20,5% Penduduk Indonesia Tidak Memiliki Rumah
INDEX

BISNIS-27 509.396 (-2.72)   |   COMPOSITE 5822.94 (-12.46)   |   DBX 1088.19 (9.8)   |   I-GRADE 169.852 (-1.35)   |   IDX30 498.88 (-2.76)   |   IDX80 132.065 (-0.41)   |   IDXBUMN20 376.263 (-3.13)   |   IDXG30 135.508 (-0.99)   |   IDXHIDIV20 449.517 (-1.84)   |   IDXQ30 145.713 (-1.14)   |   IDXSMC-COM 252.052 (0.88)   |   IDXSMC-LIQ 309.347 (0.24)   |   IDXV30 130.911 (1.46)   |   INFOBANK15 993.498 (-9.24)   |   Investor33 428.541 (-2.51)   |   ISSI 170.173 (-0.26)   |   JII 616.286 (-0.48)   |   JII70 212.951 (-0.33)   |   KOMPAS100 1185.6 (-4.97)   |   LQ45 921.176 (-4.93)   |   MBX 1613.76 (-6.11)   |   MNC36 320.851 (-1.83)   |   PEFINDO25 318.369 (-4.14)   |   SMInfra18 296.861 (-1.08)   |   SRI-KEHATI 366.856 (-2.5)   |  

20,5% Penduduk Indonesia Tidak Memiliki Rumah

Sabtu, 6 September 2014 | 21:29 WIB
Oleh : EDO / FER

Jakarta - Deputi Rumah Transisi Jokowi-Jusuf Kalla, Akbar Faisal, mengatakan, saat ini sebanyak 20,5 persen penduduk Indonesia tidak memiliki rumah. Mereka yang memiliki rumah sebanyak 79,5 persen dari sekitar 251 juta penduduk Indonesia.

"Data itu dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia yang kami akan jadikan basis kebijakan pembangunan rumah rakyat berbasis demografi," tutur dia di Jakarta, baru-baru ini.

Boleh jadi sebanyak 50 juta penduduk Indonesia belum memiliki rumah. Apalagi, angka backlog juga cukup tinggi, yakni sudah menyentuh angka sekitar 15 juta unit. Artinya, pasokan rumah, khususnya bagi MBR mesti terus ditingkatkan demi memenuhi kebutuhan utama masyarakat, yakni kebutuhan papan, selain kebutuhan pangan dan sandang.

"Kehadiran pemerintah dalam sektor perumahan ini sangat penting bagi kelanjutan masa depan perumahan rakyat melalui industrialisasi perumahan publik," kata pengamat perumahan rakyat dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Jehansyah Siregar.

Guna mengatasi permasalahan masih banyaknya masyarakat yang belum memiliki rumah, terutama untuk sektor MBR, kata dia, perlu ada langkah besar dengan melakukan revolusi sektor perumahan. Dengan begitu, katanya, pembangunan yang dilakukan di sektor perumahan akan menjadi lebih tepat sasaran.

Dia mempertegas, dengan kehadiran negara dalam hal perumahan, pemerintah seharusnya dapat memproduksi 2,5 juta rumah dalam lima tahun. Artinya, setiap tahun pemerintah bisa mencetak 500 ribu unit rumah bagi MBR.

"Saya kira jumlah tersebut bukan hal mustahil dan pemerintah harus bisa mengupayakan penguasaan dan pemanfaatan lahan yang ada saat ini," kata dia.

Terlebih, kata Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) Sri Hartoyo, dalam 20 tahun ke depan, kebutuhan rumah di Indonesia mencapai 31 juta unit. Tingginya kebutuhan tersebut membutuhkan lahan dalam jumlah besar.

"Kebutuhan perumahan di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) dalam 20 tahun ke depan ditambah dengan backlog yang sekarang, mencapai 31 juta unit," ujar dia.

Menurut dia, sebanyak 18,4 juta rumah membutuhkan lahan seluas 170 ribu hektare. Kebutuhan lahan yang besar tersebut, tentu saja, memerlukan biaya yang juga besar.

Guna memangkas kebutuhan itu, menurut Sri Hartoyo, pembangunan hunian vertikal harus dioptimalkan. Sebuah rumah susun, dengan ketinggian 24 lantai, serta luasan per unitnya 36 meter persegi, hanya membutuhkan lahan 39 ribu hektare.

Kelangkaan dan mahalnya tanah di perkotaan, lanjut dia, hingga kini masih menjadi kendala serius. Oleh karenanya, MBR akhirnya memilih tinggal di pinggiran kota, dimana harga bangunan dan tanahnya lebih terjangkau.

Akibatnya masyarakat menjadi kurang produktif dan harus mengeluarkan biaya lebih untuk menjangkau tempat kerja yang jauh dari tempat tinggal.

"Pembangunan rumah susun hak milik (rusunami) bisa menjadi jalan keluar dari persoalan tersebut," katanya.

Sumber: Investor Daily


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS