PTPN XII Rambah Bisnis Sapi Perah
INDEX

BISNIS-27 426.538 (11.39)   |   COMPOSITE 4842.76 (103.04)   |   DBX 923.5 (7.76)   |   I-GRADE 127.867 (3.45)   |   IDX30 404.318 (11.17)   |   IDX80 105.647 (2.92)   |   IDXBUMN20 263.312 (10.37)   |   IDXG30 113.239 (2.36)   |   IDXHIDIV20 361.834 (9.72)   |   IDXQ30 118.461 (3.18)   |   IDXSMC-COM 206.934 (3.31)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (5.97)   |   IDXV30 99.778 (3.02)   |   INFOBANK15 760.318 (27.06)   |   Investor33 353.585 (10.19)   |   ISSI 142.238 (2.46)   |   JII 514.346 (9.5)   |   JII70 174.038 (3.75)   |   KOMPAS100 945.162 (25.96)   |   LQ45 740.002 (20.32)   |   MBX 1338.07 (31.05)   |   MNC36 264.409 (7.18)   |   PEFINDO25 251.635 (8.18)   |   SMInfra18 228.656 (4.87)   |   SRI-KEHATI 297.818 (8.93)   |  

PTPN XII Rambah Bisnis Sapi Perah

Jumat, 31 Mei 2019 | 16:06 WIB
Oleh : Amrozi Amenan / FER

Surabaya, Beritasatu.com - PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII) segera merambah bisnis peternakan sapi perah dan pakan ternak. Ceruk baru ini kini sedang disiapkan dan ditargetkan sudah mulai berjalan pada semester kedua 2019.
Bisnis baru ini juga merupakan batu loncatan untuk masuk bisnis turunan lainnya seperti sapi potong, susu segar, keju, dan pupuk organik untuk menambah pundi-pundi pendapatan PTPN XII disamping bisnis komoditas sekarang (kopi, kakao dan karet), pabrik gula.

 Direktur Utama PTPN XII, M. Cholidi

Baca Juga: PTPN Group Area Jatim Berangkatkan 800 Pemudik

Direktur Utama PTPN XII, M Cholidi mengatakan, masuk di dua ceruk baru karena PTPN XII memiliki potensi yang besar. Sumber mata air yang cukup, lahan perkebunan yang luas dan tersebar di Jember, Banyuwangi dan Malang dengan ketinggian tertentu serta iklim yang cocok untuk peternakan sapi dan budidaya tanaman pakan ternak.

Hasil kajian internal perusahaan juga memperkuat keputusan masuknya di ceruk baru itu. Peluang bisnisnya cukup menjanjikan. Pasalnya, saat ini sebagian besar pasokan daging sapi dan susu segar dalam negeri masih diimpor, bahkan untuk susu segar kandungan impornya masih 70 persen. Lagi pula, kebutuhan daging dan susu segar dalam negeri juga diprediksi masih akan terus tumbuh, sehingga masih diperlukan penambahan pasokan daging sapi dan susu segar di dalam negeri.

"Potensinya memang sangat bagus dan balik modalnya juga pendek, hanya dalam jangka lima tahun," kata Cholidi, di Surabaya, Jumat (30/5/2019).

Dukungan untuk masuk di ceruk baru ini juga datang dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Peternakan Kementerian Pertanian (Kemtan) karena untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu dalam negeri. "Jadi pengembangan bisnis peternakan sapi perah ini juga bertujuan untuk mendukung program pemerintah dalam hal ketahanan pangan nasional," imbuh Cholidi.

Cholidi menjelaskan, sapi perah ini akan didatangkan secara bertahap, tahap awal 500 ekor dan tahap berikutnya 1.000 ekor hingga 1.500 ekor. Sapi-sapi itu akan didatangkan dari Australia atau Selandia Baru secara bertahap pula, dimana setiap kali pengiriman sebanyak 250 ekor.

"Untuk investasinya kita menghitung untuk per 2.000 ekor sebesar Rp 181 miliar. Kita berharap di semester II tahun ini bisnis sapi perah ini sudah jalan," jelas Cholidi.

Segala persiapan untuk ceruk baru ini sedang dikebut. Sambil menunggu kedatangan sapi perah, karena peternakan sapi perah membutuhkan kesiapan pakan ternak, maka yang lebih dulu disiapkan saat ini adalah lahan untuk tanaman pakan ternak yang lokasinya di perkebunan di Jember. Sehingga nantinya saat sapi perah sudah didatangkan dalam tiga bulan kedepan, pakan ternak sudah cukup tersedia.

Kebutuhan lahan untuk ditanami tanaman pakan diperkirakan mencapai 90 hektar hingga 100 hektar. Hal itu didasarkan pada perhitungan satu ekor sapi membutuhkan pakan sekurangnya 30 kilogram setiap hari. Sementara satu hektar lahan itu diperkirakan akan menghasilkan tanaman jagung sebanyak 30 ton.

"Kita buat paling rendah saja, dalam sehari satu hektar itu bisa memberi makan 1.500 ekor. Jika siklus menaman tiga bulan, berarti kebutuhan arealnya yang harus disiapkan untuk 1.500 ekor itu seluas 90 hektar hingga 100 hektar. Nanti lahan yang kita siapkan juga bertahap karena pengiriman sapi perah juga bertahap," terang Cholidi.

Untuk mempersiapkan tanaman pakan ternak ini, PTPN XII juga berkoordinasi dengan Dirjen Peternakan Kementan tentang ketersediaan bibit tanaman ternak dengan variatas unggul yang cocok dan siap dikembangkan. Karena nantinya, selain untuk memenuhi kebutuhan peternakan sendiri, usaha tanaman pakan ternak ini juga diproyeksikan bisa memenuhi kebutuhan peternakan di dalam negeri, bahkan untuk kebutuhan eskpor karena harganya juga menarik.

Untuk pasar ekspor itu, PTPN XII juga bisa memaksimalkan pucuk tebu sebagai bahan baku pakan ternak karena banyak negara yang membutuhkan. Selama ini pucuk tebu hanya berhenti sebagai bahan organik yang nilai tambahnya sangat kecil.

"Dengan demikian, dua-duanya bisa kita jalankan bersama-sama baik peternakan sapi perah atau tanaman pakan ternak ini,” terang Cholidi.

Cholidi menambahkan, bisnis sapi perah memberi peluang berkembangnya bisnis turunan lainnya dan itu pula yang menjadi memilih bisnis tersebut. Dari sapi perah itu nanti akan dihasilkan susu dan keju. Lalu, pedet (anak sapi) yang jantan atau indukan betina yang sudah melewati masa produksi juga bisa digunakan untuk sapi potong.

Belum lagi, kotoran yang dihasilkan juga bisa dimanfaatkan untuk bahan pupuk organik yang sangat dibutuhkan untuk tanaman perkebunan karena sifat alaminya . Ketersediaan bahan baku pupuk organik ini nantinya juga akan membuka jalan bagi PTPN XII untuk membangun pabrik pupuk organik untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan juga kebutuhan di dalam negeri.

"Jadi banyak yang bisa kita wujudkan dari ceruk baru ini dan kita membuka peluang kerja sama dengan investor," pungkas Cholidi.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


BERITA LAINNYA

Pelabuhan Marunda Dapat Menopang Pelayanan di Tanjung Priok

Pemerintah dinilai terlalu fokus kepada pembangunan infrastruktur jalan tol sehingga melupakan poros maritim.

EKONOMI | 31 Mei 2019

Raup US$ 200 Juta, EV Growth Lampaui Target Penggalangan Dana Investasi

EV Growth menutup penggalangan dana untuk dana investasi pertama mereka senilai US$200 juta, melebihi target awal US$ 150 juta.

EKONOMI | 31 Mei 2019

S&P Naikkan Peringkat Surat Utang RI Menyusul Terpilihnya Kembali Jokowi

Peringkat surat utang Indonesia naik menjadi BBB (setingkat di atas investment grade).

EKONOMI | 31 Mei 2019

Pertamina Bukukan Laba 2018 US$ 2,53 Miliar

Laba bersih Pertamina sebesar US$ 2,53 miliar pada tahun lalu, turun tipis dibandingkan realisasi pada 2017 yang tercatat US$ 2,54 miliar.

EKONOMI | 31 Mei 2019

Daan Mogot City Gelar Bincang Business Forum of Real Estate Development

Pengembang proyek Apartemen Daan Mogot City PT China Harbour Jakarta Real Estate Development gelar "Business Forum of Real Estate Development In Indonesia".

EKONOMI | 31 Mei 2019

Sesi I, IHSG Menguat ke 6.160

IHSG menguat 0,9 persen (55,96 poin) ke kisaran 6.160,07.

EKONOMI | 31 Mei 2019

Rupiah Terus Menguat ke Rp 14.378

Rupiah berada di level Rp 14.378 per dolar AS atau terapresiasi 32 poin (0,22 persen).

EKONOMI | 31 Mei 2019

Kebijakan Pertamina Beri Cash Back Diapresiasi

Para pemudik tak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar selama di perjalanan, sehingga keamanan dan kenyamanan bertransaksi lebih terjamin.

EKONOMI | 31 Mei 2019

Pagi Ini, Rupiah Terapresiasi 30 Poin

Rupiah berada di level Rp 14.380 per dolar AS atau terapresiasi 30 poin (0,21 persen).

EKONOMI | 31 Mei 2019

IHSG Dibuka Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,6 persen (38,59 poin) ke kisaran 6.142,7.

EKONOMI | 31 Mei 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS