Melemahnya Industri Pengolahan Jadi Penyumbang Defisit Dagang April
INDEX

BISNIS-27 503.122 (7.61)   |   COMPOSITE 5724.74 (89.25)   |   DBX 1066.46 (9.81)   |   I-GRADE 166.255 (3.05)   |   IDX30 491.004 (8.8)   |   IDX80 129.735 (2.65)   |   IDXBUMN20 364.991 (9.26)   |   IDXG30 133.352 (2.1)   |   IDXHIDIV20 441.973 (8.53)   |   IDXQ30 143.512 (2.54)   |   IDXSMC-COM 247.38 (3.5)   |   IDXSMC-LIQ 301.054 (8.02)   |   IDXV30 127.096 (4)   |   INFOBANK15 976.214 (12.27)   |   Investor33 422.656 (6.59)   |   ISSI 167.54 (3)   |   JII 607.336 (12.69)   |   JII70 209.626 (4.39)   |   KOMPAS100 1162.4 (23.4)   |   LQ45 904.834 (17.52)   |   MBX 1587.29 (26.24)   |   MNC36 315.598 (5.98)   |   PEFINDO25 317.232 (4.1)   |   SMInfra18 287.626 (7.78)   |   SRI-KEHATI 361.444 (5.7)   |  

Melemahnya Industri Pengolahan Jadi Penyumbang Defisit Dagang April

Jumat, 17 Mei 2019 | 17:01 WIB
Oleh : Ridho Syukro / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Turunnya ekspor produk industri pengolahan menjadi pemicu defisit neraca perdagangan yang mencapai US$ 2,5 miliar April lalu. Pasalnya, pertumbuhan negatif dari industri pengolahan berkontribusi besar dalam menurunkan nilai ekspor pada April hingga 13,10 persen secara year on year (YoY).

Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Yunita Rusanti, mengatakan nilai ekspor industri pengolahan mengalami penurunan yang cukup dalam pada April. Secara year on year nilainya turun 11,82 persen dan membuat pertumbuhan ekspor secara keseluruhan sulit terangkat dan tercatat negatif hingga 13,10 persen.

"Ekspor turun dan sulit diangkat karena industri pengolahan juga turun," ujar Yunita dalam siaran persnya yang diterima Beritastau.com, Jumat (17/5/2019).

Ekspor industri pengolahan merupakan kontributor terbesar yang membentuk total nilai ekspor Indonesia. Porsinya pada April mencapai 74 pesen dari total ekspor, nilainya mencapai US$ 9,42 miliar. Perhiasan menjadi produk industri yang mengalami penurunan ekspor paling tajam dimana BPS mencatat nilai ekspor perhiasan turun hingga US$ 339 juta.

Yunita menjelaskan, impor sebenarnya tidak tumbuh signifikan bahkan jika dibandingkan nilainya secara tahunan mengalami penurunan. Tercatat impor secara tahunan turun 7,24 persen, dari posisinya di angka US$ 60 miiar pada periode Januari-April 2018 menjadi US$ 55 milar pada periode yang sama tahun ini.

Sebagaian besar impor pun berupa bahan baku dan penolong sebesar 75 persen, sementara itu besaran nilai bahan modal mencapai 16 persen dari total impor. Baru kemudian ada kontribusi barang konsumsi 8,61 persen, kontribusi impor barang konsumsi ini turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 9 persen.

"BPS mencatat adanya perlambatan produksi industri besar dan sedang pada kuartal I dimana tingkat pertumbuhan hanya 4 persen," kata Yunita.

Melambatnya pertumbuhan industri pengolahan dinilai memiliki pengaruh yang besar terhadap kinerja ekspor nasional. Masalahnya kebijakan industri hingga kini tidak mengalami perubahan berarti.

Ekonom Universitas Brawijaya, Candra Fajri Ananda, mengatakan, saat ini sulit menemukan industri baru yang bisa berkembang. Dampak dari kebijakan industri nasional sudah mengarah pada kebijakan subtitusi impor.

"Kebijakan tersebut sudah tidak cocok dengan kebutuhan Indonesia saat ini. Indonesia seharusnya bisa menjadi bagian dari industri dunia," kata Candra.

Meski daya saing nasional dikatakan sempat meningkat, Candra menilai, keterbatasan pasar turut memperparah lesunya kinerja ekpor ini.

"Makanya kemarin Kementerian Perdagangan melakukan kerja sama dengan beberapa negara di Amerika Latin jadi memperluas ekspansi pasar, harapannya mungkin itu," pungkas Candra.



Sumber:Investor Daily


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

April 2019, Penjualan Mobil Honda Naik 43%

Sepanjang bulan Mei 2019, Honda menawarkan program “Semarak Mudik bersama Honda” bagi konsumen yang melakukan pembelian mobil Honda Mobilio dan Honda BR-V.

EKONOMI | 17 Mei 2019

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 14.450 Per Dolar AS

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 14.450-Rp 14.465 per dolar AS.

EKONOMI | 17 Mei 2019

IHSG Ditutup Turun 1,17% ke 5.826 Poin

Sebanyak 173 saham menguat, 277 saham melemah, dan 120 saham stagnan.

EKONOMI | 17 Mei 2019

Darmin: Investasi Berbasis Ekspor Atasi Defisit Neraca Perdagangan

Kinerja perdagangan nasional saat ini terdampak oleh ketidakpastian global.

EKONOMI | 17 Mei 2019

Anggota Ombudsman Nilai Maskapai Akan Rugi dengan TBA Baru

Menurut Alvin, dalam menentukan besaran tarif, Kemhub harus memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders dan bukan hanya mendengarkan keluhan konsumen.

EKONOMI | 17 Mei 2019

Generasi Milenial Topang Penerapan Ekonomi Digital

Kemperin dorong peningkatan SDM dalam era digital.

EKONOMI | 17 Mei 2019

Modernland Realty Raih Penghargaan di Bidang SDM

IHCA merupakan penghargaan tertinggi di bidang human capital yang diberikan kepada perusahaan terbaik di Indonesia.

EKONOMI | 17 Mei 2019

Bursa Asia Siang ini Bervariasi

Kospi di Korea Selatan melemah 11,52 (0,54 persen) mencapai 2.056.

EKONOMI | 17 Mei 2019

Siang Ini, Rupiah Melemah Sejalan Mata Uang Asia

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 14.460-Rp 14.465 per dolar AS.

EKONOMI | 17 Mei 2019

Sesi I, IHSG Melemah 24 Poin ke 5.871

Sebanyak 157 saham naik, 215 saham melemah dan 140 saham stagnan.

EKONOMI | 17 Mei 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS