaku utama yang khas di TN Komodo," imbuhnya.

Bahkan tambahnya, tiket untuk wisatawan mancanegara yang hanya Rp 150.000 terlalu murah, karena untuk berkeliling dengan kapal bisa mencapai puluhan juta. Jadi TN Komodo akan sangat penting untuk kepentingan bersama.

Tahun 2013, penerimaan negara bukan pajak dari TN Komodo mencapai Rp 4,4 miliar yang mampu menggerakkan ekonomi hampir Rp 270 miliar di Kabupaten Manggarai Barat. Sedangkan di tahun 2016 PNBP yang masuk ke kas negara mencapai Rp 22,8 miliar dan menggerakan ekonomi hampir Rp 1,5 triliun.

TN Komodo ditetapkan menjadi warisan dunia tahun 1991 oleh Unesco. TN Komodo memiliki luas 173.300 ha, terdiri dari 58.449 ha (33,76%) daratan dan 114.801 ha (66,24%) perairan. Dari luas tersebut, ditetapkan zona pemanfaatan wisata daratan 824 ha (0,4%) dan zona pemanfaatan wisata bahari 1.584 ha (0,95%).

Total jumlah biawak komodo pada 2018 sebanyak 2.897 individu dan pada tahun 2019 bertambah menjadi 3.022 individu atau bertambah 125 individu. Konsentrasi populasinya berada di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Hanya sebanyak 7 individu di Pulau Padar, 69 individu di Gili Motang, dan 91 individu di Nusa Kode.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Masalah Penanganan Kota Palu Pascabencana Warnai Debat Pemilihan Wali Kota

“Saya dan Wahyudin akan menyelesaikan masalah-masalah paska bencana yang sudah berlarut-larut ini dalam waktu 6 bulan.” tegas Aristan.

NASIONAL | 28 Oktober 2020

Sebelum Beri Izin Edar, BPOM Pastikan Vaksin Covid-19 Aman

BPOM memastikan vaksin Covid-19 benar-benar aman, berkhasiat dan bermutu sebelum memberikan izin edar untuk penggunaan produk itu.

NASIONAL | 28 Oktober 2020

Gubernur Sumut Ingatkan Warga Patuhi Protokol Kesehatan saat Peringati Maulid Nabi

Gubernur Sumut mengingatkan dalam melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan masing-masing tetap memperhatikan protokol kesehatan.

NASIONAL | 28 Oktober 2020

Sragen Buka Layanan dan Perlindungan Anak Berstatus Rentan

“Maka saya berharap PKSAI ini tidak hanya sekedar launching lalu selesai, tapi inilah awal pekerjaan kita. Ini awal kita untuk berkarir,” tukas Dedy.

NASIONAL | 28 Oktober 2020

Kemhub: Operator Hingga Penumpang Wajib Patuhi Protokol Kesehatan

Kementerian Perhubungan (Kemhub) memastikan penerapan protokol kesehatan di sarana dan prasarana transportasi untuk mencegah penyebaran Covid-19.

NASIONAL | 28 Oktober 2020

Sentra Gakumdu Tangani 50 Perkara

Perkara yang paling banyak ditangani adalah dugaan menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon kepala daerah.

NASIONAL | 28 Oktober 2020

Siegwerk Indonesia Bantu Perangkat PJJ untuk 1.306 Anak Dampingan SOS Children's Villages

Ratusan keluarga tersebut yang berasal dari 10 komunitas di provinsi DIY menerima bantuan berupa pengadaan infrastruktur teknologi dari Siegwerk Indonesia.

NASIONAL | 28 Oktober 2020

Pendekatan Ekosistem Dukung Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan

Sebagai negara penghasil perikanan tangkap terbesar kedua di dunia, Indonesia berpotensi menjadi produsen perikanan laut kelas dunia dan berkelanjutan.

NASIONAL | 28 Oktober 2020

Rusunawa di Gorontalo Siap Diserahterimakan

Kempupera tengah mempersiapkan proses serah terima aset Rumah Susun Sewa (Rusunawa) untuk masyarakat berpenghasilan rendah kepada Pemerintah Kota Gorontalo.

NASIONAL | 28 Oktober 2020

Mendikbud: Mahasiswa Tetap Lakukan Pengabdian Masyarakat di Masa Pandemi

Sejak bulan April tak kurang dari 15.000 mahasiswa terjun sebagai relawan untuk memitigasi pandemi melalui program Relawan Covid Nasional.

NASIONAL | 28 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS